Dumbo (2019)
112 min|Adventure, Family, Fantasy|29 Mar 2019
6.3Rating: 6.3 / 10 from 82,858 usersMetascore: 51
A young elephant, whose oversized ears enable him to fly, helps save a struggling circus, but when the circus plans a new venture, Dumbo and his friends discover dark secrets beneath its shiny veneer.

Satu lagi film live-action adaptasi atau remake film animasi Disney kini telah rilis, Dumbo, setelah sukses The Jungle Book dan Beauty and the Beast. Satu hal yang mengejutkan, Dumbo mengawali deretan film adaptasi animasi Disney tahun ini yang berlanjut dengan Alladin, The Lion King, dan Maleficent: Misstress of Evil. Total 4 film dalam setahun! Dumbo diarahkan oleh sineas kawakan eksentrik Tim Burton yang kita kenal dengan sentuhan ekspresionistiknya. Kini tanpa bintang andalannya (Johnny Depp), Burton rupanya bereuni dengan beberapa bintang regulernya, seperti Michael Keaton, Danny DeVito, Eva Green, hingga Colin Farrel. Terakhir, Burton menggarap Miss Pregrine’s Home for Peculiar Children (2016), dan rupanya sang sineas sama sekali tidak kehilangan sentuhannya.

Setelah sekian lama wajib militer, akhirnya Holt Ferrier kembali pulang ke rumahnya, sirkus keliling milik si tua Max Medici. Sirkus ini kini kehilangan pamornya setelah kehilangan para bintang aktraksinya, termasuk Hold dan mendiang istrinya. Bersama putra dan putrinya, Milly dan Joe, Holt yang kini tangannya cacat akhirnya mendapat pekerjaan untuk mengurus gajah betina hamil yang diharapkan Max, bayinya bakal menjadi atraksi barunya kelak. Sang betina akhirnya melahirkan seekor bayi gajah yang dianggap cacat karena memiliki kuping yang sangat lebar dan panjang. Tidak hingga Milly dan Joe, akhirnya mengetahui bahwa sang bayi rupanya bisa melayang dengan mengepakkan kupingnya yang panjang. Atraksi pun dimulai!

Bagi para fans Tim Burton rasanya bakal tahu persis, seperti apa film ini bakal disajikan secara visual. Sentuhan ekspresionis yang kelam memang menjadi stempel estetik semua karyanya, termasuk juga Dumbo. Ketrampilan sang sineas mengemas aspek mise-en-scene seolah tidak pernah ada habisnya. Semua elemennya, baik setting, properti, kostum, hingga tata cahaya semuanya adalah milik sang sineas. Sungguh mengesankan. Menonton Dumbo, seolah kita bernostalgia kembali dengan semua karya Burton, bahkan theme park modern milik Vandervere banyak memiliki kesamaan gaya atau tribute dengan film ekspresionis masterpiece, Metropolis (1927). Terakhir, tentu saja komposer reguler Burton, Danny Elfman, kembali memberikan sentuhan yang khas dengan ilustrasi musiknya. Dumbo adalah 100% milik Burton!

Baca Juga  Settlers

Seperti kebanyakan film-film Burton (minus Edward Scissorhands, Ed Wood, dan Sleepy Hollow, tentu saja), naskahnya masih saja tak imbang dengan kekuatan estetiknya. Dumbo boleh dibilang memiliki kisah yang terlalu singkat dan konflik yang terlalu sederhana. Ringkasnya cerita juga membuat kita tak mampu berempati penuh dengan tokoh-tokohnya sekalipun para pemain sudah bermain baik. Beberapa momen menyentuh memang tersaji, namun tak cukup kuat untuk mengangkat kisah filmnya secara keseluruhan. Alur plotnya tak memiliki energi yang cukup untuk membuat kisahnya yang sesungguhnya berpotensi menyentuh menjadi kurang menggigit, khususnya pada segmen klimaks.

Kekuatan magis Dumbo, sayangnya tidak terletak pada kisahnya yang terlalu pendek dan kurang memikat, namun pada pencapaian mise-en-scene sang maestro dengan sentuhan khasnya. Sejak Alice in Wonderland (2010), Burton memang tak lagi mampu menghasilkan film blockbuster. Masih menjadi tanda tanya besar, apakah Dumbo bisa menggebrak secara komersial? Sepertinya sulit mengingat beberapa film besar akan rilis setelah ini. Tapi kita tidak bicara seorang Tim Burton sekarang, namun adalah Walt Disney Studios. Studio film nomor satu di dunia saat ini, dan sejauh ini film live action adaptasi animasinya belum pernah gagal komersial. Kita lihat saja.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaMembaca Buku-Buku Montase Press
Artikel BerikutnyaMy Stupid Boss 2
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.