Den of Thieves (2018)

140 min|Action, Crime, Drama|19 Jan 2018
7.0Rating: 7.0 / 10 from 122,863 usersMetascore: 49
An elite unit of the LA County Sheriff's Dept. and the state's most successful bank robbery crew clash as the outlaws plan a seemingly impossible heist on the Federal Reserve Bank.

Den of Thieves merupakan film aksi pencurian garapan sineas debutan Christian Gudegast. Sang sineas sebelumnya pernah menggarap naskah A Man Apart dan London Has Fallen. Ia kini bereuni kembali dengan sang aktor, Gerard Butler, yang sama-sama juga bertindak menjadi produser dalam film ini. Sang sineas yang juga sering menggarap video klip juga merekrut penyanyi rapper ternama, 50 Cent dan O’Shea Jackson Jr, yang juga putra rapper dan aktor kenamaan, Ice Cube. Film ini banyak mengkasting aktor nonbintang untuk peran pentingnya, sebut saja Pablo Schreiber, Evan Jones, serta  Cooper Andrews.

Satu perampokan mobil bank yang aneh, didalangi Merrimen menarik perhatian Nick, deputi sheriff Kota Los Angeles. Nick bersama tim elitnya, berusaha mencari tahu apa sebenarnya niat Merrimen dan rekan-rekannya. Merrimen ternyata berniat mencuri uang dari Bank Federal yang dijaga teramat ketat dengan perencanaan yang matang. Kucing-kucingan pun terjadi antara sang penegak hukum dan sang perampok.

Dengan informasi teks, film dibuka dengan data statistik yang menggambarkan betapa seringnya kejadian perampokan bank di kota Los Angeles. Satu aksi perampokan dengan tembak menembak seru disajikan dengan amat menawan di pembuka filmnya. Selanjutnya, nyaris separuh film berjalan dengan tempo lambat dan cenderung membosankan. Pada segmen ini layaknya film drama, plotnya lebih fokus ke proses perencanaan dan penyelidikan para tokohnya yang disajikan bergantian antara pihak Merrimen dan Nick. Sisi drama terasa kental, terlebih sisi keluarga juga sedikit disinggung, walau ini memang menambah sisi manusiawi kisahnya. Dalam perkembangan, kisahnya menjadi semakin menarik ketika aksi “cat & mouse” dan perang psikologis antara Merrimer dan Nick semakin memanas. Masalah pekerjaan menjadi personal, mirip rivalitas antara tokoh yang diperankan Al Pacino dan De Niro dalam Heat (1995). Hal ini yang menjadi kunci keberhasilan filmnya karena kita berhasil dialihkan untuk membuat kejutan besar di-ending.

Beberapa film aksi-pencurian sejenis dalam beberapa tahun terakhir bermunculan dengan pendekatan cerita dan estetik yang berbeda, sebut saja The Town, Triple 9, Baby Driver, hingga Logan Lucky. Namun, nuansa realita dalam adegan aksinya layaknya Heat memang sulit dicari tandingan, dan Den of Thieves rasanya mampu mendekati pencapaian ini. Adegan aksi tembak-menembak di segmen pembuka menggambarkan satu rangkaian aksi yang terasa begitu nyata dan menakutkan, terlebih lagi dalam segmen klimaksnya. Pencapaian suara desingan peluru yang membahana tanpa didominasi iringan musik semakin menambah ketegangan yang begitu nyata. Satu lagi yang patut mendapat pujian penuh adalah para kastingnya. Gerard Butler tak perlu diragukan memang sempurna untuk peran polisi berperangai keras dan kasar seperti ini, namun ia juga bisa tampak begitu rapuh ketika ia mengunjungi putrinya di sekolah. Para Pemain lainnya, khususnya Schreiber dan Jackson, rasanya tinggal menanti peran yang bakal melambungkan nama mereka.

Baca Juga  Searching

Den of Thieves merupakan film aksi-pencurian berkelas dengan dukungan penuh kastingnya, lengkap dengan segala aksi dan kejutannya. Boleh jadi, film ini secara tema memang bukan lagi hal baru, namun penggambaran kedalaman sisi psikologis karakternya tanpa kejutan di akhir pun sudah cukup membuat film ini layak disebut film bagus. Walau jelas bukan tandingan Heat, namun film ini patut ditonton karena drama dan aksi yang amat menghibur, khususnya bagi para penggemar genrenya.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaCloverfield 4 Telah Selesai Produksi?
Artikel BerikutnyaDownsizing
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.