Movie Poster
Sutradara: Steven Sielberg
Produser: Steven Sielberg/Marc Platt/Kristie Macosko Krieger
Penulis Naskah: Ethan & Joel Coen/Matt Charman
Pemain: Tom Hanks/Mark Rylance/Amy Ryan/Alan Alda
Sinematografi: Janusz Kamiński
Editing: Michael Kahn
Ilustrasi Musik: Thomas Newman
Studio: Touchstone Pictures/Dreamworks Pictures/Fox 2000 Pictures
Distributor: 20th Century Fox
Durasi: 141 menit
Bujet: US$ 40 juta

Steven Spielberg dan Tom Hanks telah berkolaborasi tiga kali sebelumnya dalam film-film sukses komersil dan kritik, yakni Saving Private Ryan, The Terminal, dan Catch Me If You can. Dalam Bridge of Spies menandai kembalinya mereka dengan sesuatu yang besar bagi Spielberg sejak sukses Schindler’s List beberapa dekade silam. Mereka berdua bisa kembali mencatatkan diri pada ajang Academy Awards tahun depan. Spies memang bukan mahakarya layaknya Schindler’s List namun film ini mampu memberikan kembali sesuatu yang hilang dalam karir Spielberg beberapa dekade terakhir.

Pada era perang dingin, alkisah James Donovan (Hanks) adalah seorang pengacara asuransi yang sukses dan Rudolf Abel (Rylance) adalah seorang tersangka mata-mata Soviet yang diambang hukuman mati. Donovan menerima pekerjaan sebagai pengacara Abel untuk mendapatkan persidangan yang layak. Semua orang menginginkan Abel mati dalam kursi listrik namun Donovan bekerja sepenuh hati untuk membela kliennya. Donovan mempertaruhkan karir, keluarga, dan martabatnya untuk mempertahankan sesuatu yang ia anggap benar, yakni konstitusi yang ia junjung tinggi.

Sudah sejak lama sisi manusiawi tidak tersentuh begitu dalam layaknya dalam Spies. Kisahnya yang ringan memberikan nuansa kehangatan dalam dinginnya perang dingin antara Soviet dan AS. Kegelisahan warga AS tercipta secara baik sehingga kita mampu merasakan tekanan yang dihadapi Donovan dan keluarganya. Arah cerita mulai terlihat ketika karakter pilot pesawat mata-mata AS, Francis Gary Powers muncul. Semua orang bisa jadi sudah tahu bagaimana ini semua akan berakhir. Namun dengan piawai Spielberg mampu memberikan proses perjalanan negosiasi dengan cara yang indah, elegan, serta menyentuh. Sentuhan Joel dan Ethan Coen memberikan warna berbeda pada naskahnya khususnya dialog.

Dua orang yang menjadi tokoh sentral disini adalah Hanks dan Rylance. Hanks kembali dalam performa terbaiknya sejak Captain Phillips (2013) dua tahun lalu. Hanks dengan meyakinkan mampu memberikan karakter Donovan sosok yang berdedikasi penuh dan loyal serta cemas dan gelisah di saat yang bersamaan. Tidak perlu diragukan bakal menjadi kandidat Oscar tahun depan. Namun Rylance bermain sangat gemilang sebagai Rudolf Abel. Sosok yang sepanjang film tampil sangat tenang dan penuh percaya diri, serta tidak pernah merasa terintimidasi sedikit pun. Would it help? Ketika ditanya Donovan mengapa ia tampak tidak cemas dan khawatir. Rylance yang sepanjang karirnya lebih dominan bermain pada teater ketimbang film, bisa jadi bermain dalam peran terbaiknya dalam karirnya, dan menjadi kandidat kuat peraih Oscar tahun depan untuk peran pembantu terbaik.

Baca Juga  Beyond Skyline

Spielberg dengan sinematografer dan editor tetapnya, Kamiński dan Kahn, menjadikan film ini layaknya seperti kita melihat kembali Schindler’s List yang dituturkan dengan tempo lambat namun memiliki visual yang amat kuat dengan tone warna khas. Setting 50-an – 60-an tersaji dengan menawan dan begitu detil dengan beberapa variasi lokasi di Amerika, khususnya reruntuhan pasca perang di Berlin, Jerman. Dalam satu segmen juga tersaji unik menggambarkan bagaimana tembok pembatas, timur dan barat di Berlin dalam proses pembuatan, bata demi bata.

Bridge of Spies adalah menandakan kembalinya Steven Spielberg dan Tom Hanks dalam performa terbaik mereka. Dengan gaya visual khas Spielberg dan kisah nyata yang hangat dan menyentuh membuat film ini tidak sulit bersaing dalam memperebutkan Piala Oscar untuk film terbaik tahun depan. Film ini tidak hanya bicara soal perang dingin Amerika-Rusia semata atau kisah heroik James Donovan namun lebih jauh berbicara tentang sisi manusiawi yang telah luntur sejak entah kapan. Tidak banyak seseorang yang mampu dan mau berdiri tegak ditengah batas tipis antara salah dan benar untuk mempertahankan sesuatu yang lebih mulia. Bridge of Spies menjawab semua ini dengan cara yang elegan.

MOVIE TRAILER

PENILAIAN KAMI
Total
90 %
Artikel SebelumnyaCrimson Peaks
Artikel BerikutnyaThe Last Witch Hunter
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.