Bleed for This (2016)

117 min|Biography, Drama, Sport|18 Nov 2016
6.8Rating: 6.8 / 10 from 29,636 usersMetascore: 62
The inspirational story of World Champion Boxer Vinny Pazienza who, after a near fatal car crash which left him not knowing if he'd ever walk again, made one of sports' most incredible comebacks.

Bleed for This adalah film drama biografi yang mengisahkan kisah nyata comeback dari petinju Vinny Pazienza. Film ini diarahkan oleh Ben Younger yang beberapa dekade lalu kita kenal dengan filmnya Boiler Room (1995). Bleed for This dibintangi Miles Teller, Aaron Eckharct, Katey Sagal, serta Ciaran Hinds.

Vinny adalah seorang petinju yang tangguh namun kebiasaan berjudi membawanya selalu meremehkan banyak hal. Kalah dalam sebuah pertandingan perebutan gelar, Vinny kemudian merekrut pelatih baru, Kevin Rooney mantan pelatih Mike Tyson. Bersama Rooney, Vinny meraih titel juara dunia namun tak lama berselang kecelakaan mobil menimpanya yang menyebabkan lehernya patah dan mengancam karir bertinjunya.

Formula sejenis dengan mengangkat kisah comeback sudah sering digunakan dalam genre olahraga tinju ini, sebut saja baru lalu Southpaw (2015). Bleed for This alur kisahnya memang relatif datar dan konflik cerita sesungguhnya baru muncul menjelang separuh filmnya. Setelah momen ini cerita berjalan lebih menarik dengan menggambarkan usaha sang petinju untuk bangkit kembali. Walau ini klise dan penonton tahu kemana ini akan berakhir namun setidaknya film ini mencoba menampilkan sisi manusiawi Vinny serta hubungannya dengan pelatih dan keluarganya. Namun sayangnya masih serba tanggung. Hal yang sedikit menggangu adalah kisahnya yang memaksa ketika Vinny melawan Roberto Duran setelah tidak ada satu petinju pun yang mau bertanding dengannya. Uang jelas menjadi alasan namun sedikit penjelasan dibaliknya akan membuat pertandingan klimaks menjadi lebih greget.

Baca Juga  M3GAN

Bleed for This bermain aman dan tanggung untuk genrenya walau memiliki potensi bisa lebih baik. Kembalinya Vinny Pazienza dianggap sebagai salah satu come back terbaik dalam sejarah olahraga tinju namun hingar bingar dan kemegahan pertandingan besar ini kurang terlihat. Tidak ada masalah dengan kastingnya yang bermain sangat baik khususnya Teller dan Eckhart. Dengan bujet produksi hanya US$ 6 juta rasanya film ini tak mampu berbuat banyak.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaIstirahatlah Kata-Kata, Istirahatlah Penonton
Artikel BerikutnyaFrom London to Bali
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.