Bioskop Jogja, dari Empire 21, Empire XXI, hingga Ambarrukmo XXI

0
28740

Mungkin tidak banyak kawula muda Jogja kini yang tahu jika di lokasi bangunan Empire XXI dulunya pernah berdiri bangunan bioskop Empire 21. Saat ini di Kota Jogja terdapat empat bioskop besar namun jika kita kembali ke era silam, sebenarnya jumlahnya sangat banyak. Sejak dekade 60-an hingga 70-an di Jogja telah berdiri bioskop-bioskop ternama, sebut saja Permata (Pakualaman), Indra (depan Pasar Beringharjo), Senopati (sekarang Taman Pintar), Rahayu (Jl. Solo), Ratih (Jl. Mangkubumi), Soboharsono (Alun-alun Utara), Arjuna (Samsat), dan lain-lainnya. Pada dekade 80-an di Jogja mulai dibangun bioskop-bioskop besar yang menggunakan fasilitas pendingin ruangan serta tata suara mutakhir, seperti bioskop Mataram (selatan Jembatan Lempuyangan), President (sekarang Hotel Novotel), Regent (sebelah barat Empire XXI), Mitra, (Jl. Solo), hingga Galaxy (Jl. Magelang). Bioskop Regent tercatat sebagai cineplex pertama di Jogja yang memiliki 4 buah teater.

Perkembangan bioskop di Kota Jogja mulai berubah ketika di awal 90-an jaringan bioskop 21 masuk, yakni Empire 21. Bioskop ini tercatat sebagai bioskop jaringan 21 pertama di Jogja yang memiliki total 8 teater. Melalui konsep yang lebih modern, jumlah teater yang banyak, tata suara yang oke, serta memutar film-film yang relatif baru, Empire 21 dalam waktu singkat menjadi tempat menonton kawula muda Jogja paling populer selama hampir satu dekade ke depan. Bioskop ini pada masanya juga mematok harga tiket paling mahal yakni, sekitar 4000 perak! Dalam perkembangannya beberapa bioskop lama pun diambil-alih oleh jaringan bioskop 21, seperti Regent, Ratih, dan Galaxy setelah merenovasi bangunan fisik mereka. Sekalipun terdapat tiga bioskop baru tersebut namun tetap saja Empire 21 adalah tempat menonton yang paling diminati pada saat itu. Bioskop Mataram pada era ini juga menjadi satu-satunya bioskop non 21 yang memutar film-film relatif baru. Sementara bioskop-bioskop lawas seperti Permata, Indra, Senopati, Widya, dan lainnya jelas kalah bersaing dan lebih memilih memutar film-film kelas dua atau film-film lama. Beberapa di antara bioskop-bioskop lawas tersebut bahkan juga banyak yang menutup usahanya.

Bicara soal film-film yang diputar, di awal 90-an bioskop-bioskop Jogja sedikit terlambat (selisih beberapa minggu) dalam merilis film-film baru dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya seperti Jakarta dan Surabaya. Namun sejak tahun 1996 hingga tahun 1998 (sebelum krisis moneter) bioskop-bioskop di Jogja mencapai puncak kejayaannya dengan merilis film-film baru yang sama waktu rilisnya dengan bioskop di kota-kota besar lainnya, sebut saja film-film laris macam The Lost World, The Independence Day, hingga Titanic. Hampir setiap malam bioskop-bioskop tersebut nyaris tidak pernah sepi penonton. Midnight Show (tengah malam) di akhir pekan menjadi favorit kawula muda karena pada waktu pemutaran inilah film-film baru biasanya pertama kali diputar. Tradisi Old & New (malam tahun baru) juga selalu ramai penonton karena bioskop biasanya memutar film-film baru hingga dua pemutaran sekaligus.

Krisis moneter pada tahun 1997 berdampak besar bagi perkembangan bioskop-bioskop di Jogja. Film-film baru pun mulai jarang diputar. Akibatnya, penonton mulai sepi dan lebih memilih menonton VCD bajakan yang saat itu mulai marak. Satu demi satu bioskop-bioskop di Jogja mulai rontok. Bioskop-bioskop 21 seperti Regent, Ratih, dan Galaxy hanya bertahan beberapa tahun sebelum akhirnya menutup usaha, kecuali Regent yang terbakar. Bioskop-bioskop kelas dua, seperti Widya, Rahayu, dan Senopati pun akhirnya tutup. Empire 21 masih mampu bertahan dengan strategi merilis ulang film-film lama namun akhirnya bangunan bioskop ini pun terbakar pada tahun 1999 dan dibongkar rata dengan tanah. Bioskop Mataram setelahnya menjadi satu-satunya bioskop kelas satu di Jogja yang mampu bertahan hingga dekade mendatang.

