enola holmes 2

Enola Holmes 2 bisa jadi film yang layak ditunggu para fans adik Sherlock Holmes ini. Enola Holmes 2 kembali disutradarai oleh Harry Bradbeer dengan kembali mengkasting bintang-bintang sebelumnya, yakni Millie Bobby Brown, Henry Cavill, Helena Bonham Carter, Louise Partridge, serta pendatang baru David Thewlis dan Sarah Duncan Brewster. Lantas apakah film rilisan Netflix ini mampu melebihi film orisinalnya?

While I had not a single case, Sherlock has been drowning in them.”

Setelah sukses dengan kasus pertamanya, kini Enola (Brown) berani membuka biro investigasinya sendiri. Hanya saja, karena usianya yang masih remaja membuatnya terlihat kurang kompeten di mata calon kliennya, dan tentunya masih di bawah bayang-bayang kakaknya, sang detektif hebat (Henry Cavill). Nyaris putus asa, ia justru mendapatkan klien seorang gadis cilik yang kehilangan kakaknya, Sarah Chapman. Investigasinya membawa kasus ini menjadi lebih luas, dan tak disangka berbenturan dengan investigasi sang kakak, Sherlock Holmes.

Bicara soal investigasinya, pencapaiannya sedikit lebih baik dan membumi dari seri pertamanya. Bisa jadi dikarenakan naskahnya diadaptasi lepas dari kisah peristiwa protes buruh pabrik korek api yang dimotori Sarah Chapman pada tahun 1888. Naskahnya secara menawan mampu menyandingkan peristiwa ini dengan investigasi Enola dan Sherlock di dalamnya. Sisi investigasinya juga sama sekali tidak buruk, walau tak istimewa, hanya saja penampilan sang bintang, Millie Bobby Brown masih sama memesonanya dengan seri pertamanya. Dengan kembali bermodal pelanggaran tembok keempat membawa sosok ini begitu dekat dengan penonton, khususnya tatapan matanya.

Namun, yang membuat istimewa kali ini adalah porsi screen time sosok Sherlock yang lebih besar. Ini membuat kisahnya menjadi lebih mengasyikkan. Tidak hanya sekadar tempelan, namun juga memiliki chemistry yang lebih dalam dengan sang adik. Tidak hanya aksi investigasi, namun juga masalah personal mereka.

Baca Juga  Jericho Ridge

Walau bukan plot investigasi yang istimewa, Enola Holmes 2 adalah sebuah peningkatan melalui penampilan sang bintang utamanya (plus Henry Cavill) yang begitu menghibur. Seperti sebelumnya, satu pencapaian kuat juga terlihat dari setting-nya yang digarap sangat serius dan meyakinkan. Di luar itu semua, satu kejutan besar tentu adalah penggunaan kisah adaptasi protes buruh perempuan di pabrik korek api. Iya benar, kita semua tahu, semuanya serba didramatisir untuk bisa masuk ke naskahnya, namun usaha dan spiritnya untuk memadukannya adalah satu usaha yang patut diapresiasi. Itu mewakili karakter Enola dan kaum perempuan yang dibelanya, yang kini tengah bergema kuat di medium film.

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaJogi
Artikel BerikutnyaNew Perspectives Excel 2019
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.