Death Wish (2018)

107 min|Action, Crime, Drama|02 Mar 2018
6.3Rating: 6.3 / 10 from 76,436 usersMetascore: 31
Dr. Paul Kersey is an experienced trauma surgeon, a man who has spent his life saving lives. After an attack on his family, Paul embarks on his own mission for justice.

Bruce Willis kembali dalam peran tipikalnya. Kita tahu aktor ini naik daun menjadi aktor laga sejak Die Hard beberapa dekade silam, dan sukses dengan beberapa sekuelnya. Setelah beberapa tahun terakhir banyak bermain dalam film aksi medioker, Willis kini menggantikan peran Charles Bronson dalam seri yang hits di tahun 1970-an, Death Wish. Seri aslinya juga sempat diproduksi beberapa sekuelnya, walau sukses, namun dianggap pengamat sebagai medioker. Film remake-nya kini, digarap oleh Eli Roth (Hostel) dengan banyak mengganti unsur cerita dari kisah aslinya. Ekspektasi memang tinggi, namun hasilnya sungguh di luar dugaan.

Paul Kersey (yang aslinya seorang arsitek) adalah seorang dokter bedah di Chicago yang hidup bahagia bersama istri dan putrinya. Musibah terjadi, seperti bisa tampak di trailer-nya, dan kisah pun dimulai. Plot berjalan sabar, persis seperti saya yang menonton untuk menanti sesuatu terjadi di filmnya. Hal yang ditunggu tak kunjung datang. Alur plot berjalan terlalu tipikal genrenya, bahkan amat mirip dengan plot The Brave One (Jodie Foster), dan film yang saya sebut ini jauh berbeda kelas. Saya juga tidak berharap plot aksi macam film-film Liam Nesson, tapi Bruce Willis adalah John McClane, for God sake! Sang aktor telah stereotip dengan sosok ikonik ini. Ketika aktor ini sudah begitu melekat dengan peran jagoan, maka agak aneh rasanya melihat sang tokoh harus belajar menembak dan gugup dengan senjata. Semuanya terasa salah. Tak ada komen soal plot karena semua sudah tampak di trailer.

Hal yang menarik setelah separuh durasi, bagi saya sudah bukan plotnya, namun ke mana arah filmnya jika dikaitkan dengan isu senjata api di AS. Baru beberapa minggu lalu, tragedi kekerasan senjata api terulang lagi untuk kesekian kalinya di sebuah sekolah di Florida dengan belasan orang tewas. Tragedi ini rasanya sudah jamak di AS. Saya penasaran, Death Wish, ingin berpihak ke mana? Plot filmnya jelas mengarah ke sosok preman yang main hakim sendiri dan membunuh secara brutal para kriminal. Berulang kali, reporter radio memberikan polling pada pendengar, “Aksi main hakim sendiri seperti ini, Anda setuju atau tidak?”. Bahkan di filmnya digambarkan secara jelas betapa mudahnya untuk mendapatkan senjata api beserta ijinnya. Namun, tak ada jawaban yang tegas di filmnya.

Baca Juga  The Predator

Sekalipun sang jagoan telah kembali, Death Wish tak mampu memberikan sesuatu apapun yang baru dari plot tipikal genrenya yang sudah terlalu jenuh. Daripada susah payah membuat film medioker macam ini, mengapa tidak membuat sekuel Die Hard jika hanya ingin sukses komersial. Setidaknya pembuat film bisa membuat naskah yang lebih inovatif untuk aktor laga yang sudah dikenal baik oleh penonton. Di-ending, sang dokter, melakukan gestur yang sama dengan film aslinya, yakni menembak sang pencuri dengan gestur tangannya yang membentuk pistol. Semoga ini tidak berujung pada produksi sekuelnya.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaRed Sparrow
Artikel BerikutnyaThe Shape of Water
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.