11025201_10153146183463557_2848153597288433927_n
Bioskop Mataram Jogja

Setelah tidak adanya Empire 21, praktis anak-anak muda Jogja kehilangan tempat menonton yang memadai. Boleh dibilang kegiatan menonton di Kota Jogja “mati suri” selama lebih dari separuh dekade. Bioskop Mataram tidak pernah lagi merilis film-film baru, namun di awal milenium baru, sukses gila-gilaan dicapai melalui film-film produksi dalam negeri yang akhirnya bangun dari tidur panjangnya. Film-film fenomenal seperti Jelangkung dan Ada Apa dengan Cinta selama beberapa bulan mampu menyedot ribuan penonton seolah tanpa henti masuk ke bioskop ini. Sayangnya, sukses film-film ini tidak diikuti dengan pengembangan dan peningkatan sarana dan fasilitas bioskop ini, seperti tata suara (masih stereo), bangku penonton, proyektor, dan lainnya sehingga menjadikan bioskop ini layaknya bioskop kelas dua. Walaupun begitu setiap kali film-film Indonesia diputar, tetap saja bioskop ini nyaris selalu dibanjiri penonton. Bioskop Mataram baru pada tahun 2008 lalu berhenti beroperasi akibat bencana angin puting beliung yang merusak bangunan utamanya. Sementara bioskop-bioskop kelas dua lainnya, seperti Permata dan Indra, praktis tidak mampu bersaing namun masih sempat bertahan selama beberapa waktu hingga akhirnya berhenti beroperasi.

11209774_10153146183828557_3787162198406204917_n
Studio 21 Ambarukmo Plaza atau Amplaz

Kondisi mulai berubah ketika bioskop Studio 21 di Ambarukmo Plaza akhirnya dibuka pada tahun 2006. Bioskop cineplex yang terletak di lantai paling atas ini memiliki lima teater dengan kapasitas penonton yang cukup besar. Meskipun tata suara hanya standar Dolby Digital, namun tergolong lumayan ketimbang tidak sama sekali. Film-film baru baik barat maupun lokal yang diputar pun relatif sama waktu rilisnya dengan kota-kota besar lainnya. Uniknya pada masa ini, film-film lokal rupanya lebih banyak diminati ketimbang film-film barat. Penonton era lama satu dekade lalu, bisa jadi kini hanya tersisa beberapa persen saja. Penonton kini didominasi oleh anak-anak remaja yang tumbuh di saat film-film kita tengah panas-panasnya. Tak heran jika remaja dan mahasiswa Jogja lebih mengandrungi film-film kita ketimbang film-film barat. Satu hal yang positif tentunya bagi perkembangan industri film Indonesia pada saat ini.

Baca Juga  7 Film Musik Tentang Kaum Hipster
1972317_10153146183948557_8978548324055573014_n
Empire XXI

Pada awal tahun 2009 ini, satu bioskop lagi dibuka di Jogja, yakni Empire XXI yang dibangun di lokasi yang sama dengan Empire 21. Bentuk massa bangunannya pun nyaris sama dengan bangunan Empire 21 dulu. Seluruh bangunan kali ini sepenuhnya diperuntukkan untuk bioskop, tidak seperti bangunan Empire 21 pada waktu itu yang merupakan bangunan berlantai dua, yakni Hero Supermarket di lantai bawah dan cineplex di lantai dua. Jumlah teater kali ini justru lebih sedikit daripada Empire 21, yakni hanya 6 teater. Seperti bioskop-bioskop XXI di kota-kota besar lainnya, Empire XXI juga menawarkan fasilitas yang lebih mewah, eksklusif, serta nyaman ketimbang bioskop 21. Tata suara sayangnya masih saja standar Dolby Digital, dan belum menggunakan tata suara DTS yang tentunya jauh lebih memadai. Dari film-film yang diputar pada masa ini, Empire XXI lebih memilih merilis film-film barat sementara Studio 21 sebagian teaternya memutar film-film lokal.

