Dreadout: Tower of Hell (2019)
95 min|N/A|03 Jan 2019
Rating: Metascore: N/A
Jessica, Beni, Dian, Alex, Erik, and Linda want to increase their popularity through recording their adventures to upload to their social media accounts. They chose to go to an abandoned ...

Bagi para gamers pasti tak asing lagi dengan game “DREADOUT”. Game yang booming pada tahun 2014 dan sempat dimainkan oleh para youtuber top, macam Bayu Skak, EwingHD, dan MiawAug. Game ini semakin viral ketika PewDiePie, youtuber nomer satu di dunia yang memiliki subscriber terbanyak, memberikan ulasan baik game ini. DreadOut merupakan game survival horor karya anak bangsa yang dikembangkan oleh Digital Happiness yang menggunakan konsep seperti Fatal Frame, game survival horor yang menggunakan kamera sebagai senjata untuk melawan hantu. Pada awal tahun 2019, rumah produksi goodhouse.id dipercaya untuk menggarap adaptasi ke filmnya. Film ini disutradarai Kimo Stamboel yang pernah menyutradarai film-film thriller, seperti Rumah Dara, Killer, dan Headshot. Film ini diperankan oleh beberapa bintang ternama, seperti Caitlin Halderman, Marsha Aruan, Ciccio Manassero, Jefri Nicole, Rima Melati Adam, Irsadillah, Mike Luccock, Hanna Al Rasyid, dan Savita De Corte. Dreadout disambut cukup hangat oleh gamers maupun para pecinta film horor, dibuktikan dari sepekan rilisnya telah meraih 379.555 penonton. Lalu, seperti apakah kisah yang akan disajikan DreadOut versi filmnya?

Berkisah Linda (Caitlin Halderman) dan sekelompok teman SMA-nya tengah mencari sensasi agar bisa terkenal di dunia maya hingga mendorong mereka untuk mendatangi sebuah gedung apartemen kosong yang konon angker. Mereka menelusuri tiap lorong hingga mereka menemukan sebuah lorong terlarang yang menuntun mereka ke sebuah ruangan di mana pernah terjadi sebuah ritual mistik. Secara tidak sadar, Linda mengucap mantra terlarang dan membuka portal alam lain. Linda dan rekan-rekannya terperangkap dalam sebuah petualangan bertahan hidup untuk bisa keluar dari tempat tersebut.

Plot film ini sebenarnya merupakan prekuel cerita game-nya. Makhluk atau monster dari portal atau dimensi lain memang sudah umum dalam film. Tanpa basa basi, kisah filmnya dibuka melalui mimpi masa lalu linda yang langsung menebar ketegangan. Kita langsung dibawa masuk ke dalam inti cerita walau kisahnya sedikit berputar-putar seolah hanya untuk memperpanjang durasi. Dalam plotnya, kita pun hanya disajikan sisi ketegangan melalui sosok Linda yang berjuang melawan penghuni alam lain demi menyelamatkan rekan-rekannya. Sepanjang film hanya terasa yang diteror adalah linda dan bukan penonton. Ini berbeda dengan plot game-nya di mana kengerian, teror, dan ketegangan bercampur aduk menjadi satu. Dalam game-nya, kita bisa melihat petualangan linda melawan berbagai macam hantu, terlebih lagi pertarungan epik antara Linda dan si kebaya merah. Sementara dalam film ini, kita hanya disuguhkan dua karakter hantu yang dimunculkan berkali-kali.

Baca Juga  Doa yang Mengancam, Ancaman Apanya?

Jika mau kita bandingkan sisi estetik dengan game-nya, ada beberapa hal yang memang disajikan baik. Sudut pengambilan POV shot mampu memberikan ketegangan pada penonton seolah kita juga sungguhan berada di sana, sama dengan sensasi game-nya. Setting filmnya ini juga lumayan yang sayangnya hanya memunculkan dua setting lokasi dalam game, yaitu kuburan dan rumah si hantu kebaya merah. Hal yang paling menarik adalah saat memunculkan pocong dengan cluritnya yang sangat ikonik serta sosok pemeran hantu kebaya merah yang rasanya memang mirip dalam game-nya.

Seperti film horor kita pada umumnya, logika cerita masih menjadi sisi lemah filmnya. Beberapa adegan juga seringkali tak lepas dari nuansa sinetron. Beberapa pemain yang memang akrab dengan layar kaca tampak bermain seperti bemain dalam sinetron melalui ekspresi mimik wajah yang khas.Pencapaian efek visual juga terbilang masih terlihat artifisial padahal pencapaian make-up-nya sudah terbilang baik. Sangat disayangkan, sebenarnya DreadOut memiliki potensi lebih jika digali lebih dalam menjadi film aksi horor yang bagus. Dari banyak sisi lemahnya, setidaknya DreadOut mampu memberikan sisi hiburan tersendiri, terutama para fans game-nya dan tercatat dalam sejarah sebagai film adaptasi game pertama di Indonesia.

Muhammad Aryodhia Shofiantoro

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaSwing Kids
Artikel BerikutnyaPerjanjian dengan Iblis
Redaksi Montase
memberikan ulasan serta artikel tentang film yang sifatnya ringan, informatif, mendidik, dan mencerahkan. Kupasan film yang kami tawarkan lebih menekankan pada aspek cerita serta pendekatan sinematik yang ditawarkan sebuah film.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini