Drag Me to Hell (2009)

99 min|Horror|29 May 2009
6.6Rating: 6.6 / 10 from 218,769 usersMetascore: 83
A loan officer who evicts an old woman from her home finds herself the recipient of a supernatural curse. Desperate, she turns to a seer to try and save her soul, while evil forces work to push her to a breaking point.

Drag Me To Hell merupakan film horor garapan Sam Raimi yang lebih kita kenal melalui seri film Spiderman. Ini bukan kali pertama Raimi memproduksi film bergenre horor, beberapa dekade silam ia telah menggarap beberapa film horor kelas dua “klasik”, yakni The Evil Dead (1981), Evil Dead II (1987), Army of Darkness (1992), serta horor supernatural, The Gift (2000). Konon naskah Drag Me To Hell selesai ditulis oleh Sam (bersama Ivan Raimi) setelah ia menyelesaikan produksi film Army of Darkness. Drag Me To Hell sendiri dibintangi oleh aktris belum ternama Alison Lohman bersama bintang muda, Justin Long.

Christine Brown (Lohman) adalah seorang pegawai bank bagian pinjaman yang kini tengah mengincar jabatan manajer. Suatu ketika Christine didatangi kliennya seorang wanita tua aneh yang memintanya untuk memperpanjang tempo pengembalian pinjaman sehingga Bank tidak menyita rumah sang nenek. Di tengah kebimbangannya, Christine menolak permintaannya dan sang nenek naik pitam. Sepulang kerja, Christine kembali diteror dan kali ini sang nenek bahkan mengutuknya dengan sebuah mantra kuno. Setelah peristiwa ini kehidupan Christine berubah drastis dengan teror kekuatan gaib yang tak ada hentinya oleh iblis jahat yang ingin menyeretnya ke neraka.

Sungguh menarik melihat sineas sekelas Raimi kembali “back on track” memproduksi film horor “kelas dua” dengan sentuhan khasnya tanpa menggunakan efek visual yang wah. Film ini boleh dibilang merupakan kombinasi antara film thriller Hitchcock (Psycho khususnya), horor Asia, horor Amerika, plus horor sentuhan Raimi sendiri. Raimi bernostalgia dengan formula teror seri “Evil Dead” yang khas dengan tambahan sedikit bumbu-bumbu komedi. Hanya di tangan sang sineas macam Raimi benda mati seperti kain saputangan bisa hidup dan menyerang korbannya.

Baca Juga  Amsterdam

Jika pernah melihat trailer filmnya berarti Anda sudah melihat lebih dari separuh cerita filmnya. Plot filmnya sangat sederhana dan alur kisahnya pun terlalu mudah ditebak. Sama sekali tidak ada kejutan yang berarti. Sebagai film horor, Drag Me to Hell juga tidak berhasil karena tidak mampu memberikan efek kengerian dan teror seperti film-film horor lazimnya. Dalam banyak adegan, mengagetkan (elemen suara khususnya) memang iya tapi menakutkan (ngeri) jelas tidak. Satu adegan horor terbilang paling lumayan adalah teror sang nenek pada Christine di parkir basement di awal film. Setelahnya…, hmm coba saja Anda tonton sendiri. Adegan klimaks di areal kuburan lebih terlihat seperti adegan komedi ketimbang horor. I don’t know… bisa jadi Raimi hanya ingin bernostalgia dengan seri Evil Dead yang memang memiliki fans fanatiknya sendiri. Well, he did it…Gaya horor seperti ini juga cukup dengan dukungan akting pemain pas-pasan macam Lohman.

Sebagai film horor, Drag Me to Hell terbilang gagal. Jauh kualitasnya jika dibandingkan dengan film horor Jepang macam Ringu dan Ju-On. Plot yang justru bisa menjadi unsur kejutan cerita terlalu mudah untuk diprediksi. Pesan filmnya sendiri sederhana, “jangan menyakiti (hati) sesama”, tapi apa sih kesalahan Christine hingga ia harus menderita dan diteror habis-habisan seperti itu. Unsur horor memang relatif dan tidak sama bagi semua penonton namun bisa jadi formula horor ala Evil Dead macam ini disukai penonton muda sekarang. Pada akhir cerita, film ini masih membuka peluang untuk sekuel berikutnya. Rasanya nama besar Raimi cukup membuat Drag Me To Hell sukses komersil. Drag Me To Hell 2, siapa takut?

WATCH TRAILER

https://www.youtube.com/watch?v=BUZTybLlWKI

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaTerminator Salvation
Artikel BerikutnyaTransformers: Revenge of the Fallen
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

1 TANGGAPAN

  1. mnurut saya film drag me to hell ini lmayan bgus, banyak unsur kejutn yg membwt aq bertanya2..hbis ini ap lg y kejutannya? selain itc musik pengiring adegannya jga keren, mendukung adegan kejutan itu sendiri. yang saya kecewa adegan pada saat adegan2 akhir unsur kejutan tersebut menghilang, pada adegan saat cristine mengembalikan kutukn pada nenek tua itu di kuburan,adegan tersebut biasa2 saja tidak adanya rasa kengerian,pdahal adegan itu berlangsung d kuburan d tambah sambaran petir dan hujan yang menandakan suatu kengerian. jujur film horor ini baru pertama kali saya nonton di bioskop, mungkin itu yang membuat film ini bgus menurut saya

  2. secara keseluruhan film ini memank tidak menakutkan sama sekali.. hanya mengejutkan saja.. itupun memang karena efek suara yang benar2 memekakan telinga.. cerita begitu sederhana,,,
    ketika memonton film ini,, saya sedikit kehilangan mood filmnya,, terkadang “nuansa horor yang muncul secara tiba2 berubah menjadi sebuah komedi, memang tidak masalah jika formula sepeti ini digunakan, hanya saja ketika saya menonton,, formula tersebut rasanya kurang terstruktur dengan pas…
    nilai plus dari film ini saya lihat ada di elemen musik dan saya cukup suka dengan style sang sutradara seperti unsur komedi yang ditampilkan ( meskipun masih kurang terlihat jelas)serta ornamen2 benda-benda mati yang meneror manusia…

  3. kalo menurut saya film ini cuma versi “halus” dari seri evil dead… komedi juga diperhalus gak konyol kayak sebelumnya… tiga film itu pun saya kurang suka.. just for fun…

  4. kurang pas kalo dibandingkan dengan horor jepang karena raimi tidak bermaksud membuat horor yang seperti itu. bagi saya, DMTH adalah horor yang tak punya pretensi untuk menjadikannya menakutkan seperti sixth sense atau film2 jepang yang disebut di atas. DMTH adalah horor yang menghibur dalam makna asasinya dan itu berhasil. raimi sedang bersenang-senang. jadi tepat seperti dibilang editor, just for fun.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.