Escape Plan yang rilis tahun 2013, terhitung merupakan film bersejarah karena untuk pertama kalinya mempertemukan dua aktor superstar laga pada eranya, yakni Sylvester Stallone dan Arnold Schwarzenegger. Namun, faktanya film ini tak laris-laris amat karena pesona dua aktor ini, kini memang sudah memudar. Jika saja diproduksi setidaknya 10 tahun sebelumnya, bisa jadi segalanya berbeda. Film ini pun tak direspon baik oleh para kritikus, sekali pun tak jelek-jelek amat. Agak mengherankan ketika sekuelnya diproduksi, dan kali ini tanpa Arnold pula, apa lagi yang mau ditawarkan? Film sekuelnya yang bertitel, Escape Plan 2: Hades diarahkan oleh sineas Stephen C. Miller yang memang sering menggarap film aksi B- Movies. Sekalipun begitu, Hades dibintangi oleh Stallone dan Dave Bautista yang kini namanya tengah naik daun, serta aktor dan penyanyi top Mandarin, Huang Xiaoming.

    Alkisah Ray Breslin (Stallone), sang spesialis tes kemanan penjara, kini meneruskan usahanya menembus penjara-penjara dengan keamanan maksimum. Suatu ketika, satu anak buahnya, Shu Ren (Xiaoming) diculik dan dijebloskan dalam penjara super ketat dan modern bernama Hades. Melihat ada sesuatu yang tak beres dalam kasus ini, Ray lalu meminta tolong partner lamanya, Trent DeRosa (Bautista).

    Sejak adegan pembuka saja, sudah tampak gelagat film ini adalah film berbujet murah, berbeda sangat jauh dengan film pertamanya (US$ 54 juta). Film yang rasanya tak layak diputar di bioskop ini, banyak menggunakan shot-shot dekat untuk menutupi kelemahan setting-nya dengan kualitas gambar yang kurang oke pula. Efek visual pun tampak murahan sekali, rasanya serial televisi pun bisa lebih baik dari ini. Kabarnya di AS, film ini memang tidak diputar di bioskop dan dirilis melalui format digital/Bluy Rayon demand. Lalu bagaimana plotnya? Tak perlu banyak komentar. Kisahnya terlalu cepat dan semua serba dipaksakan untuk bergerak maju, dan sepertinya, penikmat film pun tak sulit untuk mengetahui dalang di balik semuanya. Ok terkadang film aksi tak perlu menggunakan nalar atau logika, namun di film ini adegan-adegan aksinya pun bahkan tak bisa kita nikmati. Semua serba medioker. Bujet murah (film ini) rupanya identik dengan film murahan. Buang-buang uang jika kita menontonnya di bioskop.

Baca Juga  The Lodge

     Escape Plan 2: Hades adalah film aksi medioker dari segala sisi yang hanya menjual nama bintang-bintangnya saja. Dari bintang Asianya, sudah tampak target filmnya mau disasar ke negara mana. Film-film aksi Tiongkok, macam Operation Red Sea dan Wolf Warrior 2 juga semata mengedepankan aksi heboh tanpa harus berpikir panjang soal logika/nalar. Kita lihat saja hasilnya di sana. Anehnya lagi, kabarnya, film ini akan diproduksi sekuelnya! Stallone dan Bautista pun dikabarkan bermain di dalamnya! Apa semata uang? Aktor legendaris seperti Stallone amat disayangkan jika tidak mengakhiri karir panjangnya dengan manis dan hanya bermain dalam film medioker macam ini.

WATCH THE TRAILER

PENILAIAN KAMI
Artikel SebelumnyaJailangkung 2
Artikel BerikutnyaKuntilanak
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.