Dragon Ball Super: Broly (2018)
100 min|Animation, Action, Adventure, Family, Fantasy, Sci-Fi|16 Jan 2019
8.0Rating: 8.0 / 10 from 15,802 usersMetascore: 59
Goku and Vegeta encounter Broly, a Saiyan warrior unlike any fighter they've faced before.

Dragon Ball Super: Broly membuat sensasi besar di mana-mana dengan meraih lebih dari US$ 100 juta sekaligus tercatat sebagai film di serinya yang paling sukses. Di AS sendiri, film ini meraih lebih dari US$ 30 juta. Film animasi ini diarahkan oleh Tatsuya Nagamine dengan naskahnya ditulis sendiri oleh sang kreator, Akira Toriyama. Tercatat, Broly adalah film panjang kedua puluh dalam seri animasi Dragon Ball (DB) sejak lebih dua dekade lalu. Ini juga adalah terhitung pengalaman pertama saya sebagai fans DB bisa menonton filmnya di layar lebar. Apakah Broly bakal memuaskan fansnya?

Film dimulai dengan mengisahkan asal muasal tiga sosok besar bangsa Saiya, yakni Broly, Bejita, dan Kakarot yang masing-masing dipisahkan oleh takdirnya. Broly yang masih balita, dibuang ke planet Banpa oleh ayah Bejita karena dianggap memiliki kekuatan besar terpendam yang tak bisa dikontrol serta pula bisa menghambat putranya untuk bisa menjadi yang terkuat kelak. Sang ayah, Paragus yang membelot  mengikuti putranya hingga ke planet Banpa. Sementara di masa kini, setelah pertarungan antar semesta beberapa waktu sebelumnya, Furiza rupanya masih belum tobat dan berusaha balas dendam pada Goku. Dua orang pasukannya tanpa sengaja menemukan dua orang Saiya di Planet Banpa, dan Furiza membawa mereka ke Bumi untuk berhadapan dengan Goku dan Bejita.

Bagi para fans DB, sosok Broly jelas sudah tak asing walau ia tak ada dalam film serinya. Satu hal yang agak membingungkan adalah kontinuitas kisahnya. Jika memang kisah ini adalah yang autentik, maka film ini mengabaikan banyak kisah tentang Broly yang sebelumnya pernah ada, sejak dua dekade lalu (3 film panjang). Ibarat film Halloween (2017) yang rilis tahun lalu, film ini mengabaikan semua sekuelnya (9 film) dan merupakan lanjutan langsung dari film pertamanya. Agak aneh memang, mengapa mereka membuat sosok ini sejak awal jika memang tak ada dalam seri aslinya? Ya sudahlah, abaikan saja ini semua. Mungkin saja Broly bakal masuk dalam cerita seri selanjutnya.

Baca Juga  My Annoying Brother

Apa yang diharapkan para fansnya dari Broly? Tentunya bukan cerita tapi adalah pertarungan yang hebat. Tidak seperti serinya yang banyak omong sebelum, selama, dan sesudah bertarung, Broly bahkan tidak pernah bicara dan langsung main hantam. Sempurna bukan? Kita tahu, sejak pertandingan antar semesta sebelum ini, kekuatan Goku dan Bejita sudah sangat jauh meningkat pesat, mungkin sudah setara Beerus (Dewa Kehancuran). Namun, kekuatan Broly jauh di atas mereka berdua. Jujur saja, sejak menonton seri ini dua dekade lalu, pertarungan Broly vs “Goku & Bejita” adalah yang paling dahsyat dan menakutkan dari semuanya. Menontonnya di layar lebar jelas memberikan sensasi audio yang maksimal. Suara hentakan kaki Broly saja sudah menggetarkan seluruh bangku bioskop. Tunggu apa lagi, jika kamu fans DB jelas jangan sia-siakan untuk menontonnya di layar lebar. Hanya saja pastikan menontonnya di bioskop yang memiliki tata suara prima.

Sebagai penutup, Dragon Ball Super: Broly tidak menawarkan sesuatu yang baru untuk serinya kecuali untuk para fans sejatinya yang mengharapkan pertarungan hebat. Broly tentu bakal memuaskan para fans sejatinya, sekalipun minim sisi humor. Fans DB sejak dua dekade lalu tentu kini sudah berumur. Terbukti di bioskop, sewaktu menonton film ini, nyaris tak ada anak-anak. jika ingin membuat kisahnya sedikit lebih serius (baca berat) tentu bukan masalah. Sosok antagonis seperti Furiza misalnya, seolah tak pernah dewasa. Mestinya dia sudah sadar benar jika ia tak bakal menang melawan Goku. Kisah DB sangat memungkinkan untuk dieksplorasi lebih dalam dengan tentu tidak melupakan falsafah serinya, yakni persahabatan dan berjuang tanpa kenal menyerah.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaCold Pursuit
Artikel BerikutnyaFoxtrot Six
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.