Cerita drama roman anak kuliahan, Catatan si Boy, lekas menarik perhatian besar dari khalayak pada tahun 1980-an lewat Catatan si Boy (1987). Ada banyak versi yang telah dibuat pula darinya sejak saat itu. Termasuk yang terbaru adalah Catatan si Boy arahan Hanung Bramantyo dengan skenario garapan Upi Avianto. Melalui produksi keroyokan MD Pictures, MVP Pictures, dan Dapur Film, para pemain dalam versi masa sekarang ini antara lain Angga Yunanda, Syifa Hadju, Rebecca Klopper, Elmand, Michael James, Alyssa Daguise, dan Arya Vasco. Sebagai sajian adaptasi dari film masa lampau, tentu saja apa perbedaan antara Catatan si Boy kini dan dulu?

Boy (Angga) adalah anak kuliahan idola banyak orang. Sifat, sikap, perilaku, serta tabiatnya luhur dan terpuji. Hartanya berlimpah, tampan pula. Kesehariannya menyenangkan bersama kedua orang tua dan adik, Ina (Rebecca), serta dua sahabatnya, Andi (James) dan Emon (Elmand), juga sang kekasih, Nuke (Syifa). Sampai tibalah hari Nuke meninggalkan Boy, karena tidak mampu lagi melawan orang tuanya. Dalam masa-masa patah arang dan galau, Boy lantas bertemu Vera (Alyssa) dan kian dekat sejak interaksi mereka pada agenda orientasi kampus (ospek). Mula-mula segalanya memang terasa menyenangkan dan Andi, Emon, serta Ina pun mendukung mereka. Namun, sepucuk surat tiba tak berselang lama kemudian.

Membaca Catatan si Boy tak cukup hanya dari visual dan penulisannya semata, melainkan pula terkait norma dan logika keberadaan sosok pemuda terlampau ideal macam Boy. Terlepas dari mengadaptasi cerita lamanya dari era 1980-an, apakah memang benar-benar ada seorang anak kuliahan kaya raya, ketua BEM di kampus, tampan, berbudi baik, taat ibadah, setia, tulus, berhati bersih dan murni, jago bela diri, sayang keluarga, hormat kepada orang tua, berjiwa penolong, solidaritas tinggi, loyal kepada teman, pintar bermusik, gentleman pula? Kesempurnaan penokohan Boy agaknya memang terlalu fiktif, dilihat dari sudut pandang mana pun. Bakal jadi lebih jauh lagi bila dibaca dari sudut pandang relevansinya dengan masa sekarang.

Bicara ihwal norma juga tidak mungkin mengabaikan komparasi dengan film terdahulu, Catatan si Boy (1987). Pada waktu itu, segala yang dilakukan Boy terasa normatif pada zamannya serta wajar pula dengan sisi religusitas Boy. Kecuali banyaknya adegan berciuman. Namun, untuk Catatan si Boy sekarang justru bertolak sangat jauh. Satu sisi memang ada kemungkinan karakter dengan religiusitas dan kekayaan harta macam Boy di Jakarta, sesekali mengadakan pesta dengan musik ala diskotek atau datang ke klub malam. Pun dengan perilaku yang masih menoleransi berciuman. Namun, nilai-nilai norma masa kini dan masa lampau bagaimanapun tetap harus dibedakan. Sayangnya dalam hal ini, Catatan si Boy tetap menunjukkan pergaulan Boy yang masih sama saja.

Baca Juga  Amsterdam

Kendati demikian, Catatan si Boy menunjukkan naskah yang lebih baik ketimbang film terdahulunya. Dalam hal ini, Upi dapat mengolah dengan baik jalinan alur cerita dari satu plot ke plot lainnya, dari satu lokasi ke lokasi berikutnya, dari satu peristiwa ke peristiwa selanjutnya. Tak ada yang terasa berlompatan. Drama percintaan Boy dengan Nuke dan Vera tersampaikan secara halus dan manusiawi. Kesenangan mereka, perpisahan, keberanian Boy menghadapi ayah Nuke, kegalauan Boy di mata ayah dan adiknya, serta Andi dan Emon. Salah satunya ialah pertemuan Boy dan Vera dalam Catatan si Boy masa kini lebih terstruktur dengan baik daripada yang dulu.

Walau karakterisasi untuk para tokoh Catatan si Boy kurang berhasil terlihat dari penampilan fisik pemeran Andi dan Vera. Michael James terkesan kurang mampu memberikan ciri khas tersendiri dalam setiap kemunculan Andi, sebagaimana yang dilakukan Dede Yusuf. Lebih-Lebih Alyssa Daguise sebagai Vera masa kini yang ternyata tidak berhasil meninggalkan kesan sekuat Meriam Bellina dulu. Namun, pada saat yang sama pemilihan Lukman Sardi dan Marcella Zalianty sebagai orang tua Nuke, serta Dede Yusuf dan Mona Ratuliu menjadi orang tua Boy sangat tepat. Pun demikian totalitas Elmand sebagai Emon. Tokoh ikonik karib Boy yang hingga kini masih kerap dipersonifikasi oleh banyak pelawak.

Demikian pula visualnya. Ada banyak temuan variasi gambar dalam Catatan si Boy yang menyegarkan mata dan mendukung motivasi adegannya. Bukan semata menampilkan adegan alakadarnya. Melainkan menyusun masing-masingnya dalam sajian komposisi yang tepat. Ketika datang kesempatan untuk menghadirkan adegan drama antara Boy dan Nuke agar lebih emosional menjelang penghujung cerita, long take pun tak segan-segan digunakan. Soal musik, sejak awal memang dimaksudkan untuk nostalgia lagipula, sehingga menggunakan lagu yang sama dengan sedikit aransemen menyesuaikan zaman sekarang.

Catatan si Boy menyampaikan penceritaan dengan lebih terstruktur rapi dan visual yang menyenangkan, walau aspek normatifnya menimbulkan kejanggalan. Hasil kerja lumayan dari sang sutradara yang kemunculannya belakangan sudah tidak sesering dulu. Pun kepekaan Upi dalam memaksimalkan pengolahan alur dalam skenario agar terhindar dari lompatan-lompatan peristiwa. Meski tetap saja, agak sukar dinalar sosok sedemikian sempurna dan ideal macam Boy memang betul-betul ada di luar kisah fiksi. Namun, dalam cerita fiksi pun, seorang tokoh fiktif mestinya tetap memiliki satu atau dua kekurangan atau kelemahan agar penokohannya seimbang. Minimal sebagai seorang individu bernama manusia. Superhero saja punya. Boy siapa?

PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaFilm Strategis Melestarikan Bahasa Daerah, Merawat Kebudayaan, Menjaga Keragaman
Artikel BerikutnyaThe Last Voyage of Demeter
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.