Ekspektasi dan Penilaian Film

Setelah mampu membaca dan mengevaluasi filmnya, lalu apa yang menjadi dasar bagi kritikus film untuk memberikan penilaian berupa skor pada filmnya? Suka tidak suka, semua kritikus harus memberikan sebuah penilaian yang mempertegas hasil evaluasinya dengan menyajikan pernyataan yang intinya, film itu baik atau buruk. Hasil penilaian seorang kritikus film lazimnya menggunakan angka atau huruf. Bisa berupa skor angka seperti 0 – 10 atau 0 – 100, atau bisa pula menggunakan prosentase 0% – 100%. Bisa pula berupa huruf seperti A – F dan kadang menambahkan minus atau plus, seperti B-, C+, dan sebagainya. Bisa diartikan angka nol adalah penilaian yang terburuk dan angka 100 adalah yang terbaik atau jika huruf, A adalah yang terbaik dan F yang terburuk.

Lalu bagaimana kritikus bisa memberi skor sebuah film, misalkan saja B+. Mengapa tidak A-? Penilaian ini dari mana asalnya?  Jelas penilaian ini tidak absolut. Penilaian sebuah karya film seperti halnya karya seni yang lain, bukan seperti halnya angka matematika yang mutlak. Penilaian ini hanyalah sebuah angka atau skor yang mendekati penilaian intuitif seorang kritikus film. Satu hal yang jelas penilaian ini didasarkan ekspektasi dari film yang ditonton. Setiap kritikus film, pasti memiliki ekspektasinya masing-masing sebelum mereka menonton sebuah film. Ekspektasi ini muncul tentu karena mereka memiliki banyak referensi film sejenis yang mereka anggap ideal. Bagaimana ekspektasi ini diukur adalah berdasarkan pengalaman dan pengetahuan sang kritikus sendiri dalam melihat konteks filmnya.

Jika sebuah film yang ia tonton sesuai dengan ekspektasinya, maka lazimnya filmnya dianggap memiliki pencapaian rata-rata. Jika lebih dari ekspektasinya maka filmnya dianggap baik, begitu pun sebaliknya. Sebagai contoh, jika saya sendiri menonton sebuah film dan sesuai dengan ekspektasi ketika sebelum menonton, maka skornya berkisar antara 50% – 60% atau jika huruf bisa jadi berskor C. Jadi, kira-kira pembaca bisa mengetahui sendiri jika lebih dan kurangnya. Jika misalkan skor filmnya 100%, maka tentu filmnya istimewa sekali dan jauh melebihi ekspektasi. Ini tentu memberi pertanyaan lagi tentang bagaimana ekspektasi ini diukur? Tentu tidak akan sama ekspektasinya jika kita menonton film Hollywood yang mapan berbujet ratusan juta dolar dengan film festival atau bahkan film independen. Atau, jika kita menonton film-film karya Tarantino atau Nolan tentu ekspektasinya akan berbeda dengan film arahan sineas muda debutan.

Ekspektasi terkait erat dengan kriteria yang akan kita gunakan dalam menilai filmnya. Mudahnya begini, jika kita menonton film Hollywood berbujet besar dengan bintang-bintang ternama dan digarap sineas papan atas, maka ekspektasi kita sebelum menonton filmnya bisa jadi akan tinggi sekali. Semua kriteria dan tolak ukur yang kita miliki untuk menilai filmnya, semua kita siagakan. Sementara jika kita menonton film independen yang digarap sineas muda debutan dan hanya berbujet USD 50.000, tentu kriteria yang kita gunakan menjadi lebih longgar. Beberapa aspek teknis, seperti kualitas gambar, setting, atau efek visual tentu bisa kita tolerir. Ekspektasi pun lebih rendah. Ini menjadi alasan mengapa film-film non-Hollywood lebih mudah mendapat skor tinggi.

Baca Juga  Lokakarya Kritik Film Dokumenter di FFD 2019

Alhasil, kita juga tidak bisa lantas menyamakan sebuah penilaian begitu saja. Misal saja, skor film Hollywood sebesar 60% tentu berbeda dengan skor film independen sebesar 70%. Pembaca tulisan kritik ini bisa saja akan beranggapan film indie tersebut lebih baik dari film Hollywood. Belum tentu! Kita harus melihat dulu argumen si penulis. Sekali lagi, penilaian sebuah film bukan sesuatu hal yang mutlak karena banyak kriteria yang harus kita pertimbangkan. Misal saja, skor penilaian saya untuk film bencana, 2012 lebih rendah (60%) daripada film bencana produksi Norwegia, The Wave (70%). Jelas secara bujet (USD 200 juta) dan skala produksi, 2012 jauh lebih mapan efek visualnya daripada The Wave. Namun, The Wave dengan hanya berbujet USD 6 juta bisa menghasilkan satu film bencana unik yang menegangkan dengan efek visual yang tak kalah dengan 2012. Kesimpulannya, jika satu film berbujet rendah mampu bersaing secara kualitas dengan film yang berbujet jauh lebih tinggi, tentunya ini adalah satu nilai plus. Paham sekarang kan? Ini mengapa industri film Hollywood kini banyak menggunakan talenta muda baru yang memiliki visi dan kemampuan tinggi hanya karena satu film independen bahkan film pendek mereka, sukses secara kritik.

Mengkritik film jelas bukan pekerjaan mudah, terlebih kritikus jurnalis seperti apa yang saya lakukan. Kritikus memberi kesan bisa dengan mudahnya menghakimi sebuah film dengan skor semau mereka. Banyak pembuat film atau fans sebuah film membenci para kritikus. “Memang kamu bisa membuat film lebih baik?”, begitu lazimnya respon mereka. Kritikus film tidak perlu membuktikan apapun. Mereka umumnya bukan pembuat film dan juga tak peduli dengan prosesnya, yang mereka nilai adalah hasil filmnya. Mereka adalah penikmat film sejati dan medium ini adalah passion mereka. Kritikus film yang baik, tentu memiliki ilmu film yang mumpuni berbekal pengalaman menonton serta pula pengalaman hidup mereka. Mereka tentu tidak asal bicara. Namun, terkadang mereka juga manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Ini tentu manusiawi. Kritikus sebesar mendiang Roger Ebert pun mengakui jika ia pernah keliru membaca sebuah film. Ebert juga pernah mengatakan, semakin lama seorang kritikus film akan semakin sulit terpuaskan ketika menonton. Kriteria dan tolak ukur yang mereka gunakan tentu semakin tinggi serta semakin bijak. Mereka inilah yang menjadi penyeimbang industri film serta garda terdepan penyokong pengembangan medium film yang merupakan bagian dari seni yang akan terus eksis hingga akhir jaman.

Artikel ini dimuat pada tanggal 10 Juni 2019.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.