Kriteria dalam Menilai Film

Tolak ukur atau kriteria yang digunakan seorang kritikus film bisa jadi akan berbeda ketika menilai berbagai film. Bahkan ketika menilai sebuah film, seorang kritikus bisa jadi menggunakan kriteria yang berbeda dengan kritikus lainnya. Seratus orang kritikus yang menilai sebuah film, bisa jadi akan memiliki 100 opini yang berbeda pula. Inilah yang membuat kritik film menjadi sangat mengasyikkan karena setiap kritikus memiliki tolak ukur yang berbeda-beda. Kita dapat melihat ratusan tulisan dengan berbagai perspektif dari para kritikus ketika Avengers: Endgame dirilis. Bayangkan, berapa banyak hal yang bisa kita dapatkan dari tulisan-tulisan tersebut. Coba kalian baca saja beberapa ulasan, rasanya tidak akan ada satu opini atau argumen yang sama.

Tolak ukur atau kriteria dalam menilai film bisa beragam. Orang awam tentu akan menilai film secara umum dari apa yang ia lihat dan jarang sekali berkomentar soal cerita atau bahkan pencapaian estetik. Sementara kritikus film memiliki tolak ukur, tidak hanya secara visual yang terlihat, namun apa yang terkandung di dalamnya, termasuk cerita, pesan, isu, simbol, makna, dan sebagainya. Sepanjang pengalaman saya menonton, mengulas film, serta membaca ulasan kritikus lain, terdapat beberapa tolak ukur atau kriteria yang sering kali digunakan kritikus film. Kriteria-kriteria ini tentunya tidak bisa dipisahkan satu sama lain, namun bisa saling berkaitan dan saling tumpah tindih sesuai dengan film yang akan diulas. Kriteria ini akan selalu berkembang dinamis sejalan perkembangan industri dan seni film itu sendiri. Apa saja kriteria yang akan dipakai tentu tergantung pilihan dan kejelian seorang kritikus dalam membaca filmnya.

Realitas

Kriteria ini merujuk pada seberapa jauh filmnya sesuai dengan kenyataan. Untuk mengulas film bergenre biografi dan dokudrama seringkali kritikus menggunakan kriteria ini karena memang yang dibandingkan adalah kisah, tokoh, serta peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi. Semakin kisahnya bergeser dari faktanya semakin besar pula kemungkinan filmnya mendapat kritik negatif. Sering kali pula pencapaian akting para pemainnya mendapat apresiasi tinggi karena kemiripan dengan sosok aslinya. Kriteria ini tidak hanya terbatas pada aspek cerita saja, namun bisa pada setting, busana, musik, serta lainnya.

Moral

Kriteria ini sering kali digunakan untuk film-film yang mengabaikan sisi moral secara berlebihan, seperti unsur seks, kekerasan, sadisme, serta unsur lainnya yang dianggap tabu. Film-film aksi, remaja, atau komedi sering kali menjadi sasaran penggunaan kriteria ini karena dianggap tidak mendidik dan tak bernilai. Kadang pula sineas melakukan ini karena mengatasnamakan estetik dan tak jarang pula diapresiasi tinggi oleh banyak kritikus, khususnya film-film yang berorientasi ke festival. Persepsi dan batasan nilai moral dalam sebuah film memang sering kali kabur dan sangat tipis.

Target Penonton

Target penonton terkait dengan sasaran penonton yang dituju filmnya. Entah ini bisa klasifikasi umur, kelompok penonton, atau penikmat genrenya. Sebuah film dianggap berhasil jika sebuah film ditonton sesuai dengan target penontonnya? Belum tentu. Film yang ditujukan penonton anak-anak jelas berbeda dengan dewasa atau remaja. Film animasi lazimnya dibuat untuk anak-anak tapi tren sekarang berbicara lain karena kini pun bisa ditonton orang dewasa untuk memperluas target penontonnya. Film-film produksi Pixar, misalkan saja Inside Out, konsepnya tentu tak mudah untuk ditangkap oleh anak-anak, namun film ini justru diapreasiasi tinggi para kritikus karena kedalaman kisahnya. Film aksi laga yang memiliki penikmat fanatik, lazimnya diapreasiasi tinggi karena mampu memuaskan para penikmat genrenya. Sisi cerita kerap dikesampingkan karena fokus filmnya memang bukan ke sini, walau bisa jadi banyak kritikus memiliki opini yang berbeda.

