Bloodhounds merupakan seri kriminal thriller produksi Korea Selatan yang ditulis dan diarahkan Kim Joo-hwan. Seri bertotal 8 episode ini berdurasi rata-rata 60 menit dan dirilis oleh Netflix beberapa minggu lalu. Film ini dibintangi para pemain lokal populer, seperti Woo Do-hwan, Lee Sang-yi, Park Sung-woong, dan Huh Joon-ho. Perpaduan aksi dan kriminal adalah jamak dalam industri film Korea, akankah Bloodhounds memberi warna baru untuk genrenya?

Kim Geon-woo (Do-hwan) adalah seorang petinju profesional yang bekerja untuk membantu melunasi hutang-hutang sang ibu. Pandemi COVid-19 yang merebak membuat usaha warung milik ibunya semakin menurun. Geon-woo bersama teman barunya sesama petinju, Woo-jin (Sang-yi) mencoba mencari pekerjaan sampingan. Di saat bersamaan, sang ibu terjebak dalam satu lilitan hutang baru dari perusahaan besar bernama Smile Capital pimpinan Kim Myeong-gil (Sung-wong). Toko sang ibu dirusak dan Geon-woo pun babak belur dihajar anak buah Myeong-gil. Di tengah situasi terjepit, Geon-wo dan Woo-jin tertolong dengan mendapat pekerjaan dari seorang rentenir tua, Choi Tae-ho (Joon-ho). Rupanya, Choi Tae-ho memiliki masa lalu kelam bersama Myeong-gil. Geon-wo dan Woo-jin pun berniat membantu Tae-ho untuk memerangi perusahaan Smile Capital yang memeras warga kota.

Alur kisah Bloodhounds tidak sesederhana seperti ringkasan plot di atas walaupun seri bertotal 8 episode ini sebenarnya menggunakan struktur tiga babak yang simpel. Dua episode akhir yang mengambil latar waktu berbeda merupakan segmen klimaks (babak ketiga) yang berbeda tone dengan 6 episode sebelumnya. Plotnya juga tidak dominan mengikuti dua tokoh utamanya, namun silih berganti antara kelompok Tae-ho dan Myeong Gil. Ini yang membuat kisahnya sedikit rumit melalui intrik antara dua kelompok yang melibatkan belasan tokoh pendukung. Satu informasi kecil terlewat, kita bisa kehilangan pengembangan kisahnya. Secara ringkas, plotnya hanyalah rivalitas dua gangster yang saling menjatuhkan dengan selipan aksi tarung di sana-sini.

Salah satu problem terbesar seri Bloodhounds adalah durasi yang panjang sehingga beberapa momen (sisi drama-adegan dialog) kadang terlalu dipaksakan durasinya. Ibarat jika dialog di-skip-pun tak banyak informasi yang terlewat. Namun secara umum, seri ini mampu memadatkan dengan efektif tanpa menurunkan ritme ketegangan yang tersaji, khususnya pada episode 1-6. Aksi yang menjadi menu utama filmnya juga mengalir baik tanpa banyak dilebihkan. Tarung keroyokan yang menjadi ciri khas film Korea Selatan mengisi 95% sekuen aksinya. Gaya tarung tinju dua tokoh utama memang membuat aksi-aksinya menarik untuk ditonton. Sisi teknis memang bukan kelemahan serial ini yang sepadan dengan film-film bioskopnya melainkan adalah naskahnya yang acap kali membuat frustasi karena pengabaian logika ceritanya.

Berikut ini adalah beberapa contoh pengabaian nalar yang dirasa sedikit menganggu. Satu poin penting di sini adalah jika ini tidak terjadi, kisahnya tidak akan berjalan atau bisa dikatakan “sedikit” memaksa.

