Downsizing (2017)

135 min|Drama, Fantasy, Sci-Fi|22 Dec 2017
5.8Rating: 5.8 / 10 from 125,516 usersMetascore: 64
A social satire in which a man realizes he would have a better life if he were to shrink himself to five inches tall, allowing him to live in wealth and splendor.

Downsizing  merupakan film drama komedi fiksi ilmiah garapan Alexander Payne. Payne kita kenal telah mengarahkan film-film humor satir berkualitas tinggi, macam Election, Sideways, The Descendants, serta Nebraska. Seperti film-film sebelumnya, kembali Payne bertindak pula sebagai penulis naskah dan produser. Dowsizing dibintangi aktor-aktris papan atas, yakni Matt Damon, Christoph Waltz, Jason Sudeikis, Kirsten Wiig, serta pula aktris kelahiran Vietnam, Hong Chau.

Pada suatu masa, warga bumi akhirnya menemukan cara untuk menyusutkan tubuh menjadi setinggi hanya 10 cm. Pencapaian yang diistilahkan Downsizing ini lalu dikomersialkan dengan tujuan agar beban bumi terhadap dampak lingkungan serta beban ekonomi manusia semakin ringan. Manusia-manusia yang memutuskan untuk di- downsizing tersebut dibuatkan sebuah areal khusus dan ada di seluruh penjuru dunia. Paul Safranek dan istrinya akhirnya memutuskan untuk melakukan prosedur ini karena tekanan ekonomi mereka. Namun, sebelum memulai prosedur, sang istri ternyata membatalkan niatnya, sementara Paul sudah terlanjur menyusut.

Sejak awal, pesan lingkungan sudah terlontar begitu kuat walau kisahnya sendiri terasa agak tak masuk akal di otak saya. Bagaimana mungkin mereka bisa mengontrol 100% kondisi lingkungan fisik mereka tanpa gangguan atau dampak yang sifatnya alami, seperti virus, bakteri, cuaca, binatang, atau serangga misalnya? Ok anggap saja ini semua bisa terkontrol penuh di kota mini Leisureland. Dalam perkembangan, plotnya mengarah ke keseharian Paul dalam lingkungan barunya. Kisahnya mulai hidup, ketika tokoh Dusan yang diperankan Waltz muncul dengan polah dan dialog yang kadang memicu tawa kita. Arah cerita semakin berbelok ketika tokoh Ngoc Lan Tran muncul, dan kita disuguhi dunia lain dari kota mini ini. Mendadak kisahnya menggelontor isu sosial dan kemiskinan tanpa bisa dicerna arahnya. Secara menakjubkan, di segmen akhir, kembali kisah berubah arah menjadi isu lingkungan dengan poin yang tak jelas mau mengarah ke mana. Jika pesannya untuk menghargai diri kita sebagai manusia dan menikmati hidup dengan sesama, mengapa perlu ada downsizing?

Downsizing memiliki premis menarik dengan pesan lingkungan kuat, namun sejalan dengan ceritanya, ini semua semakin mengecil karena arah kisah yang tak jelas. Harus diakui, para kastingnya bermain sangat baik, termasuk Damon sendiri, Waltz, dan tentu saja Hong Chau sebagai Ngoc Lan Tran yang bermain sangat mencuri perhatian dengan logat bicaranya yang khas. Keputusan Paul untuk melakukan prosedur downsizing adalah sebuah pilihan. Sementara Tran dipaksa. Dengan segala ketidakjelasan pesan dan arah filmnya yang amat membuat frustasi, saya jelas tidak akan memilih downsizing. Kita semua tahu, manusia terlahir seperti ini jelas ada maksud dan tujuan, jika ada yang beranggapan tidak, setidaknya ada argumen yang meyakinkan.

Baca Juga  Tenet

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaDen of Thieves
Artikel BerikutnyaSummer Big Movies – Official Trailer
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.