Eggnoid: Cinta & Portal Waktu adalah film drama roman yang disutradarai oleh Naya Anindita bersama Visinema Pictures. Sang sineas telah memproduksi beberapa film, antara lain Sundul Gan: The Story of Kaskus (2016) dan Berangkat! (2017). Film ini merupakan adaptasi dari sebuah webtoon populer berjudul sama. Adaptasi webtoon ke sebuah film kini memang tengah tren tersendiri, terlebih webtoon yang sudah memiliki fans setia. Apakah filmnya yang diadaptasi dari webtoon populer akan laris di pasaran?

Filmnya bercerita tentang gadis remaja SMA bernama Kirana atau sering dipanggil Ran (Sheila Dara Aisha). Dalam kisah filmnya, dikisahkan ia tengah bersedih dalam kesendiriannya di saat ulang tahunnya yang ke-17. Orang tuanya telah tiada dan Ran tinggal bersama dengan Tantenya. Tiba-tiba, sebuah “mesin telur” bernama Eggnoid mendarat di rumahnya. Ketika telur itu terbuka ternyata terdapat seorang laki-laki muda (Eggnoid) dan rupanya adalah hadiah untuk Ran. Waktu pun berselang, Ran dan Eggnoid yang ia namai Eggy (Morgan Oey) pun bersahabat baik.

Kisah filmnya menarik. Fresh dan membawa kita pada kisah fantasi yang membawa imajinasi kita keluar dari cerita roman yang sudah umum. Perpaduan genre roman dengan kisah yang berbalut fiksi ilmiah memang menarik dan jarang dalam film roman kita. Sayangnya, background kisahnya lemah. Plot yang melompat ke 2 tahun selanjutnya dari peristiwa pertemuan Ran dan Eggy, menjadikan kita tak mengerti apa yang terjadi setelah Ran menemukan Eggnoid. Pertanyaan pasti banyak muncul dibenak penonton, Bagaimana mereka bisa dekat? Bagaimana mereka bisa tinggal serumah? Bagaimana dengan tante yang menerima kehadiran Eggy di rumahnya? Montase singkat saja, rasanya bisa membantu mengetahui background kedekatan mereka serta membuat kita bisa lebih masuk dalam kisahnya.

Baca Juga  Serigala Langit

Eggy yang berasal dari masa depan, dikirim untuk menjaga dan menghibur Ran supaya tak kesepian dan merasa sedih. Filmnya memang fokus pada hubungan kedekatan antara mereka berdua. Hal inilah yang menjadi daya tarik di filmnya. Chemistry keduanya tampak dalam adegan yang dibalut kombinasi musik-musik sendu dan romantis yang pas. Seperti sudah diduga, konflik cerita muncul ketika Eggnoid ternyata tak boleh berpacaraan atau menikahi masternya (Ran). Sedangkan Eggy pun tak bisa membendung rasa cintanya pada Ran. Eggy terancam kehilangan sayap dan dikembalikan ke masa depan jika melanggar. Hubungan Ran dan Eggy jadi agak canggung, dari sinilah konflik mulai  dibangun.

Intensitas dramatik di babak-babak awal filmnya memang tinggi, namun pada babak pertengahan hingga akhir, justru semakin menurun. Bahkan ending-nya pun terasa kurang menggigit. Kehadiran sosok baru justru terasa agak mengganggu. Sang sineas tampaknya ingin memberi sentuhan komedi dengan kedua karakter tersebut, namun itu pun tanggung. Terlepas beberapa kelemahannya, Eksplorasi kisah-kisah roman yang segar semacam ini mestinya harus dikembangkan lagi.

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaDarah Daging
Artikel BerikutnyaRembulan Tenggelam di Wajahmu
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sinilah, ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang Sinema Neorealisme dan membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini, ia tercatat sebagai salah satu staf pengajar di Program Studi Film dan Televisi, ISI Yogyakarta mengampu mata kuliah teori, sejarah, serta kajian film. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Miftachul Arifin.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.