  • Sewaktu kelompok Smile Capital menagih hutang cicilan di kedai ibu Geon-ho, seberapa pentingkah kedai kecil tersebut hingga sang bos pimpinan perusahaan secara personal harus hadir langsung di lapangan? Bicara soal hutang, bukankah semua hutang ibunya sudah dilunasi Geon-ho dengan uang hasil kemenangan kompetisi tinju? Mengapa lantas sang ibu harus meminjam lagi dari Smile Capital? Jika bicara realitas, semua orang butuh uang, tak ada yang menyangkal, apalagi diiming-iming bunga rendah. Namun dalam konteks kisahnya, sang ibu tidak tampak memerlukan sesuatu yang urgen sehingga harus meminjam uang (lagi). Ini justru memberi kesan, sang ibu merendahkan putranya demgam mengambil keputusan tanpa sepengetahuan Geon-ho yang notabene baru saja membantu melunasi hutang sebelumnya.
  • Dalam semua adegan aksinya (99%) tidak pernah menggunakan senjata api. Semua aksinya menggunakan tangan kosong atau benda tajam, padahal jika menggunakan senjata api murah pun, pihak Smile Capital bakal mengirit banyak pengeluaran dengan tidak perlu membayar puluhan tukang pukul. Hal ini tidak tampak dalam banyak film-film aksi sejenis produksi Korea Selatan lainnya. Iya benar, ini bisa ditolerir karena toh, aksinya enak ditonton, namun melihat urgensi dan skala kisahnya, senjata api seharusnya menjadi solusi yang efektif.
  • Dalam beberapa kali adegan aksi seringkali terjadi, tokoh-tokohnya rada “telat mikir” atau bahkan tidak berpikir sama sekali. Tentu aneh mengingat ini adalah urusan hidup dan mati. Satu contoh saja, ketika Geon-ho, Woo-jin, Hyun-joo harus mengambil sedemikian banyak uang dan emas di toko buku. Satu penjahat pun terlepas. Apa mereka tidak pernah berpikir bahwa dalam hitungan beberapa menit para penjahat bisa datang lagi ke tempat tersebut? Ini pun aneh karena sebelumnya pihak Smile Capital selalu mengirim banyak orang, tidak pernah dua orang seperti ini. Satu lagi tercatat paling konyol terjadi pada episode akhir, apa gunanya para penjahat menculik seseorang untuk menjadi tebusan jika tidak digunakan semestinya?
  • Entah karena alasan apa tokoh begitu penting dan dekat dengan penonton (tidak bisa sebut nama/spoiler), harus dihilangkan dalam dua episode akhir. Lantas untuk apa karakter tersebut sejak awal eksis? Ini bisa dimaklumi jika karakter tersebut hanya pendukung atau tampil sekelebat, namun dia adalah sosok yang begitu personal bagi karakter lainnya dan menjadi motif penggerak cerita pada awal serinya. Sikapnya yang “lari dari masalah” jelas tidak sesuai dengan karakter sang tokoh yang keras dan persisten. Hubungan sosok ini dengan dua tokoh utama lainnya pun terjalin kuat. Dalam dua episode akhir, sosok ini digantikan oleh satu sosok lain yang karakternya pun mirip.*
  • Dua episode akhir jelas “out of tone” dengan enam episode sebelumnya. Situasi urgen dan aksi menegangkan seringkali diselipkan oleh sisi komedi yang jarang disajikan sebelumnya. Seolah dua episode akhir digarap oleh pembuat naskah dan sutradara yang berbeda. Dua sosok utamanya pun lebih terlihat “bodoh”, seolah tidak mengambil pelajaran dari peristiwa sebelumnya dengan tidak berpikir panjang melalui rencana yang matang. Ini antiklimaks dari episode-episode sebelumnya.
Baca Juga  Pieces of a Woman

Bloodhounds memiliki potensi premis yang besar melalui isu sosial, aksi, dan sisi ketegangannya, hanya saja, naskahnya yang lemah, terlebih dua episode akhir, justru memukul balik kisahnya yang telah terbangun rapi. Naskahnya sebenarnya sudah sangat baik mengusung tema pandemi dan dampak menurunnya income pengusaha kecil sehingga pinjaman pada rentenir pun tak terhindarkan. Sayangnya, ini hanya sekadar tempelan dan kisahnya tidak mampu memberi solusi yang membumi dan pesan menggugah. Seri Bloodhounds hanyalah film aksi kriminal yang menghibur melalui sajian aksi tarungnya. Tidak lebih.

*Actress Kim Sae-ron played the role of Cha Hyun-joo, but on June 2, 2022, Netflix Korea announced Kim will be removed from the series, following a DUI incident (wikipedia – Bloodhounds) – updated

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaHome for Rent
Artikel BerikutnyaWhat’s Love Got to Do with It?
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.