Seorang lelaki muda kehilangan kunci mobilnya ketika ia selesai berlatih tenis. Ia memutuskan untuk berjalan kaki menuju hotel dengan menyamarkan wajahnya menggunakan topi. Sosok lelaki ini adalah Björn Borg, petenis berusia 25 tahun, peringkat nomor satu dunia, empat kali juara Wimbledon secara beruntun. Tak pelak, gadis-gadis muda yang melihatnya di jalanan mendadak histeris hingga ia harus masuk ke sebuah kedai kopi. Ia memesan secangkir kopi, dan rupanya sang pelayan tak mengenalinya. Oleh karena dompetnya tertinggal di mobilnya, ia memohon untuk membayar kemudian, namun sang pelayan menolak. Sang juara akhirnya harus mengalah dengan membuang sampah toko untuk melunasi secangkir kopinya. Di tengah tumpukan sampah, tergeletak satu koran dengan tajuk utama, “McEnroe, Mimpi Terburuk Borg”, ia sempat membaca sekilas, lalu ia tumpuk dengan sisa sampah lainnya, dan ia berjalan ke belakang toko. Satu adegan sederhana yang amat manusiawi sekaligus menggambarkan bahwa sosok rival yang ia baru saja baca ternyata jauh dari kata “sampah”. John Patrick McEnroe menjadi mimpi buruk sepanjang filmnya.

     Berbeda dengan formula baku genrenya, Borg vs McEnroe mengambil penggalan kisahnya hanya pada satu momen saja, yakni sepanjang pertandingan Wimbledon, di mana semua orang menantikan Borg untuk mengangkat piala pada ajang bergengsi ini untuk kelima kalinya. Mengapa momen ini? Karena momen ini adalah yang merubah segalanya bagi dua legenda dalam olahraga ini. Borg yang tak terkalahkan, melihat sesuatu dalam diri McEnroe, yang tak bisa dibaca oleh orang lain. Di balik perangai McEnroe yang kasar di lapangan ia melihat satu kekuatan besar, tekad, ambisi, serta satu potensi yang paling ia takutkan, yakni kekalahannya. Untuk pertama kalinya, sang juara melihat lawan yang sepadan dengan dirinya. Melalui kilas-balik, digambarkan latar belakang sosok dua orang ini di masa kecilnya. Sosok muda Borg mirip dengan McEnroe yang amat emosional. Sementara McEnroe kecil adalah sosok pintar yang amat mengidolakan Borg yang kala itu telah menjadi juara Wimbledon termuda.

     Sepanjang film, layaknya thriller psikologis, menggambarkan dua tokoh utama ini yang tertekan dengan situasi sepanjang kejuaraan. Ilustrasi musik pun turut mengintimidasi penonton yang tak lazim untuk genrenya. Sosok McEnroe mampu membuat Borg tidak menjadi dirinya sendiri. Borg gugup pada pertandingan pertama melawan pemain non-unggulan, dan sikapnya amat sensitif pada calon istri dan pelatihnya. Nyaris sama, McEnroe menulis di tembok kamar hotelnya, skema babak demi babak, sejak pertandingan pertama hingga babak final. Ia telah memperhitungkan segalanya, siapa saja yang akan ia lawan. Momen dan rivalitas menjelang pertandingan seolah adalah tes, atau lebih tepatnya mimpi buruk yang sekaligus merefleksikan kehidupan masa lalu mereka hingga akhirnya merubah hidup mereka. Borg dan McEnroe akhirnya mampu mengalahkan lawan-lawan mereka hingga momen finale yang ditunggu semua orang pun tiba.

Baca Juga  A Man Called Ove

    Tak afdol rasanya genre olahraga tanpa teknik montage. Segmen pertandingan puncak penuh dengan montage yang digunakan secara bervariasi. Pertandingan yang dianggap sebagai pertandingan terbaik dalam sejarah olahraga tenis ini divisualisasikan berbeda dengan film sesama subgenrenya, Wimbledon, yang dikemas lebih menghibur. Satu momen tie break terpanjang dalam sejarah tenis disajikan dengan penuh ketegangan, namun dalam satu momen lain pada set penentuan, menggunakan montage dengan sangat elegan dengan score klasik yang menggambarkan pertarungan dua legenda ini bak tarian balet yang disajikan begitu indahnya. Segmen ini adalah satu sajian sinematik terbaik yang pernah ada dalam genrenya. Shot dekat dan overhead shot unik dari setengah lapangan banyak digunakan, walau terkesan menutupi kelemahan (akting dan setting), namun teknik ini efektif untuk menggambarkan ekspresi dua tokohnya dan juga jalannya babak demi babak. Hingga pada momen klimaks pun suasana tekanan psikologis masih terasa, seolah semua tujuan hidup mereka berdua hanya ditujukan untuk momen ini.

     Borg vs McEnroe menggunakan pendekatan berbeda pada genrenya dengan dukungan dua pemain utama yang bermain amat prima untuk menggambarkan pertandingan legendaris dalam sejarah olahraga tenis. Baik aktor swedia, Sverrir Gudnason dan Shia LaBeouf bermain amat prima dalam memerankan dua sosok besar ini. Trauma masa lalu, kegetiran, serta kegelisahan akan kekalahan selalu tampak di mata mereka sepanjang filmnya. Aktor kawakan Stellan Skarsgård sebagai pelatih Borg, kini banyak berdialog dengan bahasa ibunya (Swedia) yang jarang kita lihat sebelumnya. Mereka semua bermain sempurna tanpa cacat. Entah kisah film ini didramatisir atau tidak, namun dengan pendekatan sisi psikologis dan estetiknya yang unik, film arahan Janus Metz Pedersen ini tanpa diragukan adalah salah satu film terbaik di genrenya. Genre olahraga telah berkembang begitu jauh melalui beberapa film yang berani keluar dari pakemnya, sebut saja Eddie The Eagle, The Dark Horse, I Tonya, dan kini Borg vs McEnroe. Genre ini tidak semata hanya menginspirasi melalui sisi heroik perjuangan sang atlet semata, namun juga sisi manusiawi mereka sebagai manusia biasa.

WATCH THE TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaDanny Boyle Sutradarai Bond 25
Artikel BerikutnyaSicario 2 Rilis Trailer Final
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses