Mengantri sudah menjadi budaya yang ada di belahan dunia mana pun termasuk di Indonesia. Budaya ini sendiri terdapat di seluruh lini kehidupan sehari-hari, termasuk di bioskop. Kita mengenal bioskop merupakan salah satu tempat yang terbilang sangat sakral bagi para pecinta film. Mengapa?. Karena bioskop merupakan satu-satunya arena terbesar dan terbaik untuk menikmati film-film populer sekarang. Kononnya mereka yang ingin menonton, rela mengantri berjam-jam demi mendapatkan sebuah tiket film idaman yang ingin mereka nikmati di layar besar dan juga megah. Dan tak dapat dipungkiri juga, bioskop adalah tempat nongkrongnya bagi orang-orang yang mampu atau sudi membayar lebih, bisa dianggap bioskop hanya untuk orang yang termasuk kategori taraf menengah hingga menengah keatas. Kenyataan yang cukup pahit bagi sebagian orang.

Di kota Jogja, saat ini terdapat dua bioskop besar yang mendominasi seluruh pemutaran film baik, film box office Hollywood maupun Indonesia, yakni Studio 21 dan Empire XXI. Dua studio ini masih merupakan satu manajemen yang sama. Akan tetapi XXI mendominasi pemutaran film-film box office barat dan 21 bisa jadi dianaktirikan untuk eksibisi film-film Hollywood dan memang lebih fokus pada eksibisi film lokal.

Tapi saya tidak akan membahas tentang seluk beluk dua studio bioskop itu. Saya akan malah justru membahas bagaimana budaya mengantri di bioskop saat ini? Setelah hampir 5 tahun, saya mempunyai berbagai pengalaman, betapa asyik dan menyenangkannya mengantri pada saat menonton bioskop. Terutama saat menonton film-film favorit yang telah dinanti-nanti para moviegoer. Rela mangantri pagi demi bisa mendapatkan antrian paling depan. Pintu bioskop masih tertutup namun banyak orang mulai datang berkerumun jauh sebelum jam pemutaran pertama. Lalu pintu bioskop terbuka maka dinyatakan kompetisi antrian telah dimulai.

Banyak orang yang sangat antusias berjalan cepat hingga berlari layaknya lomba untuk mendapatkan podium depan line antrian. Saya beruntung bisa dapat antrian terdepan. Antrian panjang belum hitungan menit sudah ratusan orang padahal konter penjualan tiket belum dibuka. Setelah menunggu berjam-jam akhirnya loket tiket pun dibuka. Saya merasa heran ketika berhadapan konter karcis di bioskop sambil menatap layar monitor posisi tempat duduk. Seperti biasanya saya akan memesan tempat duduk yang paling nyaman yaitu di deretan tengah, namun ternyata posisi tempat duduk sudah di-booking oleh para pengguna M-Tix. Biasanya area yang sudah di-booking adalah deretan bangku B hingga F. Kejadian seperti ini tidak terjadi sekali dua kali. Dan akhir-akhir ini, seperti pada kasus film Mission Impossible 4 baru lalu, booking bangku bagi para pengguna M-Tix sudah merambah deretan bangku A hingga G. Apakah saya percuma mengantri dari awal? Bagaimana nasib orang yang sudah mengantri dari awal bioskop buka? Saya pernah bertanya pada penjaga konter tentang itu, mereka selalu bilang peraturannya memang seperti itu untuk pengguna M-Tix selalu dispesialkan atau dinomorsatukan. Mengapa?

Baca Juga  Love Actually vs New Year’s Eve

Sebelum kita masuk lebih dalam untuk menjawab pertanyaan terakhir saya. Mari kita mengenal apa itu M-Tix. M- Tix adalah sebuah sistem layanan transaksi pembelian tiket nonton jarak jauh (Remote Transaction). Langkah awal untuk dapat menggunakan M-Tix adalah melakukan registrasi. Untuk melakukan registasi mereka akan datang langsung ke bioskop-bioskop yang menyediakan layanan M-Tix, menyerahkan data diri dan akun email yang valid kemudian mengisi M-Tix wallet sebesar Rp.150.000 anggap saja ini sebuah deposit atau tabungan nonton. Stop! Apa ini penyebabnya para pengguna M-Tix dispesialkan.

Secara logika dari realitasnya, M-Tix menambah jurang pemisah antara penonton yang menengah dan menengah ke atas. Mereka yang spesial hanya orang yang dapat menabung atau mendepositkan uang, sedangkan orang yang tidak bisa dan dapat dibilang pas-pasan mau di bawa kemana? Angka 150.000 merupakan angka yang cukup lumayan untuk kami para pecinta film untuk kategori menengah ke bawah. Menurut saya ini sudah merubah esensi asyiknya dan betapa menantangnya mengantri dibioskop karena tercipta dua kubu yaitu “pengantri M-Tix” yang dapat mengantri lebih santai ketimbang pengantri setia yang rela berdesak-desakan untuk berkompetisi mendapatkan podium pembelian karcis terdepan. Filosofi “Siapa cepat dia dapat” sudah hilang digantikan dengan “Siapa yang bisa bayar dulu mereka yang diprioritaskan“.

Apakah pihak manajemen bioskop sudah menampakkan ke”kapitalisan”nya hanya untuk memikirkan keuntungan semata, ketimbang melihat antusiasme para pecinta setia film. Saya yakin sebagian besar dari kita tidak mau di kotak-kotakkan seperti ini. Tapi apa boleh buat. Bisnis memang lebih pahit dari pada yang kita duga. Mereka (pebisnis) yang terlalu terfokus pada uang yang mereka anggap merupakan segalanya di dunia ini. Bagaimana perfilman Indonesia berkembang jika kita tetap dibatasi oleh kaum kapitalis yang dulu pernah bertanggung jawab atas runtuhnya perfilman kita. Apakah dengan ini cukup tersirat bahwasannya bioskop komersil tidak memikirkan nasib bangsa sendiri? Mereka mencari aman karena ini sudah menjadi area bisnis global.

Sebenarnya budaya mengantri ini merupakan hal kecil bagi sebagian orang, akan tetapi bagi sebagian orang lagi dan termasuk saya, ini merupakan hal besar yang akan berpengaruh bagi kelangsungan hidup para pecinta film dan perfilman di Indonesia. Para pecinta film setia bisa saja meninggalkan kebiasaan menonton mereka di bioskop akibat aturan yang menjemukan dan menghilangkan esensi dari budaya mengantri bioskop yang sebenarnya. Ekonomi, status, jabatan atau apalah yang mereka anggap itu sebuah keemasan sebenarnya hanya sesaat. Saya berharap banyak pemerhati sinema di Indonesia memperhatikan hal kecil ini, karena sesungguhnya menurut saya esensi hal yang besar terbentuk dari hal-hal kecil pula. Budaya mengantri sudah menjadi bagian dari budaya menonton di bioskop. Salam pecinta film.

Anton Soegito

Artikel SebelumnyaMidnight in Paris, Fantasi Woody Allen dan Kota Paris
Artikel BerikutnyaWe Need to Talk About Kevin: Silangsunting Seorang Pribadi
memberikan ulasan serta artikel tentang film yang sifatnya ringan, informatif, mendidik, dan mencerahkan. Kupasan film yang kami tawarkan lebih menekankan pada aspek cerita serta pendekatan sinematik yang ditawarkan sebuah film.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.