Chronicle (2012)
84 min|Action, Drama, Sci-Fi|03 Feb 2012
7.0Rating: 7.0 / 10 from 265,335 usersMetascore: 69
Three high school friends gain superpowers after making an incredible discovery underground. Soon they find their lives spinning out of control and their bond tested as they embrace their darker sides.

Kisah tentang awal muasal sosok superhero bukan hal yang baru lagi. Rata-rata plot film superhero menyajikan latar belakang yang cukup dari bagaimana sang tokoh mendapatkan kekuatan supernya hingga menjadi pembela umat manusia. Batman Begins serta X-Men: First Class mencoba berbeda dengan memperdalam latar belakang tokoh-tokoh utamanya ke level yang belum pernah disentuh sebelumnya. Chronicle walau bisa dibilang idenya tak fresh namun mencoba sesuatu ke wilayah yang baru bagi genre superhero. Chronicle dari beberapa sisi bisa saja belum disebut sebagai genre superhero dan lebih mengacu ke genre fiksi ilmiah, namun kisahnya juga bisa mengindikasikan tentang asal muasal seorang superhero. Sepertinya sub genre superhero lebih tepatnya. Kisah film ini juga menggunakan pendekatan psikologis bagaimana sisi gelap manusia lebih berkuasa ketika emosi tak terkontrol, terlebih jika ia memiliki kekuatan fisik dan mental di atas rata-rata manusia. Great powers comes great responsibilities. Kisah filmnya secara detil dan sabar mampu mendeskripsikan semua aspek ini sejak Andrew, Matt, dan Steve mendapatkan kekuatan super hingga tuntutan bersikap dewasa serta bagaimana mereka mengontrol kekuatan mereka untuk kepentingan orang banyak serta melawan ego dan jiwa muda mereka sendiri.

Dengan menggunakan pendekatan gaya dokumenter ala The Blair Witch Project (editan dari video) film ini cenderung memisahkan jarak antara film dengan penonton. Kita seolah menonton film dokumenter dengan komposisi gambar seadanya dan gerak kamera yang kasar sering membuat mata lelah. Namun kisahnya yang menarik serta efek visual yang meyakinkan membuat kita sebentar saja larut dalam filmnya. Film ini juga konsisten menggunakan Point of view shot melalui sudut pandang kamera. Entah itu kamera milik Andrew, kamera orang lain, handphone, cctv, serta lainnya. Dengan hanya melalui sudut pandang kamera-kamera ini saja mampu dibangun rangkaian cerita yang dramatik serta mampu membangun ketegangan konflik yang semakin tinggi hingga klimaks cerita.

Baca Juga  Stillwater

Dengan bujet yang sangat minim tentu film ini tak mampu meyajikan efek visual yang wah seperti layaknya film-film superhero lazimnya. Namun justru dengan pendekatan gaya dokumenter yang digunakan mampu menghasilkan efek visual yang sangat realistik, seperti District 9 berhasil melakukan hal yang sama pula. Efek-efek visual supernatural, seperti menggerakkan benda-benda berukuran kecil hingga mobil benar-benar tampak seperti sungguhan. Satu lagi yang paling mengagumkan adalah ketika para tokohnya terbang di angkasa, kita seperti layaknya terbang sungguh di angkasa. Di klimaks filmnya, aksi sejenis mungkin pernah kita lihat di film-film X-Men, Iron Man,serta Hancock namun nuansa nyata disini benar-benar tak tertandingi.

Satu lagi yang tak bisa diremehkan adalah akting para pemain mudanya. Tiga tokoh utamanya bermain natural khususnya Dane DeHaan bermain ekspresif sebagai Andrew Detmer. DeHaan yang terbiasa bermain di seri televisi ternyata tidak canggung bermain di layar lebar. Andrew yang cenderung pendiam dan emosional menjadi kunci karena konflik filmnya ada di karakter ini. DeHaan mampu bermain sangat baik sebagai karakter Andrew yang “semi psikopat” terhitung sulit diperankan. Sementara Alex Russel dan Michael B. Jordan yang bermain sebagai Matt dan Steve mampu mengimbangi dengan baik.

Chronicle merupakan satu turning point lagi bagi genre superhero, setelah The Dark Knight dan Kick Ass. Pendekatan gaya dokumenter yang dipakai juga tak lazim untuk genre ini namun efek nuansa nyatanya sungguh luar biasa dan mampu menyatu sempurna dengan kisahnya walau tanpa ilustrasi musik. Dari sisi cerita, film ini menawarkan pendekatan psikologis yang lebih dari film-film superhero lainnya. Film ini banyak mengingatkan pada film perang Vietnam, The Deer Hunter, yang menggunakan pendekatan psikologis sejenis. Sejauh apa manusia bisa bertahan dalam tekanan psikologis yang begitu dahsyat. Dalam Chronicle tekanan psikologis adalah lingkungan, kekuatan super, dan ego mereka sendiri. Setelah semua pencapaian luar biasa diatas, muncul satu pertanyaan yang sangat mengganjal saat filmnya berakhir. Siapa orang yang mengedit potongan-potongan film ini?

MOVIE TRAILER

PENILAIAN KAMI
Total
100 %
Artikel SebelumnyaKejarlah Daku Kau Kutangkap, Komedi Romantis Rasa Indonesia
Artikel BerikutnyaMy Last Love, Kisah Melodrama Memilukan
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.