Dungeons & Dragons: Honor Among Thieves (2023)
134 min|Action, Adventure, Comedy|31 Mar 2023
7.2Rating: 7.2 / 10 from 230,388 usersMetascore: 72
A charming thief and a band of unlikely adventurers embark on an epic quest to retrieve a lost relic, but things go dangerously awry when they run afoul of the wrong people.

Dungeons & Dragons: Honor Among Thieves (D&D) adalah film fantasi komedi yang diadaptasi dari role playing game (RPG) bertitel sama. Gimnya yang berjumlah ratusan telah ada dalam berbagai konsol sejak era 1980-an, seperti Nintendo, Sega, PC Game, Playstation, serta lainnya. Sebelumnya film ini juga telah diproduksi dengan versi cerita berbeda berupa trilogi. Film reboot-nya ini diarahkan duo sineas Jonathan Goldstein and John Francis Daley yang dikenal sebagai sutradara komedi situasi (sitcom) televisi. Film berbujet USD 150 juta ini dibintangi sederetan nama-nama besar, yakni Chris Pine, Michelle Rodriquez, Hugh Grant, Justice Smith, serta Sophia Lillis. Hingga kini tidak ada film adaptasi gim yang benar-benar sukses secara komersial maupun kualitas, lantas bagaimana nasib D & D?

Dua protagonis kita, Edgin (Pine) dan rekannya, Holga (Rodriquez) lari dari penjara untuk bisa bertemu putri Edgin, Kira. Rupanya rekan lama mereka, Forge (Grant) yang menjadi penyebab mereka masuk penjara dengan dibantu oleh penyihir merah, Sofina. Kira pun dimanipulasi untuk memusuhi sang ayah. Untuk merebut kembali putrinya, Edgin membentuk tim kecil sekaligus mencoba merebut semua harta yang telah direbut oleh Forge, yang kini telah menjadi pimpinan kota Neverwinter. Di balik itu semua, Sofina bersama kelompok penyihir merah, rupanya memiliki agenda tersembunyi yang bakal membahayakan seluruh penduduk kota.

Baca Juga  Talk to Me

Oh wow, siapa sangka, film tidak terduga ini, bisa membuat kita terhibur melalui aksi-aksinya sejak segmen pembuka. Bagi yang sudah memainkan gimnya, semangatnya jelas tampak dari kisah petualangan dan aksi-aksinya. Satu tokoh mencari tim, lalu mencari artifak yang dijaga oleh monster raksasa, dan whoosshh! Aksi seru kaya akan CGI disajikan tanpa henti, dan hebatnya tidak sedikit pun adegannya membosankan. Mengapa? Sisi komedi adalah jawabannya. Dipilihnya duo sineas yang berpengalamanan dengan komedi situasi adalah pilihan yang tepat.

Bayangkan hanya untuk satu lelucon kecil, pembuat film bersusah payah untuk membuat adegan melalui aksi CGI demikian megahnya. Kamu pasti tahu ketika kalian menontonnya. Walau plot tipikal sejenis ini bukan hal baru, namun dengan segala pesona set serta tokoh-tokohnya yang unik, lelucon (dialog) dan aksi yang terlihat biasa, bisa tersaji istimewa dan menyegarkan. Seperti para tokohnya yang cerdik, naskahnya pun juga cerdik mengolah sisi aksi, drama, dan komedinya dengan seimbang. Para kastingnya pun mendukung ini semua dan chemistry mereka (berjalannya waktu) terlihat seperti keluarga sungguhan. Durasi lebih dari dua jam terlihat sangat singkat karena kita bisa bersimpati penuh dengan semua karakternya.

Jutaan dollar CGI hanya untuk satu lelucon kecil… I’m in! Dengan segala pesona efek visual dan sisi komedinya, Dungeons & Dragons sejauh ini adalah film paling menghibur tahun ini, terlebih fans genrenya. D & D jelas tidak mungkin dibuat beberapa dekade lalu ketika gim RPG-nya menjadi hits. Jika ada opini soal efek visual yang berlebihan bakal membunuh kisahnya, D & D mampu menampiknya dengan gaya berkelas. Untuk hiburan dan tontonan keluarga, D & D adalah film yang komplit. D & D tidak semata menawarkan aksi dan visual yang memesona, namun memiliki nilai dan sisi humanis yang menyentuh, tentang persahabatan, keluarga, ketamakan, cinta, dan pengorbanan.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaJin Qorin
Artikel BerikutnyaFFWI 2023 Diselenggarakan dengan Berbagai Inovasi
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.