Dragon Ball Super: Broly (2018)
100 min|Animation, Action, Adventure|16 Jan 2019
7.7Rating: 7.7 / 10 from 35,976 usersMetascore: 59
Goku and Vegeta encounter Broly, a Saiyan warrior unlike any fighter they've faced before.

Dragon Ball Super: Broly membuat sensasi besar di mana-mana dengan meraih lebih dari US$ 100 juta sekaligus tercatat sebagai film di serinya yang paling sukses. Di AS sendiri, film ini meraih lebih dari US$ 30 juta. Film animasi ini diarahkan oleh Tatsuya Nagamine dengan naskahnya ditulis sendiri oleh sang kreator, Akira Toriyama. Tercatat, Broly adalah film panjang kedua puluh dalam seri animasi Dragon Ball (DB) sejak lebih dua dekade lalu. Ini juga adalah terhitung pengalaman pertama saya sebagai fans DB bisa menonton filmnya di layar lebar. Apakah Broly bakal memuaskan fansnya?

Film dimulai dengan mengisahkan asal muasal tiga sosok besar bangsa Saiya, yakni Broly, Bejita, dan Kakarot yang masing-masing dipisahkan oleh takdirnya. Broly yang masih balita, dibuang ke planet Banpa oleh ayah Bejita karena dianggap memiliki kekuatan besar terpendam yang tak bisa dikontrol serta pula bisa menghambat putranya untuk bisa menjadi yang terkuat kelak. Sang ayah, Paragus yang membelot  mengikuti putranya hingga ke planet Banpa. Sementara di masa kini, setelah pertarungan antar semesta beberapa waktu sebelumnya, Furiza rupanya masih belum tobat dan berusaha balas dendam pada Goku. Dua orang pasukannya tanpa sengaja menemukan dua orang Saiya di Planet Banpa, dan Furiza membawa mereka ke Bumi untuk berhadapan dengan Goku dan Bejita.

Bagi para fans DB, sosok Broly jelas sudah tak asing walau ia tak ada dalam film serinya. Satu hal yang agak membingungkan adalah kontinuitas kisahnya. Jika memang kisah ini adalah yang autentik, maka film ini mengabaikan banyak kisah tentang Broly yang sebelumnya pernah ada, sejak dua dekade lalu (3 film panjang). Ibarat film Halloween (2017) yang rilis tahun lalu, film ini mengabaikan semua sekuelnya (9 film) dan merupakan lanjutan langsung dari film pertamanya. Agak aneh memang, mengapa mereka membuat sosok ini sejak awal jika memang tak ada dalam seri aslinya? Ya sudahlah, abaikan saja ini semua. Mungkin saja Broly bakal masuk dalam cerita seri selanjutnya.

Baca Juga  The Gangster, The Cop, The Devil

Apa yang diharapkan para fansnya dari Broly? Tentunya bukan cerita tapi adalah pertarungan yang hebat. Tidak seperti serinya yang banyak omong sebelum, selama, dan sesudah bertarung, Broly bahkan tidak pernah bicara dan langsung main hantam. Sempurna bukan? Kita tahu, sejak pertandingan antar semesta sebelum ini, kekuatan Goku dan Bejita sudah sangat jauh meningkat pesat, mungkin sudah setara Beerus (Dewa Kehancuran). Namun, kekuatan Broly jauh di atas mereka berdua. Jujur saja, sejak menonton seri ini dua dekade lalu, pertarungan Broly vs “Goku & Bejita” adalah yang paling dahsyat dan menakutkan dari semuanya. Menontonnya di layar lebar jelas memberikan sensasi audio yang maksimal. Suara hentakan kaki Broly saja sudah menggetarkan seluruh bangku bioskop. Tunggu apa lagi, jika kamu fans DB jelas jangan sia-siakan untuk menontonnya di layar lebar. Hanya saja pastikan menontonnya di bioskop yang memiliki tata suara prima.

Sebagai penutup, Dragon Ball Super: Broly tidak menawarkan sesuatu yang baru untuk serinya kecuali untuk para fans sejatinya yang mengharapkan pertarungan hebat. Broly tentu bakal memuaskan para fans sejatinya, sekalipun minim sisi humor. Fans DB sejak dua dekade lalu tentu kini sudah berumur. Terbukti di bioskop, sewaktu menonton film ini, nyaris tak ada anak-anak. jika ingin membuat kisahnya sedikit lebih serius (baca berat) tentu bukan masalah. Sosok antagonis seperti Furiza misalnya, seolah tak pernah dewasa. Mestinya dia sudah sadar benar jika ia tak bakal menang melawan Goku. Kisah DB sangat memungkinkan untuk dieksplorasi lebih dalam dengan tentu tidak melupakan falsafah serinya, yakni persahabatan dan berjuang tanpa kenal menyerah.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaCold Pursuit
Artikel BerikutnyaBrahms: The Boy II – English
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses