Creed II (2018)
130 min|Action, Drama, Sport|21 Nov 2018
7.1Rating: 7.1 / 10 from 155,429 usersMetascore: 66
Under the tutelage of Rocky Balboa, newly crowned heavyweight champion Adonis Creed faces off against Viktor Drago, the son of Ivan Drago.

Setelah sukses komersial Creed, studio MGM dan Warner Bros. kini kembali merilis Creed II yang kini kehilangan nakhodanya, Ryan Coogler, digantikan oleh Steven Caple Jr. Siapa yang tak kenal Rocky, salah satu ikon sinema petinju legendaris yang diperankan Silvester Stallone dengan seri hingga enam filmnya. Creed merupakan spin-off yang juga masih menghadirkan sosok Rocky, dan kini ia kembali dalam sekuelnya. Selain Stallone, Creed masih dibintangi regulernya, yakni Michael B. Jordan, Tessa Thompson, Phylicia Rashad, serta pendatang baru Florian Munteanu, hingga muka-muka antagonis lama, Dolph Lundgren dan Brigitte Nielsen.

Setelah 3 tahun lalu ia kalah oleh Ricky Conlan, Creed kini menjadi penantang juara dunia WBC dan menantang sang juara Danny Wheeler hingga ia pun juara. Sementara di Rusia, seorang petinju muda Viktor Drago, mulai unjuk gigi sebagai pendatang dengan superioritas fisiknya. Ia adalah putra dari petinju Ivan Drago yang menewaskan Apollo Creed, 33 tahun silam. Seorang promotor melihat peluang besar ini dan ingin mempertandingkan kembali “Creed vs Drago” dalam sebuah laga yang pasti banyak dinanti orang.

Fans Rocky jelas bakal bernostalgia dengan film ini. Rocky 4 adalah termasuk film populer pada masanya, yang mengetengahkan plot “David vs Goliath”. Bisa jadi, penonton yang tak akrab dengan Rocky seri keempat ini bakal kesulitan menerima latar kisahnya karena semua ada di seri ini. Walau memang kisahnya tak fokus banyak ke sosok Ivan dan Viktor, namun ada baiknya jika menonton seri keempatnya sebelum menonton Creed II.

Sama seperti Rocky 4, formula Creed II nyaris mirip. Entah ini sebuah tribute, namun hasilnya formula plotnya menjadi terasa rutin. Alur plotnya menjadi terlalu mudah untuk diantisipasi. Sama sekali tak ada kejutan. None. Ini yang menjadikan filmnya tak ada greget. Sisi drama pun kini lebih ditonjolkan ketimbang seri pertama. Hubungan Creed dengan sang istri, Rocky, dan ibu, hingga ayahnya yang kini memang terasa lebih emosional tapi juga lagi-lagi tanpa greget. Seolah semua serba memaksakan formula yang sama (Rocky 4). Penulis naskah tak berani mengambil resiko dengan formula yang lebih segar, walau jalan ke sana rasanya tak mustahil dilakukan. Sayang.

Baca Juga  Under Water

Sisi akting jelas menjadi kekuatan film ini, baik dari semua pemain utama dan pendukungnya. Stallone adalah Rocky yang juga tak bisa lepas satu sama lain. Jordan pun demikian. Hanya saja tanpa sineas regulernya, Ryan Coogler, terasa ada yang hilang dari penampilan Jordan. Kehilangan Coogler juga rupanya berimbas ke sisi teknis. Tak ada lagi pertarungan “satu shot” (long take) yang menggairahkan bahkan montage pun tak lagi mengesankan. Datar. Semua terasa serba rutin tanpa ada gigitan berarti.

Melalui formula plot familiar, Creed II hanyalah terasa sebagai film rutin serinya yang tak lagi mampu melakukan pukulan Knock Out (KO). Dalam satu dialog antara Creed dan promotor Victor Drago, sang protagonis berujar, “Kamu melakukan ini semua (Creed vs Drago) hanya untuk uang”. Ini sama persis seperti kesan saya terhadap film ini. Michael B. Jordan (Creed) seolah kehilangan mojonya tanpa sang mentor (sineas), Ryan Coogler.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaSeminggu Tayang, Suzzanna Hampir Raih 2 Juta Penonton
Artikel BerikutnyaOne Cut of the Dead
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.