Despicable Me 4 (2024)
95 min|Animation, Adventure, Comedy|03 Jul 2024
6.4Rating: 6.4 / 10 from 6,463 usersMetascore: N/A
Gru, Lucy, Margo, Edith, and Agnes welcome a new member to the family, Gru Jr., who is intent on tormenting his dad. Gru faces a new nemesis in Maxime Le Mal and his girlfriend Valentina, and the family is forced to go on the run.

Seperti banyak diprediksi, Gru dan para Minions kembali beraksi! Despicable Me 4 tercatat adalah film keenam dari seri Despicable Me. Seri ini tercatat sebagai salah satu franchise terlaris dan tersukses dengan raihan total USD 4,5 milyar dan bujet hanya USD 378 juta (untuk 5 film). Tak heran, jika seri ini bakal terus diproduksi dalam beberapa tahun mendatang. Sekuel ketiga arahan Chris Renaud ini masih dibintangi regulernya, yakni Steve Carrell, Kristen Wiig, Miranda Cosgrove, serta Pierre Coffin sebagai pengisi suara para Minions. Nama-nama besar, yakni Will Ferrel, Sofia Vergara, dan Joey King, turut mengisi suara untuk seri kali ini. Akankah film ini bakal kembali sukses komersial seperti seri sebelumnya?

Gru (Carell) kini memiliki anggota keluarga baru, Gru Jr. hasil buah pernikahannya dengan Lucy (Wiig). Sementara tugasnya sebagai agen antivillain, ia berhasil menangkap penjahat kelas kakap yang juga rekan lamanya, Maxime Le Mal (Ferrel) bersama pacarnya, Valentina (Vergara). Rupanya, Maxime berhasil keluar dari penjara dan  berniat menuntut balas pada Gru. Gru dan keluarganya pun terpaksa diungsikan ke daerah pinggiran dan harus mengganti identitas mereka. Mereka harus beradaptasi dengan lingkungan barunya, khususnya bocah tetangga sebelah, Poppy (King) yang rupanya tahu identitas sejati Gru dan punya cita-cita menjadi seorang penjahat hebat.

Baca Juga  Ipar Adalah Maut

Namanya saja sekuel, jika dikatakan kisahnya rada memaksa memang tidak salah juga. Musuh dan masalah baru muncul dan kali ini melibatkan langsung keluarga Gru, khususnya sang bayi. Karakter Minions masih mencuri perhatian, namun kali ini mereka tidak dominan. Rasanya, porsi seri spin-off dan belasan film pendek mereka sudah cukup berlebih. Fokus cerita justru beralih pada hubungan Gru dengan sang bayi serta Poppy. Dua karakter baru inilah yang memberi sedikit sentuhan berbeda dari sebelumnya. Aksi pencurian maskot “musang madu” yang mereka lakukan, termasuk sang bayi, menjadi momen terbaik dengan aksi-aksi konyolnya yang amat menghibur.

Despicable Me 4 masih menggunakan formula cerita dan humor yang sama dengan mengangkat nilai keluarga dengan beberapa karakter baru. Film ini memang lebih menghibur bagi penonton anak-anak yang menjadi targetnya. Riuh tawa puluhan bocah-bocah cilik sewaktu menonton menjadi bukti keberhasilan filmnya. Terlebih ini adalah masa liburan. Satu banyolan menjadi catatan tersendiri ketika kisahnya bereksperimen dengan beberapa Minions yang berkekuatan super (mengadopsi karakter X-men dan Fantastic Four). Jelas saya tentu muak dengan lelucon ini. Namun dalam satu adegan, warga juga rupanya marah dengan aksi mereka dan bahkan ada yang mengumpat, “I’m tired with superheroes”. Rupanya ini hanya sebuah ejekan bagi genre populer tersebut. Sebagai kesimpulan, sekuel ketiga ini rasanya masih memiliki daya tarik yang cukup untuk menggapai sukses komersial, walau tidak seperti sebelumnya.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
65 %
Artikel SebelumnyaTwilight of the Warriors: Walled In
Artikel BerikutnyaBeverly Hills Cop: Axel F
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.