Black Bear (2020)
104 min|Comedy, Drama|04 Dec 2020
6.6Rating: 6.6 / 10 from 5,961 usersMetascore: 79
A filmmaker at a creative impasse seeks solace from her tumultuous past at a rural retreat, only to find that the woods summon her inner demons in intense and surprising ways.

Artikel mengandung spoiler.

Black Bear adalah film drama komedi arahan Lawrence Michael Levins. Film ini dibintangi Aubrey Plaza, Christopher Abbot, dan Sarah Gadon. Film tentang penulis naskah film memang sudah tak lagi baru. Baru-baru ini Mank juga menyajikan kisah yang sama dan Black Bear mencoba mengeksplorasinya dengan ide cerita yang unik.

Dikisahkan Allison adalah seorang penulis naskah film independen yang tengah buntu dalam pencarian idenya. Untuk mencari inspirasi, ia pergi ke sebuah villa terpencil di wilayah pegunungan. Selama di sana, ia menemukan beberapa ide cerita menarik yang ia tulis dalam buku catatannya. Hanya ini saja? Tentu tidak. Film ini dikisahkan secara episodik melalui pembabakan yang merupakan visualisasi dari ide kisahnya.

Ide naskahnya memang menarik. Filmnya secara garis besar memiliki dua babak yang berbeda yang mewakili imajinasi sang penulis. Keduanya berbeda jauh secara konsep cerita. Segmen pertama berisi kisah sang penulis sendiri (Allison) yang terjebak dalam pertikaian rumah tangga kedua pasangan suami istri muda, Blair dan Gabe, pemilik villa tersebut. Di babak ini memperlihatkan pencapaian akting ketiga tokohnya yang mengesankan dalam satu momen dialog panjang yang berakhir dengan insiden tragis.

Sementara segmen kedua adalah produksi filmnya sendiri. Allison, kini adalah aktris utama dalam sebuah film yang berkisahkan segmen pertama (bermain sebagai karakter Blair di segmen pertama). Gabe adalah sutradara filmnya dan Blair adalah salah satu pemain utamanya (bermain sebagai karakter Allison di segmen pertama)  Menarik bukan? Gabe berusaha memancing emosi kekasihnya, Allison, untuk tampil maksimal dengan berpura-pura selingkuh dengan Blair. Alhasil, Allison pun bermain luar biasa emosional dalam perannya. Kembali dalam segmen kedua ini, ketiga pemain utamanya bermain luar biasa, khususnya Plaza.

Baca Juga  Freaky

Kedua babaknya memang disajikan mengesankan. Namun, sebagai satu keseluruhan cerita film terasa ada yang tanggung. Saya pikir, satu lagi segmen dapat membuatnya komplit. Ide cerita film tak mungkin hanya satu atau dua, namun bisa puluhan bahkan ratusan. Dua ide terasa terlalu minim. Segmen pertama juga terasa terlalu lama durasinya, tak imbang dengan segmen kedua. Film ini banyak mengingatkan pada film Jepang, One Cut of the Dead, walau berbeda konsep dan hanya dua segmen, namun film ini terasa utuh.

Black Bear berkonsep ide menarik dan menyajikan penampilan mengesankan para kastingnya, namun konsep naskah episodiknya terlalu lama dan tanggung. Bermain-main dengan struktur cerita memang satu opsi yang menarik. Ide kisah Black Bear rasanya masih bisa dikembangkan lebih jauh dan dalam lagi tidak hanya sekedar gimmick.  Sang beruang bisa jadi adalah metafora sisi gelap manusia yang ada pada tiga tokoh utamanya. Satu segmen lagi mungkin bisa membuat kisahnya lebih menarik tanpa terlihat sang beruang hanya sebagai tempelan, atau memang ini dimaksudkan hanya tempelan?

Stay safe and Healthy!

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaMosul
Artikel BerikutnyaRentang Kisah
Himawan Pratista
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.