Don't Breathe (2016)

88 min|Crime, Horror, Thriller|26 Aug 2016
7.1Rating: 7.1 / 10 from 300,182 usersMetascore: 71
Hoping to walk away with a massive fortune, a trio of thieves break into the house of a blind man who isn't as helpless as he seems.

Film horor berbujet kecil sepertinya kini memasuki masa-masa gemilangnya. Setelah sukses komersil Lights Out baru lalu kini Don’t Breathe garapan Fede Alvares mencoba peruntungannya. Fede Alvarez sendiri sudah kita kenal sebelumnya melalui film horor remake, Evil Dead (2013). Don’t Breath sendiri diluar mampu membuktikan jika film ini bukan film horor thriller sambil lalu saja. Kisahnya sangat sederhana. Tiga orang pemuda mencoba masuk ke dalam satu rumah orang buta untuk mengambil sejumlah uang yang ada disana. Misi mudah ternyata menjadi teror ketika si buta ternyata menyimpan rahasia lain di rumahnya.

Film sejenis dengan tema terperangkap dalam satu rumah sudah bukan hal baru. Namun film ini mampu membuat segalanya menjadi berbeda ketika tokoh antagonis adalah seorang orang tua buta. Karakter ini bak seekor monster yang menerkam mangsanya kapan saja di setiap sudut rumahnya. Ruang terbatas tidak lantas membatasi kisah dan unsur ketegangan menjadi minim namun justru sebaliknya. Kejutan selalu menanti kita di tiap sudut ruang dalam semua adegannya. Sineas berhasil membuat sebuah teror yang efektif kombinasi ruang dan naratifnya.

Satu lagi yang menjadi kekuatan filmnya adalah pendekatan sinematiknya yang unik untuk meneror penonton. Senyap tapi mematikan. Tokoh karakter buta memungkinkan sineas bermain-main dengan eksplorasi teknis yang bervariasi. Momen senyap (silent) amat dominan dalam filmnya tidak hanya para korban yang harus menahan nafas tapi juga para menonton. Satu contoh lagi adalah ketika kondisi gelap gulita dalam adegan di ruang bawah tanah dimana kejutan menanti dalam tiap shot-nya. Tak pernah terpikir, orang buta dan seekor anjing bisa sama efektifnya dengan alien dalam seri Alien atau Jason dalam seri Friday The 13th.

Don’t Breathe adalah satu horor efektif yang menghasilkan efek ketegangan maksimal dalam satu ruang terbatas dengan kombinasi teknik sinematik sederhana. Para pemain muda serta Stephen Lang sebagai si buta yang bermain amat baik sangat mendukung keberhasilan filmnya. Seperti halnya Lights Out, film ini membuktikan eksplorasi sinematik masih dimungkinkan dalam genre populer ini. Fede Alvares membuktikan dirinya mempunyai talenta besar untuk membuat film-film horor berkualitas. Esensi horor bukan pada seperti apa wujud entiti atau seberapa menakutkan sosoknya namun pada bagaimana suasana dan nuansa horor tersebut dibentuk melalui kisah dan elemen sinematiknya. Don’t Breathe melakukan ini semua dengan baik.

Baca Juga  The Accountant

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaTrain to Busan
Artikel BerikutnyaThe BFG
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.