Cek Toko Sebelah (2016)

104 min|Comedy, Drama, Family|28 Dec 2016
8.1Rating: 8.1 / 10 from 974 usersMetascore: N/A
Right when everything is going well for Erwin, his father falls sick and asks him to drop everything and help out at the family store disappointing Yohan, his irresponsible older brother.

Cek Toko Sebelah merupakan film kedua besutan sutradara Ernest Prakarsa yang bekerja sama dengan Starvision Plus setelah debutnya, Ngenest. Setelah sukses film pertamanya yang menceritakan realitas kehidupan etnis Tionghoa, Ernest kembali dipercayakan untuk membuat film dengan mengangkat ide cerita yang sama. Pada film pertamanya, Ernest menghadirkan 24 orang komika untuk bermain di filmnya. Sementara pada Cek Toko Sebelah ini, Ernest menghadirkan 20 orang komika, termasuk 2 finalis Stand Up Comedy Academy yang sedang naik daun, Aci Resti dan Arafah Rianti.

Erwin (Ernest Prakarsa) sangat menikmati kehidupan dengan karirnya yang gemilang. Namun ketika Koh Afuk (Chew Kin Wah) jatuh sakit keadaan berbalik pelik ketika ia ingin mewarisi toko sembakonya kepada Erwin, putra kesayangannya. Sementara kakak Erwin, Yohan (Dion Wiyoko) sebagai anak sulung yang merasa lebih perhatian kepada kedua orang tuanya merasa paling berhak untuk menjadi penerus toko sembako tersebut. Koh Afuk tidak mempercayai Yohan dan lebih memilih Erwin sebagai penerusnya. Terjadi perselisihan di antara ketiganya dimana Erwin yang tidak ingin menjadi penerus toko dan Yohan yang justru mau menjadi penerus toko. Konflik memanas akibat persaingan dengan toko kelontong di sebelah yang tak ingin kalah dari toko milik Koh Afuk.

Cek Toko Sebelah menceritakan sebuah tradisi seorang anak Tionghoa yang sudah diberikan pendidikan tinggi oleh orang tuanya dan telah sukses pula namun harus dipaksa kembali untuk melanjutkan bisnis keluarga. Berbeda dengan Ngenest yang mentertawakan diri sendiri untuk menjadi bahan komedinya, Cek Toko Sebelah lebih memberikan fakta dan realita yang sedang hangat untuk menjadi bahan komedinya, seperti unsur LGBT, pelecehan seksual, hingga persoalan judi. Namun unsur-unsur tersebut dapat tersaji dengan baik tanpa ada kesan memaksa ataupun melecehkan ras tertentu. Seperti pada adegan judi yang dilakukan Yohan bersama teman-temannya membahas tentang tomat, timun, dan ketang apakah buah atau sayur, atau pun ketika adegan seorang resepsionis membahas tentang selfie kemudian berakhir dengan bermain game Angry Bird. Semuanya dapat dikemas dengan ringan dan segar. Mood penonton dapat terjaga dengan baik sepanjang film, kelucuan yang diberikan mampu membuat penonton seisi bioskop tertawa terbahak-bahak.

Baca Juga  Battle of Surabaya

Konflik cerita pada film ini, yakni perselisihan antara saudara, keinginan orang tua yang tidak sejalan dengan anaknya, hingga perselisihan pekerjaan rasanya sudah sering kali kita temui. Sekali pun begitu Ernest berhasil enyatukan ketiga konflik tersebut dengan cukup baik dan seimbang porsinya. Namun sayang penyelesaian setiap konflik kurang menggigit bisa jadi karena terlalu banyak konflik hingga pesan yang ingin disampaikan kurang membekas ke penonton. Seperti perselisihan Erwin dan Yohan yang hanya diselesaikan secara begitu mudah dengan awalnya saling menjatuhkan lalu timbul penyesalan yang membuat keduanya berbaikan.

Walau Ernest menghadirkan sejumlah komika lebih sedikit dari film pertamanya namun tidak mengurangi kelucuan filnnya. Setiap karakter komika yang hadir, diberikan dengan porsi “joke” yang pas dan tidak berlebihan hingga tidak ada satu komika yang terlihat menonjol. Ernest berhasil membagi peran setiap komika yang hadir sesuai dengan karakter asli sang lomika seperti Dodit Mulyanto, Abdur Arsyad, Awwe, Adjis Doa Ibu, Anyun Cadel, Arafah Rianti, Aci Resti, dan masih banyak lagi. Hingga kehadiran Kaesang Pangarep, Asri Welas, dan Tora Sudiro mampu memberikan film ini lebih berwarna dalam menyajikan joke-joke yang berbeda dengan para komika populer lainnya. Selain keberhasilan unsur komedinya, secara teknis film ini sudah tebilang baik dari segi sinematografi, editing, artistik bahkan hingga soundtrack-nya. Lagu-lagu yang dibawakan oleh The Overtunes dan GAC turut mengisi soundtrack film ini seperti Senyum dan Harapan menjadi theme song film ini.

Ernest sebagai sutradara sekaligus komika kembali menyajikan film komedi yang sukses menghibur penonton. Bahkan dibandingkan film sebelumnya, Cek Toko Sebelah tampak lebih matang dari segi teknis dan pengadeganan, dan yang terpenting sukses menghibur penontonnya. Para penggemar film komedi pasti bakal menanti karya-karya Ernest Prakarsa. Cek Toko Sebelah bisa menjadi pilihan baik bagi para penggemar film komedi di penghujung akhir tahun ini.

WATCH TRAILER

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.