Sisi Hiburan

Sisi hiburan atau entertain adalah kriteria yang paling ringan di antara semuanya. Tujuan menonton film bagi kebanyakan orang adalah mencari hiburan. Jika penonton terhibur maka filmnya dianggap berhasil. Ini mengapa seri Transformers bisa laris sedemikian rupa sekalipun dihujat habis oleh para kritikus. Lantas mengapa kriteria ini digunakan para kritikus? Ini tentu saja tergantung filmnya. Film bagus pun bisa menghibur dan ini sering kali diapresiasi tinggi kritikus. Adalah sebuah impian jika film yang bernilai estetik tinggi, namun mampu menghibur penontonnya. Beberapa contohnya adalah film seperti Mad Max: Fury Road serta Avengers: Endgame. Untuk mencapai keseimbangan ini jelas bukan perkara mudah bagi para pembuat film dan semua kritikus film mengetahui hal ini.

Inovatif/Orisinalitas

Kriteria ini bisa jadi adalah yang paling favorit di kalangan kritikus. Pada dasarnya seorang kritikus akan selalu mencari sesuatu yang baru dan segar dalam sebuah film. Sebuah inovasi adalah pencapaian langka karena film yang diproduksi sejak era silam sudah terlampau banyak dan sulit untuk menemukan sesuatu yang baru. Kriteria ini sangat luas dan mewakili aspek apa saja dalam film, baik cerita, teknik, cara bertutur, genre atau franchise, gaya sineas, setting, efek visual, musik, serta lainnya. Beberapa contohnya, film arahan Christopher Nolan, Memento dipuji karena cara bertuturnya yang unik karena melawan kelaziman. Film produksi Rusia, Russian Ark dipuji karena mampu mengemas kisahnya menggunakan teknik long take selama 96 menit dengan ribuan figurannya. Dua film arahan James Cameron, Terminator 2 dan Avatar dipuji habis karena inovasi efek visualnya. Overlord dipuji kritikus karena mampu mengkombinasi dengan brilian genre perang, horor, dan fiksi ilmiah. Kejelian dalam menemukan inovasi ini tentu bergantung pada pengetahuan dan pengalaman seorang kritikus film.

Kompleksitas

Film bisa dikemas sederhana untuk menyajikan kisahnya yang kompleks. Sebaliknya, film bisa dikemas kompleks untuk menyajikan inti kisahnya yang sederhana. Semua kritikus film pasti mengetahui hal ini dan tentu berbeda dengan opini penonton awam. Seorang kritikus umumnya tidak menginginkan sebuah kisah yang gamblang (mudah dibaca). Sebagian penonton, terlebih seorang kritikus, pasti akan memilih cerita yang mampu mengusik rasa penasaran mereka dengan alur kisah yang tak mampu mereka antisipasi (tebak) sebelumnya. Film-film yang berorientasi ke festival film sering kali menggunakan cara bertutur yang tak lazim dan tak mudah dicerna oleh penonton awam. Penonton diajak berpikir untuk mengikuti alur kisahnya yang tak jarang dikemas secara absurd hingga mengaburkan pesan filmnya. Semakin menggelitik dan membuat rasa penasaran tentu semakin mendapat apresiasi lebih. Hal ini mengapa film-film festival lebih diapresiasi kritikus dan penikmat film serius ketimbang penonton yang mencari hiburan semata.

Baca Juga  10 Pertanyaan Besar dalam Infinity War

Motivasi Penceritaan

Semua cerita pasti memikili hubungan kausalitas (sebab akibat). Tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa sebab. Tiap aksi dan peristiwa dalam cerita memiliki motivasi yang menggerakkan alur kisahnya. Hal ini sering kali menjadi kekurangan sebuah film dari sisi penceritaannya, yakni motivasi yang lemah. Jika seorang kritikus memberi komentar tentang naskah filmnya yang lemah berarti ia bicara soal motivasi penceritaannya yang lemah. Lemahnya latar belakang masalah atau penokohan tentu berujung pada lemahnya konflik cerita dan penyelesaian masalah sehingga membuat kisah filmnya terasa datar, membosankan, atau bahkan membingungkan. Seorang kritikus harus mampu membaca cerita dengan cermat karena bisa saja pembuat film meletakkan motivasi penceritaan di tengah atau penghujung kisahnya, atau bahkan bisa memberikan tanda melalui elemen sinematik yang muncul hanya sekilas. Semakin kompleks kisah filmnya biasanya semakin kabur motivasi penceritaannya, demikian pula sebaliknya. Kritikus film akan selalu mencari tantangan baru melalui film-film yang tidak mudah dibaca oleh penonton awam.

Logika dan Realitas Narasi

Logika dan realitas setiap film bisa berbeda tergantung konteks genre dan kisah di mana cerita tersebut berjalan. Kadang dalam cerita film memungkinkan semuanya bisa terjadi dan serba kebetulan. Apa ini masuk akal atau tidak, semua tergantung konteks kisah dan genrenya. Jika misalkan sebuah bom meledak di dekat seseorang, maka efeknya pasti akan mematikan, atau setidaknya membuat seseorang luka parah. Ini bisa terjadi di film bergenre perang atau drama biografi, namun tentu tidak untuk film bergenre komedi. Seekor T-Rex tentu tak bisa dinalar jika eksis di dunia nyata, namun tidak untuk film fiksi ilmiah, seperti Jurassic Park. Tapi tentu T-Rex tersebut tidak akan mampu berbicara seperti halnya karakter Rex dalam seri film Toy Story. Pahamkan? Konsekuensi ini tentu membawa pengaruh besar ke hubungan kausalitas (sebab akibat) alur kisah filmnya. Hal ini yang perlu dicermati dan dipahami betul seorang kritikus film. Lepasnya kausalitas cerita berdasarkan logika dan realitasnya inilah yang dinamakan lubang plot (plot hole). Lubang plot sejauh ini adalah cara paling efektif bagi kritikus film untuk menyerang sebuah film. Kadang ada logika yang bisa mereka tolerir dan ada yang tidak, semua tergantung argumen mereka. Semua tergantung kejelian mereka membaca filmnya.

Intertekstual

Kriteria ini sederhananya membandingkan satu teks dengan teks lainnya. Kriteria ini merupakan salah satu yang paling favorit digunakan oleh kritikus film. Misalnya, satu film adaptasi novel tentu akan ideal jika dibandingkan dengan sumber aslinya. Komparasi ini akan memberikan perbedaan besar karena gaya bertutur tulisan dan audiovisual tentu saja berbeda. Teks tentu tidak hanya tulisan, namun juga bisa berupa hal lainnya. Satu film Harry Potter, tidak hanya bisa kita bandingkan dengan novelnya saja, namun juga film seri Potter lainnya, sineas yang menggarapnya, hingga genrenya. Tak ada yang salah jika seri Harry Potter dibandingkan secara estetik dengan seri Lord of the Rings karena sama-sama bergenre fantasi. Komparasi ini tentu akan memberikan sebuah ulasan yang menarik.

Estetik/Sinematik

Di antara semua kriteria, aspek estetik adalah yang paling luas. Aspek ini menyangkut semua unsur sinematik yang ada dalam film serta bagaimana sebuah film dikemas dan divisualkan. Hal ini menyangkut setting, tata busana, tata pencahayaan, akting pemain, sinematografi, efek visual, editing, hingga musik dalam filmnya. Sering kali kriteria ini tumpang tindih dengan inovasi pencapaian teknis sebuah film. Hal ini adalah mengapa seorang kritikus film harus fasih betul bahasa sinematik serta bagaimana diterapkan dalam filmnya sesuai konteks naratifnya. Inilah yang disebut gaya sinematik. Tiap film dan sineas pasti memiliki gaya sinematiknya masing-masing. Seorang kritikus yang handal pasti sudah paham betul ini dan tak sulit untuk mengidentifikasi gaya seorang sineas. Seorang kritikus pasti sudah paham betul gaya sineas berkelas, macam Kubrick, Spielberg, Nolan, Wes Anderson, hingga Tarantino. Aspek estetik yang dieksplorasi oleh tangan dingin sineas-sineas berpengaruh inilah yang membuat seni film berkembang dari masa ke masa.

Isu/Tema

Isu dan tema adalah seringkali yang membuat sebuah film dikategorikan masterpiece. Film-film perang hebat, seperti Appocalypse Now, Platoon, Deer Hunter, hingga Saving Private Ryan tidak hanya semata menawarkan adegan aksi perang, namun juga kedalaman tema dengan sisi manusiawi yang menyentuh. Sebuah film seringkali tidak secara gamblang menyajikan tema atau isunya begitu saja, namun dikaburkan melalui alur plot dan kemasan filmnya yang memikat. Seri aksi populer Fast & Furious mengusung tema keluarga di balik aksi kebut-kebutannya. Avatar dengan segala keindahan visualnya bicara soal sumber daya alam yang secara rakus dieksplorasi manusia. Wonder Woman menjadi pelopor “kekuatan perempuan” dalam industri film di AS. Semuanya ini adalah yang menjadikan industri dan seni film bisa berkembang dinamis sejalan dengan perkembangan sejarah umat manusia. Seorang kritikus film harus selalu awas dengan semua isu besar yang ada karena film selalu mencerminkan apa yang tengah terjadi dengan umat manusia di bumi ini. Isu global warming, rasisme, agama, terorisme, LGBTQ, ketidakadilan, ketimpangan sosial, kapitalisme, korupsi masih menjadi isu besar yang sering digunakan dalam banyak film dalam dua dekade terakhir.

NEXT: EKSPEKTASI DAN PENILAIAN FILM

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.