Deadpool (2016)

108 min|Action, Comedy, Sci-Fi|12 Feb 2016
8.0Rating: 8.0 / 10 from 1,235,817 usersMetascore: 65
A wisecracking mercenary gets experimented on and becomes immortal yet hideously scarred, and sets out to track down the man who ruined his looks.

Deadpool, superhero adaptasi Marvel, semakin meramaikan genre superhero yang kini tengah dalam era emasnya. Deadpool terhitung adalah film ke-8 dari X-Men franchise. Di tengah puluhan film superhero yang ada dalam dua dekade kebelakang, apa lagi yang mau ditawarkan tokoh superhero konyol ini? Di luar dugaan, Deadpool memberikan sentuhan baru bagi genre superhero dengan gaya kemasan yang sangat sinematik plus tribut terhadap sinema itu sendiri. Karakter ini sendiri sebenarnya pernah muncul dalam X-Men Origins: Wolverine dengan aktor yang sama namun kali ini lebih disesuaikan dengan komiknya, dan kisahnya kali ini mengabaikan film tersebut. Tidak seperti superhero lazimnya, Deadpool bukanlah sosok yang pantas menjadi teladan sehingga boleh dibilang karakter anti-hero.

Wade Wilson (Ryan Reynolds) adalah mantan anggota kesatuan khusus yang kini bekerja sebagai seorang “preman” yang bekerja untuk siapa saja yang mengupahinya. Di saat puncak bahagia hidupnya bersama sang pacar, tak disangka Wade mengidap kanker ganas di tubuhnya. Frustasi membuatnya menerima tawaran sebuah pengobatan alternatif yang diluar dugaan justru membuatnya menjadi manusia “abadi” namun harus dibayar dengan kulit bak terbakar di sekujur tubuhnya. Dengan berkedok topeng, Wade memburu Francis (Ed Skrein), orang yang bertanggung jawab menjadikan dirinya seorang monster.

Dari sejak pembuka filmnya telah tampak keunikan filmnya yang bermain-main dengan opening credit konyol yang jarang kita temui dalam film. Separuh kisah filmnya dituturkan “nonlinier” melalui teknik kilas-balik yang digunakan secara efektif untuk menjelaskan cerita. Bagi penonton awam bisa jadi memang agak membingungkan namun tokoh utamanya sendiri yang bertindak sebagai narator membuat informasi cerita lebih mudah dicerna. Satu hal yang paling unik adalah pelanggaran terhadap tembok keempat yang sering dilakukan sang tokoh. Tokoh Wade/Deadpool seringkali berbicara ke arah kamera (penonton) yang jelas tujuannya adalah memancing tawa penonton dengan dialog-dialog yang amat konyol. Deadpool digambarkan sebagai tokoh superhero yang banyak polah dan bicara, tak pernah diam, gaya bahasanya kasar, asal omong, dan tidak mempedulikan lingkungan bahkan penonton.

Baca Juga  The Wrecking Crew | REVIEW

Tidak hanya itu Deadpool bahkan seringkali melewati batasan tembok keempat dengan memberi komentar tentang film itu sendiri, franchise, dan bahkan di luar filmnya. Beberapa kali karakter Wolverine diolok-olok termasuk pula sang bintang, Hugh Jackman. Bahkan dalam satu adegan Wade berkomentar tentang sang aktor (Ryan Reynolds) sendiri. Sungguh hal baru yang amat jarang kita lihat dalam medium ini. Puluhan tribute dan referensi dari film-film lain mendominasi dialog dan adegannya. Bahkan hingga post credit scene-nya adalah sebagai tribute (Ferris Bueller’s Day Off) juga sekaligus mengolok-olok post credit scene yang pernah ada sebelumnya. Post credit scene ini saya anggap adalah yang terbaik sekaligus terkonyol yang pernah ada.

Genre superhero jelas tidak lepas dari adegan aksi dan penggunaan CGI. Adegan-adegan aksinya yang cepat dan dinamis memang sangat sadis dan vulgar untuk genre sejenis. Film ini jelas bukan tontonan untuk anak-anak. Darah dan organ tubuh yang terputus adalah pemandangan yang lazim dalam film ini. Amat menghibur memang namun sedikit kelewat sadis. Seperti kata Wade, ini bukan film superhero tapi film horor. CGI jelas menjadi faktor keberhasilan adegan-adegan aksinya, seperti di adegan awal juga adegan klimaksnya yang hingar-bingar dengan tambahan dua karakter tamu dari X-Men. Hal yang membedakan sekuen aksi Deadpool dengan film-film superhero lain adalah karakter Deadpool ini sendiri yang amat kelewat konyol. Kita bisa tertawa geli melihat polah sang jagoan di momen-momen aksi ini.

Di luar adegan aksinya yang kelewat sadis, Deadpool adalah film superhero yang cerdas, lucu dan amat menghibur, serta sejauh ini adalah tokoh superhero paling sinematik yang pernah ada. Dialog menjadi salah satu nilai lebih film ini dan tak ada aktor lain selain Reynolds yang pas memerankan tokoh ini. Deadpool menjadi bagian dari X-Men Universe, yakni film-film superhero adaptasi Marvel diluar Marvel Cinematic Universe. Deadpool memang bukan untuk konsumsi anak-anak namun mampu menambah perbendaharaan baru bagi genre superhero yang semakin lama sulit dicari orisinilitasnya. Menonton Deadpool adalah sebuah pengalaman sinematik yang amat menyegarkan dan menggairahkan.

Film Superhero dari Masa ke Masa : https://montasefilm.com/1159/

Watch Movie Trailer

PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaLondon Love Story
Artikel BerikutnyaTalak 3
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

1 TANGGAPAN

  1. Gilak yang ngeriew, tajam dan kompleks sekali. Salut buat Montase and all team. Antara dua hal yg saya rasakan setelah baca review diatas. Antara makin penasaran utk nonton “Wild Superhero movie” (dibaca: Marvel with Deadpool), sama berasa sudah nonton aja setelah membacanya. Gilak!! Sekali lagi kalian memang tajam!!
    Sukses buat Montase!!

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses