Emancipation adalah film drama aksi sejarah besutan sineas kawakan Antoine Fuqua. Kisah film ini diadaptasi lepas dari kisah seorang budak AS melalui foto ikoniknya “The Whipped Peter” (1863). Film ini dibintangi oleh Will Smith yang tercatat film pertamanya selepas kejadian penamparan di Academy Awards awal tahun ini. Aktor kawakan spesialis antagonis, Ben Foster juga bermain mendampingi Smith. Film berbujet USD 120 juta ini dirilis oleh Apple TV+ pada 9 Desember lalu. Bermodal sineas dan bintang besarnya, akankah film ini menjanjikan pencapaian berkelas?

I am not a slave. I am a man.”

Pada satu perkebunan di era 1860-an di AS, Peter (Smith) dijual oleh majikannya untuk dipekerjakan dalam pembangunan rel kereta api di wilayah Lousiana. Di sana, para budak diperlakukan semena-mena dan tak berperikemanusiaan. Peter tak sengaja mencuri dengar bahwa perbudakan telah dihapuskan oleh Presiden Lincoln, dan para budak yang bebas, bergerak menuju Benteng Baton Rogue. Dalam satu momen, Peter mendapatkan kesempatan untuk kabur, yang memicu semua budak untuk melarikan diri. Satu pemburu budak tangguh bernama Fassel (Foster) mengincar Peter. Aksi perburuan pun di mulai.

Layaknya kisah aksi perburuan dalam Apocalypto (2006), alur kisahnya baru berjalan selepas aksi pengejaran dimulai. Plot perbudakan mendadak berganti haluan menjadi aksi bertahan hidup. Jika kamu berharap Emancipation seperti film arahan Mel Gibson di atas, segera kurangi ekspektasimu. Suara gonggongan anjing tanpa henti, aksi sembunyi, dan berlari (berkuda), mendominasi adegannya. Ancaman hewan buas di rawa pun jauh lebih menakutkan daripada tertangkap para pemburu. Dengan set lokasi yang begitu mengerikan dan meyakinkan, tetap saja ketegangan yang dibangun tidak menggigit. Mengapa? Satu hal jelas adalah karena kita tahu persis dan sadar bahwa Peter akan tetap hidup.

Sungguh tak bisa dipercaya jika sentuhan sang sineas, justru adalah faktor yang “membunuh” Emancipation. Olah rancang pegadeganan aksinya kurang tergali maksimal sehingga kita tak mampu masuk dan sulit bersimpati ke dalam adegannya.

Pertama, tone saturasi yang rendah (nyaris black-white) selalu mengingatkan bahwa kita tengah menonton film, walau motivasi BW ini secara simbolik tak sulit dipahami. Teknik ini, walau dari sisi sinematografi terlihat sangat kuat terutama komposisinya, namun entah mengapa untuk kisahnya yang diadaptasi lepas dari kejadian nyata, tidak bekerja maksimal untuk membangun nuansa real yang ingin dicapai.

Kedua, tak ada orientasi arah yang jelas mengakibatkan kita kehilangan posisi geografis tiap karakternya. Baik pemburu dan buruannya, seolah berjalan berputar tanpa arah yang jelas. Dalam satu adegan, Peter mencoba lari dengan perahu. Kita jelas mendapat kesan bahwa dia akan bergerak menjauh dari para pemburunya (seberang sungai). Anehnya, Peter justru kembali ke arah yang sama dan bertemu lagi para pemburunya, bahkan rekan sesama budak yang berpisah jalan sejak awal. Bodohnya. Ini berbeda dengan aksi perburuan dalam Apocalypto yang memberi arah yang tegas dan jelas, dengan pembeda set yang tegas pula.

Baca Juga  Black Mass

Ketiga, ini rasanya yang paling melelahkan yakni puluhan plot holes yang sulit untuk ditolerir, seolah penonton ditipu mentah-mentah oleh pembuat film. Contoh saja, dalam satu adegan pada sebuah rumah yang terbakar (atapnya terbakar namun tidak dinding rumahnya dan tak jelas siapa pelakunya) adalah satu contoh pengadeganan yang sangat buruk dan memaksa. Agar terlihat make sense, Peter dipertemukan dengan satu persatu para pemburunya, padahal mereka semua berdekatan. Lelahnya menonton ini.

Keempat, alur kisahnya yang berubah arah (lagi) pada 2/3 durasi. Ini menjadikan saya kembali kehilangan arah, kali ini bukan arah geografis, namun arah pengembangan plotnya. Mendadak Peter dengan motivasi yang begitu dipaksakan, bergabung dengan militer dan maju ke garis depan, dan dengan heroik membinasakan semua musuhnya. Setelah sebelumnya, ia diabadikan melalui kamera foto yang menjadikan gambar foto legendaris (The Whipping Peter) yang menjadi inspirasi cerita film ini. OMG, ke mana sebenarnya arah plot ingin dituju? Seolah kisah sebelumnya tidak memberikan arti dan makna apapun. Lalu, kapan sebenarnya punggung Peter dipecut dengan begitu brutal? Saya tak ingat atau mungkin tak terlihat akibat tone saturasi yang rendah?

Di luar sisi sinematografi berkelas (komposisi), entah naskah yang kehilangan arah kisahnya, atau gaya penyutradaraan yang buruk, Emancipation adalah salah satu film besar terburuk yang diproduksi tahun ini. Secara visual, film ini juga tidak nyaman dan melelahkan untuk ditonton. Sang aktor, bisa jadi ingin menebus dosanya melalui penampilannya dalam film ini, namun bagi saya yang ia dapat justru sebaliknya. Tamparan yang lebih keras. Banyak film dengan tema yang sama, jauh lebih superior dari ini. Saya mengagumi karya-karya sang sineas, Training Day, The Equalizer (bahkan sekuelnya), The Magnificent Seven, hingga The Guilty. Sementara Emancipation di luar isu besarnya adalah sebuah bencana besar.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
40 %
Artikel SebelumnyaAvatar: The Way of Water
Artikel BerikutnyaThe Big Four
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.