cek toko sebelah 2

Usai enam tahun terlewati pasca-Cek Toko Sebelah (2016) rilis, Ernest Prakasa pun akhirnya secara resmi menghadirkan sekuelnya. Masih digawangi oleh orang yang sama, Cek Toko Sebelah 2 juga ia kerjakan dengan sang istri, Meira Anastasia. Namun drama keluarga dan komedi produksi StarVision Plus ini sedikit mengganti salah satu pemerannya dari Gisella Anastasia menjadi Laura Basuki –yang mana ini adalah keputusan tepat. Sisanya masih sama –bahkan dalam series-nya pula. Selain Ernest sendiri serta penampilan dari Widuri Sasono, ada Kin Wah Chew, Dion Wiyoko, Adinia Wirasti, dan Asri Welas. Setelah berulang kali mengaku khawatir untuk membuat sekuel, bagaimana akhirnya sekuel pertama yang Ernest buat ini?

Setelah keluarga Koh Afuk (Wah Chew) berhasil saling berbaikan, kini Erwin (Ernest) dihadapkan pada langkah baru dalam perjalanan hidupnya bersama Natalie (Laura). Kekasih yang ditemuinya di tepi jalan. Namun di tengah persiapan Erwin yang kian dekat untuk berangkat ke Singapura, ibu Natalie (Maya Hasan) memberikan tekanan kepadanya. Erwin yang semakin terbebani oleh berbagai tuntutan mengambil langkah-langkah yang menurutnya benar. Namun nahas, itu justru menjadikan masalahnya kian runyam. Sedangkan Yohan (Dion) dan Ayu (Adinia) yang kini bisa hidup lebih tenang dan tidak terlalu dipersulit keuangan juga menemui masalah mereka sendiri. Mereka, bahkan ibu Natalie, mesti mengentaskan diri untuk menuntaskan kesalahan masing-masing.

Kepiawaian seorang Ernest Prakasa dalam meracik cerita drama keluarga dan komedi memang tak perlu diragukan lagi. Walau Cek Toko Sebelah 2 sudah bukan lagi soal problematika pertokoan. Tidak lantas buruk. Hanya menjadi tidak cocok dengan judulnya saja. Setidaknya bukan seperti yang dilakukan Keramat 2: Caruban Larang yang sudah tidak keramat lagi, sebagaimana Keramat (2009). Kendati demikian, keistimewaan Ernest dalam menghadirkan kisah-kisah seperti dalam Cek Toko Sebelah 2 maupun Susah Sinyal terang-terangan sudah menjadi ciri khasnya. Saking kentalnya rasa dalam mengolah cerita drama keluarga, dia sendiri kurang jitu memformulasikan Teka-Teki Tika akhir tahun lalu. Bahkan sekuelnya ini punya skenario yang lebih rapi ketimbang pendahulunya.

Meski secara garis besar lebih rapi, tetapi masih terdapat sejumlah keteledoran tipis yang diakibatkan oleh penjelasan berlebihan. Tidak seharusnya setiap kalimat sarkastis atau kata-kata yang implisit menyinggung sesuatu selalu dibarengi penjelasan. Bagus untuk menyertakan penjelasan, tetapi tidak mesti semuanya. Ada maksud-maksud tersirat yang sebetulnya bisa memberikan efek lebih baik ke benak penonton, bila dibiarkan tanpa penjelasan atau menggantung. Bahkan bisa lebih afdal lagi jika mampu menyampaikan penjelasannya lewat gestur atau mimik muka berupa reaksi-reaksi spontan. Namun Ernest tampaknya terlalu terikat juga dengan pertimbangan segmentasi penonton.

Jika dibandingkan dengan Cek Toko Sebelah, pengembangan kelanjutan cerita dalam CTS 2 sebetulnya sangat sederhana. Minimal, kita bisa dengan mudah menebak akan ke mana arah angin membawa setiap tokoh. Meski Ernest dan Meira membuat para tokohnya berputar-putar terlebih dulu –yang mana itu wajar, sebelum pada akhirnya menunjukkan akhir dari empat keluarga. Keluarga Koh Afuk dan kedua putranya serta Ayu, keluarga Yohan dan istri dengan traumanya, keluarga ibu Natalie yang terlalu mengekang putrinya, serta perjalanan Erwin dan Natalie memperjuangkan pernikahan mereka. Walau pasangan suami-istri yang menulis skenarionya bersama-sama menyadari kewajiban CTS 2 untuk menjelaskan banyak hal dari CTS.

Masih menyoal skenario lagi, ada pula dialog-dialog lawakan yang ternyata anyep. Bukan soal selera humor, karena beberapa di antaranya pun terkesan berlebihan. Terlalu ambisius menjejalkan segala kemungkinan komedi ke dalam setiap momen dialog. Padahal tidak semua adegan dialog mengandung kesempatan untuk diisi lelucon. Tidak semuanya potensial untuk ditempati komedi. Meski memang tidaklah banyak. Namun bisa dikatakan cukup mengganggu.

Baca Juga  Critical Eleven

Chemistry asmara antara Erwin dan Natalie pun rupanya dapat ditampilkan dengan baik oleh kedua pemerannya. Terutama oleh Laura. Bahkan bisa dibilang, Laura bermain lebih luwes sebagai pasangan Erwin, ketimbang Gisella yang banyak menuntut dalam film sebelumnya. Cara seorang Laura membawakan karakter seorang perempuan muda yang tengah dimabuk asmara. Momen-momen komunikasi di antara dia dan Erwin dengan saling melempar lawakan. Kita mungkin sudah hapal pencapaian akting Ernest seberapa. Namun Laura dapat tampil ciamik dalam perannya. Pun jika dicermati baik-baik, rasanya memang ada detail dimensi karakter yang berubah antara Natalie dalam CTS dan Natalie dalam CTS 2.

Terlepas dari problematika skenarionya, Cek Toko Sebelah 2 yang terasa bermain-main sejak permulaan cerita benar-benar menunjukkan taringnya pada adegan klimaks. Ernest, lewat tangan orang-orang kameranya dapat secara efektif memaksimalkan puncak konflik tersebut dalam durasi pengambilan gambar yang lama. Ketika pertengkaran antarsemua orang di taman akhirnya memecahkan semua emosi yang mereka pendam sekian lama, dan ditampilkan dengan mengitari kedua tokoh utama. Valid untuk dianggap sebagai salah satu momen terbaik dalam Cek Toko Sebelah 2.

Kendati variasi ceritanya tidak signifikan ketimbang film-film sebelumnya, Cek Toko Sebelah 2 masih secara tipis menunjukkan perkembangan sang sineas dalam membuat film. Kedua penulis skenarionya memahami apa yang wajib mereka sampaikan dalam sekuel pertama, ketika film sebelumnya masih menyimpan beragam pertanyaan. Meski porsi cerita lebih banyak menyoroti kehidupan Erwin dan Natalie, CTS 2 masih memberi ruang untuk menghadirkan masa lalu traumatis dari Ayu. Walau garis besar alur ceritanya tertebak, tetapi Cek Toko Sebelah 2 masih mampu memperdalam emosinya sebagai film drama.

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaLookism
Artikel BerikutnyaGlass Onion: A Knives Out Mystery
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.