Despicable Me (2010)
95 min|Animation, Adventure, Comedy|09 Jul 2010
7.6Rating: 7.6 / 10 from 586,211 usersMetascore: 72
Gru, a criminal mastermind, adopts three orphans as pawns to carry out the biggest heist in history. His life takes an unexpected turn when the little girls see the evildoer as their potential father.

Gru (Carrel) adalah sosok penjahat paruh baya yang amat berambisius menjadi penjahat nomor satu di muka bumi. Ketika seorang rivalnya berhasil mencuri Piramid Giza di Mesir, Gru gusar dan berniat untuk melakukan aksi kejahatan tanpa banding, yakni mencuri bulan. Untuk bisa melaksanakan niat jahatnya ini Gru harus mencuri senjata pengecil materi dari pesaing mudanya, Vector (Segel). Segala usaha ia upayakan namun Gru selalu gagal. Suatu ketika Gru melihat tiga perempuan cilik penjual kue kering dengan mudahnya masuk ke rumah Vector. Gru lalu mengadopsi tiga bocah cilik tersebut, yakni Margo, Edith, dan Agnes dari panti asuhan dan memanfaatkan mereka untuk melancarkan niat jahatnya.

Apa yang mampu ditawarkan studio debutan macam IE dimasa Pixar dan Dreamworks Animation mendominasi wilayah film animasi 3D selama satu dekade belakangan ini. Studio Pixar sejak Toy Story (1996) hingga kini memproduksi film-film animasi yang sangat menghibur serta memiliki kelebihan pada sisi dramatik plus kedalaman tema yang kuat. Dreamworks Animation yang awalnya memproduksi film-film animasi hiburan murni kini cenderung mulai menekankan pada sisi dramatik yang kuat, seperti How to Train a Dragonbaru lalu. Despicable Me boleh jadi meminjam formula tersebut, yakni mencoba menghibur dan kuat sisi dramatiknya namun beberapa aspek masih tanggung terutama sisi dramatiknya. Karakter Gru terbilang sangat unik dan rasanya baru kali ini film animasi anak-anak memiliki karakter protagonis seorang penjahat kelas kakap. Plotnya sendiri sejak awal seolah menjanjikan sebuah kisah dramatik yang kuat. Endingnya siapa pun pasti bisa mudah menebaknya namun proses cerita sebenarnya merupakan kunci dan film ini menyajikannya terlalu “tergesa-gesa”. Hati Gru luluh dengan cepat tanpa sebuah proses yang memiliki arti.

Baca Juga  Siksa Kubur

Sisi komedi (hiburan) serta teknis (3D) adalah keunggulan film ini. Selain Gru, tokoh yang menjadi “man of the macth” dalam film ini adalah karakter-karakter mini berjumlah ratusan tak jelas entah robot atau apa yang menjadi para pesuruh dan pekerja Gru. (Sempat terpikir, aneh juga Gru yang seorang penjahat besar memiliki para pekerja berwujud lucu seperti ini) Karakter mini ini sedikit mengingatkan pada karakter tiga alien pada seri Toy Story namun rasanya tak masalah. Setiap kali karakter-karakter mini ini muncul selalu mengundang tawa dengan polah mereka yang konyol dan lucu. Bicara efek 3D-nya film ini jelas jauh lebih baik dari Toy Story 3 baru lalu. Nyaris tiap adegan memiliki efek 3D yang amat kuat dan menakjubkan. Patut dicatat adalah adegan roller coaster… uhh kita serasa benar-benar ikut naik didalamnya dan terbawa ikut menjerit-jerit bersama.

Despicable Me secara kualitas jelas masih dibawah film-film produksi Pixar dan Dreamworks Animation kecuali tentu untuk pencapaian teknisnya. Sebagai film animasi anak-anak, Despicable Me terbilang sangat berhasil melalui unsur komedi dan aksi yang sangat menghibur serta pesan moral yang sederhana. What are bigger than the moon? Jawabnya mudah bukan. Rasanya kedepan IE bakal mampu memproduksi film-film animasi yang lebih baik lagi. Pixar dan Dreamworks bakal memiliki pesaing baru yang tangguh.

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaPredators, Dibawah Bayang-Bayang Predator
Artikel BerikutnyaThe Cove, Mengajak Kita Peduli Lumba-Lumba
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.