Black Bear (2020)
104 min|Comedy, Drama|04 Dec 2020
6.5Rating: 6.5 / 10 from 16,122 usersMetascore: 79
A filmmaker at a creative impasse seeks solace from her tumultuous past at a rural retreat, only to find that the woods summon her inner demons in intense and surprising ways.

Artikel mengandung spoiler.

Black Bear adalah film drama komedi arahan Lawrence Michael Levins. Film ini dibintangi Aubrey Plaza, Christopher Abbot, dan Sarah Gadon. Film tentang penulis naskah film memang sudah tak lagi baru. Baru-baru ini Mank juga menyajikan kisah yang sama dan Black Bear mencoba mengeksplorasinya dengan ide cerita yang unik.

Dikisahkan Allison adalah seorang penulis naskah film independen yang tengah buntu dalam pencarian idenya. Untuk mencari inspirasi, ia pergi ke sebuah villa terpencil di wilayah pegunungan. Selama di sana, ia menemukan beberapa ide cerita menarik yang ia tulis dalam buku catatannya. Hanya ini saja? Tentu tidak. Film ini dikisahkan secara episodik melalui pembabakan yang merupakan visualisasi dari ide kisahnya.

Ide naskahnya memang menarik. Filmnya secara garis besar memiliki dua babak yang berbeda yang mewakili imajinasi sang penulis. Keduanya berbeda jauh secara konsep cerita. Segmen pertama berisi kisah sang penulis sendiri (Allison) yang terjebak dalam pertikaian rumah tangga kedua pasangan suami istri muda, Blair dan Gabe, pemilik villa tersebut. Di babak ini memperlihatkan pencapaian akting ketiga tokohnya yang mengesankan dalam satu momen dialog panjang yang berakhir dengan insiden tragis.

Sementara segmen kedua adalah produksi filmnya sendiri. Allison, kini adalah aktris utama dalam sebuah film yang berkisahkan segmen pertama (bermain sebagai karakter Blair di segmen pertama). Gabe adalah sutradara filmnya dan Blair adalah salah satu pemain utamanya (bermain sebagai karakter Allison di segmen pertama)  Menarik bukan? Gabe berusaha memancing emosi kekasihnya, Allison, untuk tampil maksimal dengan berpura-pura selingkuh dengan Blair. Alhasil, Allison pun bermain luar biasa emosional dalam perannya. Kembali dalam segmen kedua ini, ketiga pemain utamanya bermain luar biasa, khususnya Plaza.

Baca Juga  The Map of Tiny Perfect Things

Kedua babaknya memang disajikan mengesankan. Namun, sebagai satu keseluruhan cerita film terasa ada yang tanggung. Saya pikir, satu lagi segmen dapat membuatnya komplit. Ide cerita film tak mungkin hanya satu atau dua, namun bisa puluhan bahkan ratusan. Dua ide terasa terlalu minim. Segmen pertama juga terasa terlalu lama durasinya, tak imbang dengan segmen kedua. Film ini banyak mengingatkan pada film Jepang, One Cut of the Dead, walau berbeda konsep dan hanya dua segmen, namun film ini terasa utuh.

Black Bear berkonsep ide menarik dan menyajikan penampilan mengesankan para kastingnya, namun konsep naskah episodiknya terlalu lama dan tanggung. Bermain-main dengan struktur cerita memang satu opsi yang menarik. Ide kisah Black Bear rasanya masih bisa dikembangkan lebih jauh dan dalam lagi tidak hanya sekedar gimmick.  Sang beruang bisa jadi adalah metafora sisi gelap manusia yang ada pada tiga tokoh utamanya. Satu segmen lagi mungkin bisa membuat kisahnya lebih menarik tanpa terlihat sang beruang hanya sebagai tempelan, atau memang ini dimaksudkan hanya tempelan?

Stay safe and Healthy!

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaMosul
Artikel BerikutnyaRentang Kisah
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.