Darkest Hour (2017)

125 min|Biography, Drama, History|22 Dec 2017
7.4Rating: 7.4 / 10 from 236,263 usersMetascore: 75
In May 1940, the fate of World War II hangs on Winston Churchill, who must decide whether to negotiate with Adolf Hitler, or fight on knowing that it could mean the end of the British Empire.

Darkest Hour adalah film dokudrama produksi Inggris garapan sineas Joe Wright. Wright adalah sineas yang kita kenal menggarap film-film berkualitas macam, Pride & Prejudice serta Atonement. Film ini dibintangi aktor gaek, Gary Oldman yang memerankan PM Inggris, Winston Churchill, serta didukung Lily James, Kristin Scott Thomas, serta Ben Mendelsohn. Oldman telah meraih belasan penghargaan aktor terbaik termasuk dalam ajang Golden Globe baru lalu, dan sepertinya hanya tinggal menanti waktu untuk meraih Oscar dalam ajang Academy Awards bulan Maret mendatang.

Tahun lalu, momen Dunkirk dalam PD II telah difilmkan dengan sangat baik oleh Christopher Nolan. Fokus cerita film ini semata adalah aksi yang menggambarkan bagaimana perjuangan para prajurit sekutu dan warga Inggris dalam peristiwa ini. Sementara Darkest Hour berada di momen yang sama, hanya saja kita mendapatkan prespektif yang berbeda melalui perseteruan antara sang perdana menteri (PM) baru dengan lawan-lawan politiknya. Winston Churchill adalah sosok yang keras dan tegas yang kurang disukai lawan-lawan politiknya bahkan hingga raja Inggris. Film ini menggambarkan hari-hari awal kepemimpinan sang PM, dalam situasi serba sulit ketika pasukan sekutu di bawah tekanan pihak Jerman. Churchill harus mengambil sebuah keputusan penting yang bakal memengaruhi eksistensi negaranya bahkan Eropa Barat.

Secara singkat di awal menggambarkan bagaimana situasi politik di Inggris yang memanas karena perdana menteri lama dianggap tidak becus menanggapi situasi genting yang tengah terjadi. Churchill bukan sosok yang diinginkan partainya bahkan sang raja, dan melalui perspektif sang sekretaris baru, penonton mulai dikenalkan karakter yang keras ini dengan sangat baik. Tanpa banyak menggunakan adegan eksterior, film ini mampu memberikan pengembangan cerita serta ketegangan cerita dengan sangat baik. Kita bisa merasakan betul bagaimana situasi rumit dan maha berat yang dihadapi sang perdana menteri. Dengan tahap resolusinya yang sangat menyentuh, babak ketiga adalah segmen terbaik filmnya.

Baca Juga  Valkyrie

Semua pencapaian cerita di atas, boleh jadi tidak ada artinya jika tidak didukung olen penampilan terbaik aktor dan aktrisnya. Gary Oldman rasanya tidak perlu lagi dikomentari banyak. Ia bermain lepas seolah bukan sang aktor yang tengah bermain. Bahkan sosok sang aktor pun sulit untuk dikenali karena riasan wajah dan make-up. Singkatnya, Oldman bermain dalam peran terbaik sepanjang karirnya. Para pemeran pendukung juga bermain tidak kalah baiknya, khususnya sang rival, Halifax yang diperankan Stephen Dillane, serta sang Raja George VI (Bertie) yang diperankan Ben Mendelsohn. Sosok raja yang gagap ini sudah kita kenal melalui film The King Speech. Di luar pencapaian akting, film ini juga beberapa kali menggunakan bahasa visual yang sangat menawan untuk menggambarkan posisi Churchill yang semakin terpojok melalui penggunaan “framing” sempit.

Tak perlu dipungkiri, Gary Oldman adalah kekuatan terbesar dalam Darkest Hour sekaligus mampu menggambarkan kekuatan dan keteguhan hati sang tokoh dalam menghadapi salah satu momen terbesar dalam sejarah umat manusia. Bisa jadi, kita memang tidak mengenal betul sang tokoh dan betapa penting perannya dalam Perang Dunia II. Melalui film ini, secara jelas kita bisa mengetahui, mengapa ia menjadi sosok yang begitu dikagumi hingga kini. Sosok yang rasanya sudah semakin langka di masa modern kini. Negeri ini rasanya butuh sosok seperti ini. Semoga film ini bisa menginspirasi para pemimpin di negeri ini.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaFlight 555
Artikel BerikutnyaNominasi Academy Awards Ke-90
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses