Crazy Rich Asians (2018)
120 min|Comedy, Romance|15 Aug 2018
7.5Rating: 7.5 / 10 from 32,539 usersMetascore: 74
This contemporary romantic comedy, based on a global bestseller, follows native New Yorker Rachel Chu to Singapore to meet her boyfriend's family.

Crazy Rich Asians adalah film komedi romantis garapan John M. Chu yang diadaptasi dari novel laris berjudul sama karya Kevin Kwan. Film berbujet US$ 30 juta ini dibintangi sederetan aktris-aktor Asia-Amerika, seperti Constance Wu, Henry Golding, Gemma Chan, Awkwafina, Ken Jeong, serta Michele Yeoh. Di luar dugaan, film ini sejak rilisnya sukses komesial luar biasa di AS dan dipuji banyak kritikus. Sukses film ini, kabarnya juga memicu film sekuelnya yang kini tengah dalam penggarapan.

Nick dan Rachel Chu adalah dua pasangan keturunan Cina yang tampak seperti pasangan kebanyakan di AS. Namun, Nick ternyata berasal dari keluarga kaya raya di Singapura. Rachel sendiri baru mengetahui hal tersebut ketika mereka diundang ke pesta pernikahan sahabatnya di sana. Walau Rachel adalah seorang akademisi terpandang, namun statusnya yang berasal dari kalangan bawah membuatnya sedikit kurang percaya diri. Terlebih, Nick ternyata tidak hanya berasal dari keluarga kaya biasa, namun adalah salah satu keluarga kaya paling berpengaruh di Singapura.

Formula roman di atas, jelas bukan sesuatu hal yang baru dan segar dalam film. Sejak Roman Holiday, Sabrina, Pretty Woman, hingga Notting Hill, semua mengisahkan kisah cinta dua sejoli yang berbeda status. Lantas apa yang unik dari Crazy Rich Asians? Apa yang baru dan segar di film ini adalah tokoh-tokohnya. Semua tokoh utama dan pendukung bahkan nyaris semua figuran adalah 100% orang Asia. Sesuatu hal yang tentu amat sangat langka dalam film-film Hollywood. Tak hanya kisah tentang “si kaya dan si miskin”, film ini juga sarat dengan nilai tradisi yang memang dijunjung tinggi kebanyakan bangsa Asia. Keluarga adalah nomor satu, dan sosok sesepuh (yang dituakan) memiliki hak untuk mengontrol kehidupan keluarganya, termasuk pula perkawinan. Kita sebagai orang Asia, tentu sudah akrab dengan tradisi ini, namun tentu berbeda halnya bagi orang barat.

Baca Juga  Narnia, Voyage of the Dawn Treader, Berakhir Sesaat Bermula

Kisahnya sendiri berjalan ringan dengan konflik-konflik yang tak sulit untuk kita antisipasi. Beberapa plot sisipan juga disajikan dengan konflik yang menarik. Ketimbang plot utamanya, subplot sosok Astrid (sepupu perempuan Nick) dan sang suami rasanya jauh lebih menarik jika digali lebih dalam. Tak banyak kejutan  bagi penikmat sejati film roman sejenis. Sisi komedi yang juga dominan sepanjang film (dimotori sosok Peik Lin) juga membuat alur kisahnya jauh dari kata membosankan. Beberapa adegan disajikan sangat menyentuh dan menawan seperti segmen pernikahan yang elegan diselingi nomor lawas, Can’t Help Falling in Love. Beberapa tembang populer dalam film ini adalah aransemen anyar yang dialih bahasa Inggris ke mandarin sehingga nuansa Asia terjaga sepanjang film. Satu pencapaian sangat mengesankan jelas terdapat pada sisi artistik dan kostum yang mampu menampilkan beberapa segmen pesta dengan demikian megah dan mewahnya.

Walau terasa konvensional untuk genrenya, Crazy Rich Asians menampilkan dominasi kasting Asia yang bermain memukau dengan kisah ringan dan menghibur plus pesan tentang tradisi dan keluarga. Rasanya film ini adalah salah satu “feel good movies” terbaik sejak dua-tiga dekade terakhir. Tak heran film ini bisa sesukses ini, dan sekuel pun bakal hadir dalam waktu dekat.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaValak Hantui Bioskop di Seluruh Dunia
Artikel BerikutnyaThe Predator
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini