Bumblebee (2018)
114 min|Action, Adventure, Sci-Fi|21 Dec 2018
6.7Rating: 6.7 / 10 from 189,881 usersMetascore: 66
On the run in the year 1987, Bumblebee finds refuge in a junkyard in a small California beach town. On the cusp of turning 18 and trying to find her place in the world, Charlie Watson discovers Bumblebee, battle-scarred and broken.

Lelah dengan seri film Transformers? Tentu tidak bagi para pembuatnya karena seri ini merupakan ladang emas yang sejauh ini selalu sukses dipanen. Kehabisan formula cerita untuk sekuelnya, kini film prekuel menjadi targetnya. Sosok robot cilik, Bumblebee yang menjadi salah satu daya tarik seri ini, kali ini menjadi tokoh utamanya. Sang produser, Michael Bay, juga sineas yang menggarap semua seri sebelumnya, kini mempercayakan kursi sutradara pada Travis Knight. Knight lebih dikenal sebagai produser animasi yang menggarap film-film animasi unik, seperti Coraline, Paranorman, hingga Kubo and the Two Strings (debut sutradara). Bumblebee dibintangi oleh Hailee Steinfeld, John Cena, serta John Ortiz. Dengan berbekal bujet US$ 102 juta, mampukan Bumblebee mengembalikan pamor seri Transformers yang buruk di mata kritikus film?

Filmnya mengambil latar waktu sekitar dua dekade sebelum peristiwa dalam Transformers (2007). Di film pertamanya, latar sosok Bumblebbe memang tak jelas karena kita hanya tahu sang robot sudah berada di bumi jauh sebelum Optimus Prime dan kawan-kawan datang ke bumi. Film ini mengisahkan bagaimana Bumblebee pergi dari tempat asalnya, planet Cybertron yang di ambang kehancuran akibat Decepticons. Optimus mengutus sang robot ke bumi untuk menjaga planet ini sebelum mereka semua kelak ke sana.

Bumblebee tiba di planet bumi pada tahun 1987. Rusak berat akibat pertarungannya dengan militer AS dan satu robot Decepticons yang mengekornya, akhirnya membuat mesin sang robot pun mati. Hingga seorang gadis remaja bernama Charlie Watson (Steinfeld), menemukannya di gudang rongsokan milik pamannya dalam wujud mobil VW Beetle. Charlie yang juga ahli mesin, rupanya mampu menghidupkan mesin mobil, dan Bumblebee pun bangun dari tidur panjangnya. Namun, Bumblebee ternyata kehilangan memori masa lalu dan kemampuannya berbicara. Petualangan sang robot dengan sang gadis pun dimulai.

Saya yakin sebagian besar penonton pasti sudah menikmati trailer-nya. Kisah filmnya kurang lebih sudah tampak dari trailer-nya, atau setidaknya arah cerita pasti sudah tak sulit untuk diantisipasi. Agak sedikit menganggu juga karena momen-momen aksi penting serta humor semua sudah ditampilkan di trailer-nya. Rasanya sungguh menjengkelkan.

Baca Juga  The Finest Hours

Plot film ini memang sedikit mirip dengan seri pertama Transformers yang mengisahkan hubungan antara manusia dengan robot, namun kini memang sedikit lebih dalam. Berbeda dengan Sam Witwicky (Shia LaBeouf) dan Bumblebee, hubungan sang robot dengan Charlie memang lebih emosional. Chemistry antara keduanya terjalin secara perlahan dan nuansa keluarga juga terasa kental, termasuk problem psikologis sang gadis yang kehilangan sosok ayahnya. Sosok Bumblebee seolah membuatnya melupakan semua masalahnya. Jika saja pembuat film berani mengambil resiko dengan lebih memperdalam sisi drama ketimbang aksi-aksi reguler serinya, bisa jadi filmnya bakal lebih baik lagi.

Rasanya, untuk pencapaian visualnya, Bumblebee adalah yang terbaik di serinya. Pencapaian CGI-nya benar-benar sangat realistik dan natural. Walau tak ada adegan hingar-bingar pertempuran belasan robot dan pesawat angkasa, seperti sebelumnya, namun aksi-aksi kecil yang hanya terjadi di garasi dan di dalam rumah  Charlie adalah pencapaian yang istimewa. Walau pertarungan aksinya dalam skala kecil tetap saja mampu disajikan sangat baik. Hanya kalau bicara aksinya, kadang aksi kelewat berani yang dilakoni Charlie sungguh tak masuk akal hingga ia tidak sampai tewas atau cedera berat. Entah sudah berapa kali sang gadis selalu selamat dari semua serangan yang mengarah ke dirinya atau sang robot. Entah bagaimana ia selalu selamat dari ledakan bom atau berondongan peluru yang begitu dahsyat. Rekan menonton sebelah saya sampai bilang, ini cewek punya sembilan nyawa apa ya? Hal ini memang agak mengendurkan sisi realisme yang sudah ditonjolkan filmnya dengan baik sejak awal. Ya sudahlah, susah mau komentar soal ini, namanya juga film fiksi ilmiah.

Walau Bumblebee terasa sebagai pengulangan formula seri pertamanya, namun film prekuel ini adalah sebuah peningkatan jauh dari semua sekuel Transformers. Setting latar 1980-an, tentu bakal memberikan efek nostalgia luar biasa bagi penonton dewasa yang masa mudanya hidup di era ini. Juga sisipan humor serta tentu lagu-lagu hits yang populer pada era ini. Minimnya sosok robot yang beraksi justru membuat filmnya lebih nyaman (tidak bising) untuk dinikmati ketimbang semua sekuel sebelumnya. Opsi membuat kisah prekuel memang kini sudah bukan hal langka, terutama untuk franchise yang sangat populer seperti ini. Tak banyak seri film yang sudah mencapai tahap ini. Seperti halnya, seri X-Men atau Marvel Cinematic Universe (MCU) yang terbukti telah mampu mengeksplorasi kisahnya ke arah yang sama sekali belum tersentuh. Bumblebee sudah mencoba mengarah ke sini, namun bagi saya masih sedikit kurang berani.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaSpider-Man: Into the Spider-Verse
Artikel BerikutnyaKelahiran Nolan: Muslihat Para Penguntit
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.