Dungeons & Dragons: Honor Among Thieves (2023)
134 min|Action, Adventure, Comedy|31 Mar 2023
7.3Rating: 7.3 / 10 from 216,619 usersMetascore: 72
A charming thief and a band of unlikely adventurers embark on an epic quest to retrieve a lost relic, but things go dangerously awry when they run afoul of the wrong people.

Dungeons & Dragons: Honor Among Thieves (D&D) adalah film fantasi komedi yang diadaptasi dari role playing game (RPG) bertitel sama. Gimnya yang berjumlah ratusan telah ada dalam berbagai konsol sejak era 1980-an, seperti Nintendo, Sega, PC Game, Playstation, serta lainnya. Sebelumnya film ini juga telah diproduksi dengan versi cerita berbeda berupa trilogi. Film reboot-nya ini diarahkan duo sineas Jonathan Goldstein and John Francis Daley yang dikenal sebagai sutradara komedi situasi (sitcom) televisi. Film berbujet USD 150 juta ini dibintangi sederetan nama-nama besar, yakni Chris Pine, Michelle Rodriquez, Hugh Grant, Justice Smith, serta Sophia Lillis. Hingga kini tidak ada film adaptasi gim yang benar-benar sukses secara komersial maupun kualitas, lantas bagaimana nasib D & D?

Dua protagonis kita, Edgin (Pine) dan rekannya, Holga (Rodriquez) lari dari penjara untuk bisa bertemu putri Edgin, Kira. Rupanya rekan lama mereka, Forge (Grant) yang menjadi penyebab mereka masuk penjara dengan dibantu oleh penyihir merah, Sofina. Kira pun dimanipulasi untuk memusuhi sang ayah. Untuk merebut kembali putrinya, Edgin membentuk tim kecil sekaligus mencoba merebut semua harta yang telah direbut oleh Forge, yang kini telah menjadi pimpinan kota Neverwinter. Di balik itu semua, Sofina bersama kelompok penyihir merah, rupanya memiliki agenda tersembunyi yang bakal membahayakan seluruh penduduk kota.

Baca Juga  The Raid

Oh wow, siapa sangka, film tidak terduga ini, bisa membuat kita terhibur melalui aksi-aksinya sejak segmen pembuka. Bagi yang sudah memainkan gimnya, semangatnya jelas tampak dari kisah petualangan dan aksi-aksinya. Satu tokoh mencari tim, lalu mencari artifak yang dijaga oleh monster raksasa, dan whoosshh! Aksi seru kaya akan CGI disajikan tanpa henti, dan hebatnya tidak sedikit pun adegannya membosankan. Mengapa? Sisi komedi adalah jawabannya. Dipilihnya duo sineas yang berpengalamanan dengan komedi situasi adalah pilihan yang tepat.

Bayangkan hanya untuk satu lelucon kecil, pembuat film bersusah payah untuk membuat adegan melalui aksi CGI demikian megahnya. Kamu pasti tahu ketika kalian menontonnya. Walau plot tipikal sejenis ini bukan hal baru, namun dengan segala pesona set serta tokoh-tokohnya yang unik, lelucon (dialog) dan aksi yang terlihat biasa, bisa tersaji istimewa dan menyegarkan. Seperti para tokohnya yang cerdik, naskahnya pun juga cerdik mengolah sisi aksi, drama, dan komedinya dengan seimbang. Para kastingnya pun mendukung ini semua dan chemistry mereka (berjalannya waktu) terlihat seperti keluarga sungguhan. Durasi lebih dari dua jam terlihat sangat singkat karena kita bisa bersimpati penuh dengan semua karakternya.

Jutaan dollar CGI hanya untuk satu lelucon kecil… I’m in! Dengan segala pesona efek visual dan sisi komedinya, Dungeons & Dragons sejauh ini adalah film paling menghibur tahun ini, terlebih fans genrenya. D & D jelas tidak mungkin dibuat beberapa dekade lalu ketika gim RPG-nya menjadi hits. Jika ada opini soal efek visual yang berlebihan bakal membunuh kisahnya, D & D mampu menampiknya dengan gaya berkelas. Untuk hiburan dan tontonan keluarga, D & D adalah film yang komplit. D & D tidak semata menawarkan aksi dan visual yang memesona, namun memiliki nilai dan sisi humanis yang menyentuh, tentang persahabatan, keluarga, ketamakan, cinta, dan pengorbanan.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaJin Qorin
Artikel BerikutnyaFFWI 2023 Diselenggarakan dengan Berbagai Inovasi
Hobinya menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari studi arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan mengulas film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar di Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengajar Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga tahun 2019. Buku film debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film sebagai naratif dan sinematik. Buku edisi kedua Memahami Film terbit pada tahun 2018. Buku ini menjadi referensi favorit bagi para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Ia juga menulis Buku Film Horor: Dari Caligari ke Hereditary (2023) serta Film Horor Indonesia: Bangkit Dari Kubur (2023). Hingga kini, ia masih menulis ulasan film-film terbaru di montasefilm.com dan terlibat dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Film- film pendek arahannya banyak mendapat apresiasi tinggi di banyak festival, baik lokal maupun internasional. Baru lalu, tulisannya masuk dalam shortlist (15 besar) Kritik Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2022. Sejak tahun 2022 hingga kini, ia juga menjadi pengajar praktisi untuk Mata Kuliah Kritik Film dan Teori Film di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dalam Program Praktisi Mandiri.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.