dune part two

Setelah penantian sekian lama, akhirnya Dune: Part Two dirilis. Setelah sempat diragukan produksinya, akhirnya sekuel ini pun mendapat lampu hijau dari studio pembuatnya. Sayang, jika salah satu film sci-fi terbaik yang pernah ada, harus terhenti hanya satu film saja. Sang sineas penuh talenta, Dennis Villeneuve masih dipercaya mengarahkan filmnya. Sederetan bintang regulernya pun masih sama, antara lain Timothée Chalamet, Rebecca Ferguson, Josh Brolin, Stellan Skarsgård, Dave Bautista, Zendaya, Charlotte Rampling, Javier Bardem, serta kini ditambah Austin Butler, Florence Pugh, Christopher Walken, dan Léa Seydoux. Berbujet USD 190 juta dan sederetan nama besar, apakah film berdurasi 169 menit ini bakal mencapai sukses komersial dan kualitas visual film pertamanya?

Plotnya langsung terhubung dengan segmen ending film pertamanya, seolah Part Two ini dirilis sesaat setelah Part One. Setelah kerajaan Atreides luluh lantak oleh kerajaan Harkonnen di Planet Arrakis, sang putra mahkota, Paul (Chalamet) dan sang ratu (Ferguson) bisa lolos dari maut dan bertemu sekelompok suku Fremen. Bersama mereka, Paul dan sang ibu, Jessica (Ferguson), akhirnya tiba di kediaman suku Fremen, dan di sana mereka diagungkan dan dipercayai sebagai “sang mesiah” dan ibunya. Sang ibu pun naik status menjadi “bunda suci” dan sang “mahdi” mulai beradaptasi dengan gaya hidup dan cara bertarung suku Fremen yang keras.

Dalam prosesnya, Paul pun kian dekat dengan gadis dalam mimpinya, Chani (Zendaya). Sementara pihak Harkonnen semakin tertekan dengan aksi gerilya pasukan Fremen yang menghancurkan cadangan “spice” mereka. Suku Fremen termotivasi karena adanya Lisan Al-Gaib (sang juru selamat) yang berperang bersama mereka. Sang kaisar (Walken) pun gusar hingga ia mengutus seorang petarung jagonya (Butler) yang bengis ke Arakkis. Perang besar pun tak terhindarkan. Paul yang telah menjadi pejuang fremen sejati, dengan julukan “Muad’Dib”, harus berurusan pula dengan kemampuan adikodratinya, satu kilasan masa depan yang membuatnya dilema berat.

Baca Juga  Black Panther

Bicara plot, mungkin tak banyak yang bisa dikomentari karena masih berpegang pada sumber aslinya (seri novel karya Frank Herbert). Dune: Part One bertutur jelas dan gamblang, dan Part Two terasa lebih “kompleks” karena problem batin (dilema moral) sang protagonis. Intrik politik antar keluarga (kerajaan) dan asmara diselipkan dalam kisah besar, “rakyat vs. penguasa lalim”. Ketimbang seri pertama, sisi drama yang berujung pada unjuk kemampuan akting para pemerannya kini terasa lebih dominan. Walau tentu bukan penampilan akting sekaliber Oscar. Senada Part One, Pencapaian sinematiknya adalah segalanya yang membuat Part Two begitu istimewa.

Sepanjang nyaris 3 jam, kita disajikan pencapaian visual-audio yang luar biasa istimewa. Part One rasanya adalah pencapaian efek visual terbaik untuk genrenya, dan kini pun sama. Adegan gila, saat Paul menaiki Shai-Hulud (cacing raksasa) mampu divisualisasikan sempurna dengan sangat meyakinkan. Adegan klimaks heboh, perang besar antara kekaisaran versus Fremen, sejauh ini adalah sajian aksi perang kolosal terbaik untuk genrenya. Dengan kualitas visual sempurna, suara dentuman ledakan, serta ilustrasi musik yang membahana garapan Hans Zimmer, membuat Dune: Part Two menjadi tontonan luar biasa yang wajib dinikmati dalam layar bioskop sebesar mungkin dan tata suara terbaik. Sayang, saya tak bisa menikmatinya di teater IMAX.

Dune: Part 2, seperti seri pertamanya, adalah kegemilangan pencapaian sinematik dalam performa terbaiknya berkat sentuhan emas sang sineas. Villeneuve terbukti mampu mengulangi pencapaian estetik film pertamanya bahkan kini lebih menghebohkan. Pencapaian minimal, raihan 5 Piala Oscar (semua kategori teknis) dari 10 nominasi sebelumnya (termasuk Best Picture), rasanya tak sulit dicapai dalam ajang Academy Awards tahun depan. Dune: Part 2 adalah suatu pencapaian yang mampu mengingatkan kita, khususnya penikmat sinema, mengapa film seharusnya dibuat untuk ditonton di layar bioskop dengan gambar dan suara prima, ketimbang layar televisi. Part 3 saya nantikan dengan sangat antusias, walau entah, tak tahu kapan.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
95 %
Artikel SebelumnyaPemandi Jenazah
Artikel BerikutnyaMendung Tanpo Udan
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses