Dreamkatcher adalah film horor garapan debutan Kerry Harris yang sebelumnya banyak menggarap film serial televisi. Film ini dibintangi beberapa nama tenar, seperti Radha Mitchell, Lin Shaye, serta Henry Thomas yang banyak dikenal melalui perannya sebagai Elliot dalam E.T., empat dekade silam. Dengan modal beberapa pemain yang sudah berpengalaman, namun anehnya, film ini tak mampu digarap dengan baik.

Alkisah Gail (Mitchell) diajak untuk berlibur di rumah pondok milik kekasihnya, Luke (Thomas) yang juga membawa sang putra, Josh. Josh rupanya masih trauma dengan kematian sang ibu yang tak wajar. Ia masih saja mimpi buruk bertemu sang ibu. Suatu ketika, Gail dan Josh, secara tak sengaja datang ke sebuah gudang tua milik Ruth yang menjual pernak-pernik bernuansa etnik. Josh diam-diam mengambil sebuah benda yang ia pikir bisa untuk menangkal mimpi buruknya. Sebaliknya, benda tersebut justru mengeluarkan iblis yang ada di dalamnya.

Oh my. Heran, pembuat film dengan modal cukup, rupanya masih bisa membuat film begini buruk. Ekpektasi sejak awal memang rendah, namun siapa sangka filmnya bisa seburuk ini. Film ini seperti tak lengkap, banyak adegan yang hilang, dialog seringkali terlalu kaku, dan terlihat sekali banyak adegan dibuat seadanya. Kisahnya pun sudah terlalu familiar. Sebuah keluarga mencari ketenangan di tempat terpencil, namun justru musibah yang mereka dapatkan. Tak ada yang baru di sini. Film ini juga tak punya konflik bawaan (latar masalah tokoh) yang cukup untuk bisa memberi kedalaman pada kisahnya. Ending-nya pun menggelikan.

Lin Shaye yang kita tahu sering bermain di genre ini, juga tak ada gregetnya. Siapa pun yang bermain sebagai sosok Ruth, efeknya tak banyak bedanya. Mitchell dan Shaye, bahkan si cilik, sama sekali tidak bermain buruk, namun dengan naskah seperti ini, apa mau dikata. Panorama bagus di banyak adegannya, termasuk rumah kabinnya juga tak mampu dimanfaatkan secara maksimal untuk membangun sisi horornya. Bahkan trik horornya saja sudah tak ada yang mengagetkan.

Baca Juga  The Midnigth Sky

Dreamkatcher adalah sebuah horor yang setengah masak, gagal sebagai genrenya, dan membuang talenta para pemain seniornya. Tak disangka, film yang begitu mapan secara teknis, namun tak seimbang dengan naskahnya. Untuk berharap film ini bisa bersaing secara komersial dalam situasi normal adalah satu hal yang mustahil. Satu lagi yang mengganjal, poster resminya mungkin keliru dengan film lain karena tak ada satu elemen pun di sana, ada di filmnya. Untuk tujuan marketing, posternya bisa dibilang berhasil mengecoh calon penonton. Posternya jauh lebih baik dari filmnya.

Stay safe and Healthy!

https://www.youtube.com/watch?v=QdAo0UhHlXU

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
20 %
Artikel SebelumnyaThe Wretched
Artikel BerikutnyaJustice League Dark: Apokolips War
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.