The Curious Case of Benjamin Button (2008)

166 min|Drama, Fantasy, Romance|25 Dec 2008
7.8Rating: 7.8 / 10 from 693,461 usersMetascore: 70
Tells the story of Benjamin Button, a man who starts aging backwards with consequences.

The Curious Case of Benjamin Button (2008) diinsipirasi dari cerita pendek berjudul sama karya F. Scott Fitzgerald. Uniknya, film drama ini diarahkan oleh David Fincher yang sebelumnya kita kenal menggarap film-film thriller berkualitas, yakni Seven (1995), The Game (1997), Fight Club (1999), Panic Room (2002), hingga Zodiac (2007). Fincher untuk kali ketiga berkolaborasi dengan Brad Pitt yang kali ini didampingi Cate Blanchett dan Tilda Swinton. Benjamin Button mendapat banyak pujian kritikus dimana-mana serta digadang-gadangkan bakal berjaya dalam ajang Academy Awards tahun ini. Dalam ajang tersebut Benjamin Button mendominasi perolehan dengan 13 nominasi Oscar, termasuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, serta Aktor Utama Terbaik.

Tak lama setelah Perang Dunia Pertama berakhir, seorang bayi lahir di New Orleans. Sang ibu meninggal dan sang bayi pun terlahir cacat dengan wajah buruk rupa. Melihat wujud si bayi, sang ayah membuang bayi tersebut dan meletakkannya di teras sebuah panti jompo. Seorang perawat panti jompo, Quenny (Taraji P. Henson) menemukan bayi tersebut dan merawatnya sekalipun ditentang kekasihnya. Quenny memberi nama bayi tersebut, Benjamin. Selang beberapa tahun, anehnya, walau usia Benjamin masih belia namun wajahnya terlihat sangat tua sepantaran dengan para penghuni panti jompo. Pada masa inilah Benjamin berteman dengan gadis sebayanya, Daisy tiap kali ia menjenguk neneknya. Sejalan dengan waktu, semakin usianya bertambah Benjamin justru tampak semakin muda. Benjamin lalu memutuskan meninggalkan kampung halamannya untuk melihat dunia dengan menjadi awak kapal laut milik rekannya, kapten Mike. Peristiwa demi peristiwa dilalui Benjamin (Pitt) hingga ia bertemu kembali dengan Daisy, (Blanchett), pujaan hatinya.

Satu hal yang paling menarik dalam film ini adalah ide ceritanya yang orisinil. Kisah seseorang yang tidak pernah menua telah berulang-kali muncul dalam film-film fantasi dan fiksi-ilmiah macam Interview with the Vampire, AI, hingga Hancock. Ide tentang seseorang yang tumbuh terbalik dari usia tua ke muda memang tampak tak masuk akal. Rasanya kita harus merubah cara berpikir seperti layaknya menonton film-film bergenre fantasi. Dalam film ini proses terbalik tua ke muda diartikan sebagai sebuah “kutukan” si pembuat jam yang putranya mati di medan perang. Ia membuat sebuah jam dinding besar di stasiun diluar kelaziman dengan memutar balik arah jarum jam sehingga bergerak mundur. Harapannya agar putranya yang tewas dapat kembali padanya. Pada momen inilah Benjamin lahir dengan wajah bak orang berumur sangat tua. Jika Anda tidak mampu menerima konsep ini rasanya sulit menerima film ini.

Baca Juga  Cop Out

Kisah filmnya sendiri dituturkan secara kilas-balik melalui sebuah diary milik Benjamin yang dibacakan putri Daisy, Caroline, di saat ibunya menjelang ajal. Cerita melalui sudut pandang karakter Benjamin mendominasi filmnya sementara sepertiga akhir cerita didominasi Daisy. Film berdurasi hampir tiga jam ini memiliki rentang waktu cerita yang lama, yakni sekitar 80 tahunan namun tidak sekalipun kita merasa jenuh. Sejak Forest Gump rasanya baru Benjamin Button inilah sebuah film kembali mampu bertutur demikian manis dan ringan mengisahkan suka duka perjalanan hidup sang tokoh. Kisah roman tarik ulur antara Benjamin dan Daisy sendiri juga nyaris mirip dengan Forest dan Jenny.

Keberhasilan film ini juga amat didukung oleh pencapaian teknisnya. Sepanjang film kita disuguhi gambar-gambar yang menawan melalui komposisi visual yang indah, serta pula setting kota yang sangat meyakinkan. Satu pencapaian paling mengagumkan adalah aspek tata rias wajah yang mampu menampilkan wajah Benjamin yang semakin muda dari waktu ke waktu dengan sangat meyakinkan. Dari sisi pemain, aktor dan aktris sekelas Pitt dan Blanchett seperti biasa bermain sangat baik namun tak ada yang istimewa dari akting mereka. Rasanya justru Taraji P. Henson bermain sangat menonjol sebagai ibu angkat Benjamin, Quenny. Satu hal mengesankan dari sisi pencapaian editing tampak pada montage sequence sesaat sebelum Daisy tertabrak. Montage sequence tersebut menampilkan shot demi shot dengan begitu manis, aksi-aksi orang-orang yang kelak mempengaruhi tragedi tersebut.

Cara Benjamin Button memutar waktu bisa pula kita maknai sebagai simbol. Si pembuat jam mengingatkan pada kita untuk selalu menghargai hidup. Selang beberapa puluh tahun kemudian jam tua di stasiun pun akhirnya diganti dan “kutukan” pun berakhir. Sebuah pemandangan yang “mengerikan” sekaligus menyentuh di akhir filmnya ketika Benjamin “tua” akhirnya meninggal di pangkuan Daisy. Benjamin sempat menatap Daisy sebelum menutup mata untuk selamanya. Daisy sendiri menghabiskan sisa-sisa akhir hidupnya di rumah sakit tatkala kota New Orleans dilanda Badai Katrina. Shot akhir memperlihatkan jam tua stasiun di sebuah gudang penyimpanan. Jam tersebut masih bekerja (berputar terbalik) namun lambat laun terendam oleh banjir. Hati manusia tak akan pernah berubah namun sudah kodratnya manusia (kini) semakin tidak menghargai hidup.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaAustralia
Artikel BerikutnyaMiniatur
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.