Berjalan waktu dan semakin berkembangnya teknologi bioskop serta keberadaan pesaing, yakni jaringan bioskop Blitz, membuat jaringan 21 mengadakan perubahan dan investasi besar-besaran sejak tahun 2010. Studio 21 dan Empire XX1 secara bertahap mengganti proyektor format film mereka dengan proyektor format digital merk Christie dan Barco berharga milyaran yang memiliki ketajaman gambar yang lebih baik. Sistem tata suara ditingkatkan menjadi Digital Surround 7.1 membuat penonton bisa merasakan suara yang lebih jernih seolah masuk ke dalam filmnya. Satu teknologi mutakhir, yakni tiga dimensi (3D) juga pertama kali diperkenalkan warga Jogja melalui film animasi Toy Story 3 (2010) yang kala itu hanya tersedia di teater Empire XXI. Dari tahun ke tahun setiap kali film-film box office diputar antrian panjang menjadi hal lazim terlihat di dua bioskop tersebut.

11428217_10153146184218557_140846125654395967_o
Jogja City XXI

Hingga akhir tahun 2014 jaringan 21 menambah satu bioskop lagi di Jogja, yakni Jogja City XXI yang berlokasi di mall baru, Jogja City Mall. Bioskop ini memiliki 6 teater standar dan 1 teater premiere. Teater premiere layaknya teater VIP dibanderol lebih mahal memberikan kenyamanan lebih dalam pelayanannya, menggunakan kursi sofa yang besar dan mewah serta jumlah tempat duduk hanya kapasitas sekitar 20-an orang dalam satu teater. Studio 21 juga direnovasi besar-besaran berganti nama menjadi Ambarrukmo XXI, dengan fasilitas 5 teater standar dan 1 teater premiere. Sementara Empire XXI sendiri juga berbenah dengan mengganti tata suara salah satu teater dengan sistem suara mutakhir, Dolby Atmos, yang memiliki ketajaman suara lebih dari sebelumnya.

Pembangunan kembali Lippo Plaza (bekas Saphire Square) juga semakin menambah semarak bioskop di Jogja karena jaringan bioskop Cinemaxx akhirnya masuk yang baru dibuka beberapa waktu lalu. Berbekal 4 studio reguler dan 2 studio gold (seperti teater premiere XXI) serta harga tiket yang lebih murah, Cinemaxx siap menjadi pesaing berat jaringan bioskop 21. Sementara jaringan bioskop Blitz juga siap dibuka akhir tahun ini bersamaan dengan dibukanya pusat perbelanjaan Sahid di wilayah Babarsari. Jarak antara bioskop Blitz (kelak), Ambarrukmo XXI, Cinemaxx, serta Empire XXI yang relatif berdekatan, bakal memberikan persaingan bisnis yang luar biasa di antara mereka. Perang harga pastinya bakal menguntungkan para pecinta film di Jogja.

Melihat kondisi bioskop di Jogja saat ini jelas sangat menguntungkan para pecinta film di kota ini. Pilihan bioskop kini lebih banyak dan penonton tidak perlu mengantri ratusan meter hingga berhari-hari untuk menonton film-film box office seperti dulu. Harga tiket yang lebih murah serta pelayanan yang lebih pasti akan ditawarkan ke penonton. Semua tinggal menunggu waktu. Entah kapan bioskop IMAX bisa masuk ke kota ini. Jumlah layar bioskop yang lebih banyak akan semakin bagus juga buat industri film kita. Para pembuat film lokal harus semakin berbenah dan memperbaiki diri karena persaingan ke depan bakal semakin ketat. Semoga kelak film-film kita bisa bersaing dengan film-film barat yang hingga kini masih mendominasi pasar domestik.

Himawan Pratista
Penikmat film di Jogja sejak awal 90-an hingga kini.

Update dari artikel: Bioskop Jogja, dari Empire 21 hingga Empire XXI (Buletin edisi 10)

BAGIKAN
Artikel SebelumnyaKevin, Stuart, dan Bob Sukses Besar di Indonesia dan Australia
Artikel BerikutnyaJurassic World Tembus US $1 milyar dalam 12 Hari!
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPAN

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini