Elemental adalah film animasi garapan Peter Sohn yang pernah pula menggarap The Good Dinosaur (2015). Tercatat Elemental adalah film animasi panjang ke-27 produksi Pixar Studios sejak Toy Story (1994) tiga dekade lalu. Film berbujet USD 200 juta ini diisi suara oleh Leah Lewis, Mamoudou Athie, Ronnie del Carmen, Shila Ommi, Wendi McLendon-Covey, dan Catherine O’Hara. Sejak awal pandemi, tren film-film studio Pixar sudah tidak lagi sukses komersial seperti sebelumnya, akankah Elemental mampu mengembalikan pamor studio besar ini?

Elemental City adalah kota metropolitan yang menampung warga dari seluruh elemen, yakni air, awan, api, serta kayu (earth). Orang tua Ember (Lewis) adalah imigran dari tanah api yang telah tinggal belasan tahun dan memiliki toko roti bernama Fireplace. Ayah Ember, Bernie (Carmen) berharap putrinya kelak dapat menggantikan mengurus tokonya. Suatu ketika, seorang pengawas muda saluran air bernama Wade, tak sengaja jatuh ke rumah Ember. Wade pun menemukan bahwa instalasi toko sudah tak lagi layak dan harus ditutup. Ember berusaha mencegah tokonya ditutup hingga petugas dewan kota bernama Gale memberi mereka kesempatan. Mereka pun diharuskan untuk menyelidiki sumber kebocoran air di kota. Selama investigasi, kedua elemen yang bertolak belakang ini berujung menyukai satu sama lain.

Naskahnya yang bertema roman dan keluarga dari berbeda elemen (ras) adalah satu hal yang sudah jamak dalam medium film. Bagi penikmat film, tentu tak sulit menebak arah kisahnya. Sejatinya, kisah roman antara Ember dan Wade dituturkan sangat manis. Problem memang bukan di sini, namun justru pada visualisasi karakternya. Entah mengapa, sosok unik berwujud elemen-elemen ini justru sulit untuk membuat kita untuk masuk ke dalam karakternya. Terasa ada jarak antara karakter dan penonton. Aneh rasanya melihat wujud sosok-sosok elemental ini seolah seperti manusia, walau kita tahu ini semua hanya metafora. Berbeda dengan Inside Out di mana karakter-karakternya hanyalah wujud emosi dari manusia. Relasi dengan manusia terasa begitu kuat.

Baca Juga  The Mule

Naskahnya sama sekali tak buruk, namun untuk level film-film Pixar, saya tentu berharap lebih ada kedalaman dalam kisahnya. Ternyata apa yang kita lihat hanyalah metafora secara eksplisit. Elemen-elemen ini adalah simbol ras yang berbeda untuk menyajikan tema keberagaman. Tidak lebih. Banyak hal bisa digali lebih dalam. Apa sebenarnya makna di balik warna api yang berbeda?  Mengapa Ember bisa berubah menjadi ungu dan mengapa biru merupakan simbol tradisi? Lalu Bunga Vivisteria, disebut sebagai bunga yang mampu hidup di segala elemen, mengapa ini tidak digunakan secara subtil sebagai pendukung utama kisah cerita? Bukankah poin ceritanya adalah ini.

Elemental menyajikan kisah roman antar ras yang menggemaskan hanya saja kemasan visualnya yang tak biasa membuat sulit untuk berempati dengan karakternya. Dari sisi teknis, jelas tak banyak komentar karena standar visual film-film produksi Pixar memang sangat tinggi. Ilustrasi musik yang bernuansa Asia Selatan (India) juga memberi sentuhan unik, walau tak terlihat relasi dengan budaya tersebut. Sebagai penutup, Studio Pixar seperti kehilangan sentuhan dan kedalaman naskahnya, seperti seri Toy Story, Up, Inside Out, Coco hingga Turning Red. Kita lihat bagaimana Elemental bersaing dengan para pesaingnya dalam ajang Academy Awards tahun depan, di mana film animasi Pixar Studios selalu mendominasi.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaExtraction 2
Artikel BerikutnyaFirst Snow of Summer – EoS 2023
Hobinya menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari studi arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan mengulas film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar di Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengajar Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga tahun 2019. Buku film debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film sebagai naratif dan sinematik. Buku edisi kedua Memahami Film terbit pada tahun 2018. Buku ini menjadi referensi favorit bagi para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Ia juga menulis Buku Film Horor: Dari Caligari ke Hereditary (2023) serta Film Horor Indonesia: Bangkit Dari Kubur (2023). Hingga kini, ia masih menulis ulasan film-film terbaru di montasefilm.com dan terlibat dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Film- film pendek arahannya banyak mendapat apresiasi tinggi di banyak festival, baik lokal maupun internasional. Baru lalu, tulisannya masuk dalam shortlist (15 besar) Kritik Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2022. Sejak tahun 2022 hingga kini, ia juga menjadi pengajar praktisi untuk Mata Kuliah Kritik Film dan Teori Film di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dalam Program Praktisi Mandiri.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.