bu tejo sowan jakarta

Nama Bu Tejo takkan asing bagi penonton film pendek dan series Tilik. Kini, karakter tersebut mendapat cerita sendiri dalam Bu Tejo Sowan Jakarta –dengan dunia kisah yang berbeda. Selain trio pemeran inti dari Tilik, yakni Siti Fauziah, Brilliana Desy, dan Putri Manjo, film komedi keluarga, roman, dan perjalanan ini juga diisi oleh Aditya Lakon, Deni Kumis, Claudya Putri, dan Dyah Mulani. Andibachtiar Yusuf lah yang mengarahkannya, dengan skenario garapan Aaron Hart di bawah produksi 786 Production dan Clockwork Films. Pasca-Love for Sale 2 (2019) dan Baby Blues (2022), seperti apa hasil arahan sang sutradara dalam film ini?

Teddy (Lakon) baru pulang dari Jakarta saat di rumah sedang berlangsung arisan ibu-ibu. Di bawah arahan ibunya, Bu Tejo (Fauziah), ibu-ibu berencana hendak tamasya ke luar kota. Bertepatan Teddy juga mengutarakan niatnya kepada sang ibu bahwa ingin melamar sang kekasih, Vanessia (Putri) tak lama lagi. Namun, saat Bu Tejo tahu ternyata Vanessia berbeda budaya dengan keluarganya, restunya batal saat itu juga. Ayah Teddy, Pak Teja (Deni), pun tak sanggup membujuk istrinya yang amat mendominasi. Walhasil, beberapa siasat lantas dilakukan. Teddy yang bersikukuh ingin lamarannya tetap berjalan dan Bu Tejo yang keras kepala melarang putranya.

Eksistensi nama Bu Tejo rupanya belum berhenti sejak series Tilik mengakhiri kisahnya lewat episode ke-8 pada Mei 2023 lalu. Walau dengan ceritanya sendiri dan masih berporos pada pembawaan karakter oleh seorang Siti Fauziah yang selalu banyak bicara. Ralat, kelewat banyak bicara. Saking terobralnya kata-kata dari karakter Bu Tejo sampai-sampai menutup seluruh porsi dialog dengan tokoh lain. Ibarat, film ini dibuat semata-mata sebagai medium untuk menampilkan betapa cerewetnya Bu Tejo dalam pelbagai situasi, kondisi, dan kesempatan apa pun. Tak kurang dari itu, karena segala motif pun “dibuat-buat” sebisa mungkin agar dapat dijadikan alasan bagi Bu Tejo untuk “berceramah”. Tak lebih dari itu, karena film ini amat minim tawaran lain dari segi mana pun, kecuali hiburan remeh temeh belaka.

Perkara hiburan, Bu Tejo Sowan Jakarta bisa dibilang memang hanya mengandalkan Bu Tejo dan kelompoknya. Dengan olah peran yang (inginnya) dibuat senatural mungkin, tetapi sayangnya pada saat yang sama justru tampak canggung. Interaksi yang terjadi antartokoh terkadang menunjukkan bahwa relasi mereka baru terjalin dalam dimensi waktu beberapa hari sebelum cerita film dimulai. Terutama keberadaan Pak Teja, suami Bu Tejo. Film ini seolah bermaksud menggambarkan keluarga yang multikultur lewat sosoknya sebagai seorang dari Sunda dalam keluarga Jawa. Namun, bisa-bisanya sang istri masih tak paham sama sekali ucapan dari suaminya dalam bahasa Sunda, meski mereka telah puluhan tahun menikah. Apakah penokohan Bu Tejo memang dibuat se-tidak peduli itu dengan budaya lain? Inkonsisten dengan cerita soal latar belakang pernikahannya dengan Pak Teja.

Baca Juga  Ketika Cinta Bertasbih

Buntut minimnya tawaran lain dalam film ini di samping obral kata ala Bu Tejo ialah mudahnya alur cerita tertebak. Lewat rangkaian kejadian yang “kebetulan”-nya kentara sekali terlalu dibuat-buat pula. Banyak lubang keteledoran tindakan para tokoh yang mestinya bisa-bisa saja dihindari agar tak dimasuki, jika penokohan mereka dibuat sedikit lebih cerdas. Dengan karakterisasi mereka yang demikian minim inteligensi, seakan terlihat seperti boneka semata dalam cerita. Diarahkan agar keberadaannya sekadar berfungsi untuk mengekor panggung bicara seorang Bu Tejo.

Bayangkan Bu Tejo Sowan Jakarta tanpa trio Tilik dengan Bu Tejo sebagai poros, hanya akan menjadi film komedi romantis biasa. Idenya pun telah menjadi pasaran tanpa tawaran yang menggigit, baik dari pengambilan gambar, musik, editing, artistik, dan lainnya. Hanyalah ledakan-ledakan dari ibu-ibu kelompok Bu Tejo yang meramaikan suara dalam film ini. Mereka memang tokoh penting dalam film ini. Namun, bukan berarti tidak perlu ada tawaran dari aspek yang lain.

Bu Tejo Sowan Jakarta sekadar bentuk oportunitas berlebihan atas eksistensi tokoh Bu Tejo, tanpa tawaran lebih di luar karakter bawaannya. Masih banyak komedi romantis lain yang lebih baik, dengan eksekusi momen-momen komedi yang tak terlalu dibuat-buat demi satu-satunya tokoh sentral semata. Misalnya Mohon Doa Restu (2023) dengan trio komikalnya, atau Kejar Mimpi Gaspol! (2023) dengan romansa lansianya yang cair dan renyah untuk ditertawakan bersama. Ada pula Ganjil Genap (2023) yang meski merupakan romcom umum, tetapi penulisannya rapi dan punya treatment kreatif dari editor dan sutradaranya. Bu Tejo Sowan Jakarta memang juga menyajikan topik kebudayaan, tetapi masihlah jauh ketimbang totalitas dalam Onde Mande! (2023). Walau masing-masing mengandung kelemahan sendiri-sendiri, tetapi sajian komedinya lebih berimbang. Khususnya interaksi antartokohnya. Tidak berat sebelah hanya demi mengangkat satu orang belaka.

PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaJustice League: Crisis on Infinite Earths – Part One
Artikel BerikutnyaPetualangan Anak Penangkap Hantu
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.