Echo adalah seri yang merupakan kontinuitas dari Marvel Cinematic Universe (MCU) melalui fase 5-nya. Tercatat Echo adalah seri kesepuluh yang diproduksi Marvel Studios sejak WandaVision (2021). Seri ini memiliki total 5 episode yang berdurasi rata-rata 35 menit. Film ini dibintangi Alaqua Cox ,Chaske Spencer, Tantoo Cardinal, Devery Jacobs, Zahn McClarnon, Cody Lightning, Graham Greene, serta Vincent D’Onofrio. Setelah baru lalu merilis What If…? musim kedua dengan segala pencapaian berkualitasnya, mampukah Echo memberi tren bagus bagi MCU?

Plotnya menyambung langsung dari seri Hawkeye (2021) yakni peristiwa penembakan Kingpin alias Wilson Fisk (D’Onofrio) oleh anak angkatnya, Maya Lopez (Cox). Setelahnya, Maya berniat menghabisi bisnis perusahaan Fisk hingga ke akar-akarnya yang membawa ke kampung halamannya di Tamaha, Oklahoma. Tanpa disadari Maya, niatnya ini kelak bakal membawa masalah bagi kota kecil, yang di sana tinggal sanak saudara dan sahabat-sahabat lamanya.

Di awali dengan eksposisi yang ringkas, seri ini secara cepat membangun karakter Maya melalui kilas balik dan kasus yang dihadapinya kini. Beberapa diantaranya menyajikan momen ketika Maya bersinggungan dengan dua sosok superhero lainnya, seperti Daredevil dan Clint Barton/Ronin. Fokus kisah setelahnya banyak didominasi bagaimana Maya beraksi menghadapi para kriminal dengan selipan subplot di sana-sini tentang sepupu (Bonnie) dan nenek (Chula), serta cerita para leluhurnya yang disajikan absurd. Untuk yang terakhir, kita tahu ini kelak bakal mengarah ke mana.

Eksposisi yang ringkas, melemahkan chemistry Maya dengan Bonnie dan Chula, serta pula masa lalunya dengan Kingpin. Hal ini yang menjadi problem terbesar plotnya. Ketika semuanya bertumpuk di segmen klimaks, termasuk campur tangan para leluhur, segalanya menjadi tak membekas. Seolah segala peristiwa itu hanya terjadi sambil lalu. Bahkan kekuatan adikodrati yang Maya miliki seolah adalah hal biasa dan bukan satu hal yang istimewa. Aksi-aksi yang menjadi andalan pun kurang lebih sama, tanpa ada gigitan berarti.

Baca Juga  Tira

Echo melalui latar budaya dan nuansa lokalnya, tak mampu memberi gema kuat bagi seri maupun MCU. Pertanyaan yang mengusik adalah apakah suku indian yang sama, masih memiliki koneksi dengan karakter Kahhori dalam What If…? baru lalu. Berbeda dengan Kahhori yang episodenya begitu istimewa, Echo membuang kesempatan mengambil budaya asli lokalnya untuk menjadi bagian krusial dari kisah MCU. Echo hanyalah sekelebat kisah sosok perempuan tangguh yang memberi kesan sekadar untuk mengisi kuota kosong (platform streaming-nya) dengan sedikit menyempilkan budaya lokal sebagai formalitas.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
55 %
Artikel SebelumnyaThe Beekeeper
Artikel BerikutnyaSehidup Semati
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.