Darkest Hour (2017)

125 min|Biography, Drama, History|22 Dec 2017
7.4Rating: 7.4 / 10 from 105,984 usersMetascore: 75
In May 1940, the fate of Western Europe hangs on British Prime Minister Winston Churchill, who must decide whether to negotiate with Adolf Hitler, or fight on knowing that it could mean a humiliating defeat for Britain and its empire.

Darkest Hour adalah film dokudrama produksi Inggris garapan sineas Joe Wright. Wright adalah sineas yang kita kenal menggarap film-film berkualitas macam, Pride & Prejudice serta Atonement. Film ini dibintangi aktor gaek, Gary Oldman yang memerankan PM Inggris, Winston Churchill, serta didukung Lily James, Kristin Scott Thomas, serta Ben Mendelsohn. Oldman telah meraih belasan penghargaan aktor terbaik termasuk dalam ajang Golden Globe baru lalu, dan sepertinya hanya tinggal menanti waktu untuk meraih Oscar dalam ajang Academy Awards bulan Maret mendatang.

Tahun lalu, momen Dunkirk dalam PD II telah difilmkan dengan sangat baik oleh Christopher Nolan. Fokus cerita film ini semata adalah aksi yang menggambarkan bagaimana perjuangan para prajurit sekutu dan warga Inggris dalam peristiwa ini. Sementara Darkest Hour berada di momen yang sama, hanya saja kita mendapatkan prespektif yang berbeda melalui perseteruan antara sang perdana menteri (PM) baru dengan lawan-lawan politiknya. Winston Churchill adalah sosok yang keras dan tegas yang kurang disukai lawan-lawan politiknya bahkan hingga raja Inggris. Film ini menggambarkan hari-hari awal kepemimpinan sang PM, dalam situasi serba sulit ketika pasukan sekutu di bawah tekanan pihak Jerman. Churchill harus mengambil sebuah keputusan penting yang bakal memengaruhi eksistensi negaranya bahkan Eropa Barat.

Secara singkat di awal menggambarkan bagaimana situasi politik di Inggris yang memanas karena perdana menteri lama dianggap tidak becus menanggapi situasi genting yang tengah terjadi. Churchill bukan sosok yang diinginkan partainya bahkan sang raja, dan melalui perspektif sang sekretaris baru, penonton mulai dikenalkan karakter yang keras ini dengan sangat baik. Tanpa banyak menggunakan adegan eksterior, film ini mampu memberikan pengembangan cerita serta ketegangan cerita dengan sangat baik. Kita bisa merasakan betul bagaimana situasi rumit dan maha berat yang dihadapi sang perdana menteri. Dengan tahap resolusinya yang sangat menyentuh, babak ketiga adalah segmen terbaik filmnya.

Baca Juga  The Woman in Black

Semua pencapaian cerita di atas, boleh jadi tidak ada artinya jika tidak didukung olen penampilan terbaik aktor dan aktrisnya. Gary Oldman rasanya tidak perlu lagi dikomentari banyak. Ia bermain lepas seolah bukan sang aktor yang tengah bermain. Bahkan sosok sang aktor pun sulit untuk dikenali karena riasan wajah dan make-up. Singkatnya, Oldman bermain dalam peran terbaik sepanjang karirnya. Para pemeran pendukung juga bermain tidak kalah baiknya, khususnya sang rival, Halifax yang diperankan Stephen Dillane, serta sang Raja George VI (Bertie) yang diperankan Ben Mendelsohn. Sosok raja yang gagap ini sudah kita kenal melalui film The King Speech. Di luar pencapaian akting, film ini juga beberapa kali menggunakan bahasa visual yang sangat menawan untuk menggambarkan posisi Churchill yang semakin terpojok melalui penggunaan “framing” sempit.

Tak perlu dipungkiri, Gary Oldman adalah kekuatan terbesar dalam Darkest Hour sekaligus mampu menggambarkan kekuatan dan keteguhan hati sang tokoh dalam menghadapi salah satu momen terbesar dalam sejarah umat manusia. Bisa jadi, kita memang tidak mengenal betul sang tokoh dan betapa penting perannya dalam Perang Dunia II. Melalui film ini, secara jelas kita bisa mengetahui, mengapa ia menjadi sosok yang begitu dikagumi hingga kini. Sosok yang rasanya sudah semakin langka di masa modern kini. Negeri ini rasanya butuh sosok seperti ini. Semoga film ini bisa menginspirasi para pemimpin di negeri ini.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaFlight 555
Artikel BerikutnyaNominasi Academy Awards Ke-90
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini