Captive State (2019)
109 min|Action, Horror, Sci-Fi|15 Mar 2019
6.0Rating: 6.0 / 10 from 57,639 usersMetascore: 54
Set in a Chicago neighborhood nearly a decade after an occupation by an extraterrestrial force, 'Captive State' explores the lives on both sides of the conflict - the collaborators and dissidents.

Captive State adalah film fiksi ilmiah – thriller garapan Rupert Wyatt yang kita kenal dengan film sukses bergenre sama arahannya, Rise of the Planet of the Apes (2011). Dengan bujet sebesar US$ 25 juta, film ini dibintangi beberapa aktor-aktris ternama, seperti John Goodman, Vera Farmiga, hingga rapper Machine Gun Kelly. Trailer-nya sudah dirilis sejak lama dan menampilkan sesuatu yang menjanjikan, lantas seperti apa filmnya?

Alkisah bumi bersama umat manusia di dalamnya, kini telah 9 tahun sejak diinvasi makhluk asing. Dengan teknologi yang lebih superior, pemerintahan di dunia dengan mudahnya diambil-alih oleh para alien dan semua aturan hukum yang berlaku kini dibuat oleh mereka. Tujuan utama mereka ingin mengambil seluruh sumber daya alam yang ada di bumi dan memanfaatkan umat manusia untuk mengambilnya. Sementara, mereka tinggal jauh di bawah bumi yang diistilahkan “The Closed Zones”. Di setiap wilayah, mereka juga menunjuk perwakilan manusia sebagai otoritas untuk memastikan aturan berjalan sesuai kemauan mereka. Selama 9 tahun tersebut, di Kota Chicago telah berulang kali terjadi upaya anarkis dari gerakan pemberontakan yang dimotori kelompok garis keras bernama Phoenix. Plot filmnya secara sederhana menggambarkan upaya pihak pemberontak untuk melakukan aksi “terorisme” serta penyelidikan pihak otoritas untuk mengantisipasi sekaligus menghabisi para pelaku dan otak dari gerakan tersebut.

Rumit? Percaya saja, kisah filmnya jauh lebih rumit dari ini. Hampir sepanjang film, kita benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Bahkan, jika saya tidak salah (saking rumitnya jadi tampak simpang-siur), film ini bertutur nonlinier dalam satu segmennya. Ketimbang film fiksi ilmiah, Captive State lebih terlihat sebagai film politik dan menggambarkan bagaimana plot kelompok Phoenix untuk melakukan aksi anarkinya. Ketika kita mencoba untuk berpikir keras ke setiap adegan untuk mengetahui apa yang terjadi maka jelas akan membuang waktu dan tenaga. Kemasan visual filmnya yang “kasar” dengan handheld kamera dan editing yang amat cepat, tidak akan mungkin membuat kita nyaman berpikir. Mencoba menonton lebih tenang, mengalir, menikmati, serta membiarkan semua informasi masuk dulu ke otak tanpa perlu dipikir. Akhirnya memang semuanya jelas walau mungkin saja saya melewatkan beberapa detil cerita. Melelahkan? Amat melelahkan, ke luar bioskop serasa sehabis bepergian jauh.

Baca Juga  The Girl Who Got Away

Plot rumit sejenis memang hal biasa dalam plot film, seperti film thriller, film politik, atau semacamnya. Kita tak tahu, mana sisi yang benar dan salah karena semua dibuat abu-abu. Semua serba tak jelas. Captive State pun nyaris sama. Hanya bedanya, ini film fiksi ilmiah dan menyangkut sosok alien. Sejauh ini, untuk genrenya, rasanya ini adalah film yang paling kompleks untuk urusan plot. Berbeda dengan Arrival yang mempertanyakan motif mereka (alien) datang ke bumi, Captive State hanya ingin menggambarkan siapa dalang dibalik semuanya dan ini baru terjawab secara pasti pada adegan akhir! Bahkan hingga ending credit pun memberikan informasi tentang perkembangan cerita setelahnya.

Captive State dengan kerumitan plotnya terhitung segar dan brilian untuk genre fiksi ilmiah, namun sayangnya tidak untuk kemasan visualnya. Untuk kemasan plot yang rumit macam ini jelas membutuhkan penampilan yang maksimal dari para pemainnya, dan nyatanya mereka semua bermain brilian. Fokus kita jelas berpikir ke arah plot sehingga penampilan mereka seolah terbaikan. Bicara pencapaian CGI untuk bujet filmnya, rasanya masih terlalu buruk jika kita bandingkan dengan District 9 yang mirip kemasan visualnya. Sayang, jika saja digarap sedikit lebih mapan secara teknis, bisa jadi film ini bakal lebih sukses secara komersial.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaHellboy
Artikel BerikutnyaAve Maryam
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.