Escape Room (2019)
99 min|Action, Adventure, Horror|04 Jan 2019
6.4Rating: 6.4 / 10 from 141,862 usersMetascore: 48
Six strangers find themselves in a maze of deadly mystery rooms and must use their wits to survive.

Berawal dari beberapa game online bergenre petualangan “escape the room” yang populer, rupanya berujung pada permainan escape room sungguhan yang nge-hits di berbagai belahan dunia. Escape Room dirancang dan dibuat dalam tema tertentu yang berlokasi di tempat-tempat unik, macam penjara, kastil, hingga bahkan setting fantasi dan fiksi ilmiah. Inti permainannya, sekelompok orang terperangkap dalam sebuah ruangan dan harus memecahkan satu misteri atau teka-teki untuk bisa keluar dari sana. Tak disangka, tren ini ternyata memicu produksi filmnya yang berjudul Escape Room.

Escape Room digarap oleh Adam Robitel yang juga telah mengarahkan Insidious: The Last Key tahun lalu. Film berdurasi 100 menit ini dibintangi aktor-aktris nonbintang, yakni Taylor Russel, Logan Miller, Deborah Ann Woll, Tyler Labine, dan Jay Ellis. Dengan berbakal bujet US$ 9 juta mampukah film ini memuaskan fans genrenya serta fans fanatik permainan ini?

Sekelompok orang, yakni Zoey, Ben, Amanda, Mike, Jason, dan Danny mendapatkan sebuah undangan misterius dari sebuah perusahaan untuk bermain dalam sebuah permainan Escape Room. Mereka diimingi hadiah US$ 10.000 jika bisa menyelesaikan permainan tersebut. Tanpa disadari, mereka terjebak dalam sebuah permainan fisik dan psikologis yang menghadirkan trauma dan masa lalu mereka secara personal, dengan nyawa mereka sebagai taruhannya.

Sejak sekuen pembuka, filmnya telah menghadirkan satu segmen aksi yang sangat menegangkan yang bakal menjadi aksi rutin sepanjang plotnya. Dibuka tanpa latar tokoh yang memadai, penonton langsung dikenalkan 6 karakternya melalui permainan escape room yang langsung begitu saja berjalan. Sejak permainan dimulai, sisi ketegangan demi ketegangan berjalan tanpa henti yang berjalan ruang demi ruang. Hebatnya, tensi cerita tak pernah menurun barang sedetik pun. Penonton dibuat terus penasaran dengan aksi-aksi suspence berkelas dan sisi misterinya. Satu aksi ketegangan sangat mengesankan disajikan dalam ruang “upside down” yang dijamin bakal membuat penonton menahan napas sepanjang adegannya.

Baca Juga  A Star Is Born

Jika bicara genrenya, jenis genre “permainan bertahan hidup” senada sudah banyak di pasaran, tentu dalam skala cerita yang berbeda-beda, sebut saja Running Man, The Cube, seri SAW, seri Battle Royale, The Maze Runner, hingga The Hunger Games. Masing-masing memiliki keunikan kisahnya dan sisi ketegangan yang berbeda. Escape Room boleh jadi adalah salah satu yang terbaik dalam membangun sisi ketegangannya sepanjang film. Sayangnya, pilihan ending-nya yang memaksa untuk membuka peluang sekuelnya justru membuat tensi dramatik filmnya menurun. Padahal sisi psikologis dan trauma masa lalu tiap tokohnya bisa menyatu dengan baik dalam permainan ini sehingga berpotensi membuat ending yang lebih menyentuh dan dramatik. Rupanya ini semua hanya berujung pada permainan “judi “ belaka. Sayang sekali.

Tak dipungkiri, selain unsur ketegangan, kekuatan filmnya ada pada sisi artistiknya. Ruang-ruang permainan dirancang sedemikian rupa dengan unik untuk mendukung adegan-adegan aksinya. Jelas medium film memiliki kelebihan melalui aspek artistik serta efek visual sehingga menjadikannya lebih mewah ketimbang ruang permainan yang ada di dunia nyata. Ilustrasi musik jelas memegang peranan penting dalam film ini dan tiap segmen adegannya tema musik “berdetik” ini mampu mendukung penuh tiap aksi ketegangannya. Semua aksinya adalah murni sisi ketegangan tanpa elemen kejutan layaknya film horor.

Escape Room bisa jadi jauh dari orisinal, namun unsur ketegangan dalam film ini adalah salah satu yang terbaik di genrenya. Untuk target penontonnya, film ini jelas bakal banyak memikat kalangan muda. Film ini rasanya juga bakal semakin mempopulerkan permainan ini. Film sekuelnya jelas sudah di depan mata. Semoga bisa lebih baik dari film ini, khususnya dari sisi dramatik yang rasanya bisa membuatnya memiliki sisi manusiawi dan lebih dari film hiburan semata.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaAfter Met You
Artikel BerikutnyaGlass
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.