Dark Phoenix (2019)
113 min|Action, Adventure, Sci-Fi|05 Jun 2019
Rating: Metascore: N/A
Jean Grey begins to develop incredible powers that corrupt and turn her into a Dark Phoenix. Now the X-Men will have to decide if the life of a team member is worth more than all the people living in the world.

Dark Phoenix merupakan film ke-12 dari seri X-Men dan konon merupakan film penutup sejak seri ini muncul, dua dekade lalu. Uniknya, film ini diarahkan oleh Simon Kinberg yang juga merupakan debut sutradaranya, setelah sebelumnya ia menjadi produser dan penulis naskah beberapa film X-Men. Film berbujet US$ 200 juta ini dibintangi oleh bintang-bintang regulernya, yakni James McAvoy, Michael Fassbender, Jennifer Lawrence, Nicholas Hoult, Sophie Turner, dan ditambah pula oleh Jessica Chastain. Akankah Dark Phoenix mengakhiri seri X-Men ini dengan cara yang berkelas?

Alkisah beberapa tahun setelah peristiwa X-Men: Appocalypse, rutinitas sekolah mutan yang dipimpin Charles Xavier berjalan normal. Suatu ketika, X-Men mendapat misi ke luar angkasa untuk menyelamatkan pesawat ulak-alik yang terjebak suatu anomali solar flare. Misi berjalan baik, hanya saja terjadi insiden kecil yang nyaris menewaskan Jean Grey. Semua tampak normal hingga Jean mengalami perubahan besar pada kekuatannya yang tak mampu ia kendalikan, bahkan oleh Prof. X sekalipun.

Setelah dibuka dengan baik pada awal film, menjelang babak kedua, kisahnya justru mulai menurun, terutama sejak karakter Vuk (apa tidak ada nama yang lebih elegan lagi?) diperkenalkan. Kita memang tidak lagi memerlukan latar karakter protagonis, namun sosok antagonis ini tidak memiliki karisma sama sekali dengan bermodal rambut putih dan wajah yang dingin, serta gaya akting kakunya. Fokus kisahnya kini hanya pada karakter Jean Grey dan memang terasa dalam beberapa momen merupakan sedikit pengulangan alur kisah X-Men: The Last Stand yang juga fokus pada karakter yang sama.

Baca Juga  47 Meters Down

Berbeda dengan film-film X-Men sebelumnya, kisahnya berjalan dengan tempo lambat dengan orientasi ke drama ketimbang aksi. Alur kisahnya yang terlalu mudah diantisipasi juga membuat perjalanan adegan demi adegan terasa melelahkan karena tak ada kejutan sama sekali. Bahkan satu momen besar dalam filmnya, tak ada gigitan dan emosi mendalam di sini, sesosok penting ini bagai dianggap angin lalu. Satu lagi, musik tema X-Men juga hilang dan komposer kondang, Hans Zimmer menggantikannya dengan musik tema yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Tak buruk memang, hanya terasa out of tone dengan seri X-Men sebelumnya.

Naskah yang buruk, namun tidak demikian untuk sekuen aksinya. Bujet US$ 200 juta plus pengalaman seri sebelumnya, mestinya bukan hal yang sulit untuk menampilkan aksi-aksi CGI yang mengesankan. Satu aksi memukau disajikan dalam sekuen aksi kereta yang tengah berjalan. Rasanya ini boleh dibilang salah satu sekuen aksi terbaik dalam franchise ini. Efek visualnya sungguh sangat luar biasa. Sementara bicara sosok karakternya, tercatat hanya satu yang amat menonjol, yakni Magneto atau Eric Lehnserr. Sosok ini, seperti sebelumnya diperankan kuat oleh Fassbender dengan karismanya yang khas. Pihak studio (baru) sudah sepatutnya membuat film solo untuk karakter ini. Sementara sang bintang, Sophie Turner sebenarnya bisa tampil lebih mengintimidasi dan garang sebagai sosok Phoenix, namun sayangnya tidak.

Semua tentang Dark Phoenix memiliki tone berbeda dengan seri sebelumnya yang sekaligus mengakhiri seri X-Men dengan gaya penyutradaraan dan naskah yang buruk. Siapa sangka, Kinberg yang menulis naskah beberapa film seri ini justru membuat karya terburuknya dalam debut sutradaranya. Hak cipta karakter X-Men yang kini telah dimiliki Disney tentu memungkinkan untuk ditulis ulang untuk bisa masuk dalam Marvel Cinematic Universe. Bagaimanapun juga, seri X-Men telah mencatat sejarah serta menghasilkan beberapa film superhero berkualitas, macam Deadpool dan Logan. Kita juga masih menanti satu film lagi dalam seri ini, The New Mutants yang seharusnya dirilis tahun lalu, namun diundur rilisnya hingga awal tahun depan. Walau pesimis tapi kita lihat saja, siapa tahu ada kejutan.

 

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaGhost Writer
Artikel BerikutnyaKritik Film: Kriteria dan Penilaian
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.