Movie Poster

Sutradara: Baltasar Kormakur
Produser: Tim Bevan/Eriv Felnerr/Baltasar Kormakur
Penulis Naskah: William Nicholson/Simon Beaufoy
Pemain: Jason Clark/Josh Brolin/Jake Gylenhaal/Michael Kelly/Kiera Knigthley/Sam Worthington
Sinematografi: Salvatore Totino
Editing: Mick Audsley
Ilustrasi Musik: Dario Marianelly
Studio: Cross Creek Pictures/Walden Media/Working Title File/RVK Studios
Distributor: Universal
Durasi: 121 menit
Bujet: US$ 65 juta

Tidak banyak film fiksi yang berlatar pendakian difilmkan, tercatat yang populer, dua film drama aksi Cliffhanger (1993) dan Vertical Limit (2000). Sementara film dokumenter istimewa, Touching the Void (2003) menggunakan pendekatan fiksi yang sepertinya hingga kini masih belum ada tandingannya. Everest merupakan drama biografi yang diangkat dari peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi. Problem untuk kisah nyata seperti ini adalah bagaimana membuat sebuah drama menjadi dramatis dan film ini tidak ada yang istimewa.

Sejak trailer-nya muncul penonton pasti sudah bisa meraba plotnya dan memang hanya ini kisah filmnya. Rob Hall adalah satu dari sedikit orang yang mampu menaklukkan gunung tertinggi di dunia, Everest. Setelahnya Rob dan rekan-rekannya menjadi pemandu kelas kakap untuk memandu memuncaki gunung tersebut. Bisnis berjalan baik dan ia bahkan rela meninggalkan istrinya yang tengah mengandung. Pemanduan kali ini istimewa karena diantaranya membawa  klien seorang jurnalis yang dianggap bisa membantu menaikkan karirnya. Melalui proses yang panjang akhirnya Rob dapat membawa mereka naik ke puncak dan badai pun melanda puncak Everest.

Sejak awal kisah berjalan menarik, dan layaknya film dokumenter, penonton seperti para pendaki sungguhan dibawa tahap demi tahap sebelum naik ke Gunung Everest. Cukup menarik memang namun tanpa ada konflik yang berarti disini. Belasan tokoh dalam kisahnya membuat latar belakang satu persatu tidak dieksplorasi terlalu dalam dan ini membuat penonton tidak cukup masuk pada karakternya. Proses yang panjang dan sedikit membosankan memberi harapan sebuah klimaks yang sangat kuat. Nyatanya tidak. Film ini sudah berusaha keras membuat kisah sederhana ini sedramatik mungkin namun hasilnya tetap saja kurang menggigit.

Baca Juga  Prometheus

Satu kekuatan film ini adalah visual dan khususnya, aspek suara yang sangat mengagumkan.  Secara visual film ini sangat menarik justru di awal film, setelahnya tampak sekali CGI mendominasi. Dalam beberapa momen seperti ketika di puncak, secara visual tampak sekali artifisial melalui sudut-sudut kamera yang mustahil. Sepertinya ini yang justru membuat nuansa ketegangan kisahnya menjadi meluntur. Namun hal ini tidak terjadi dalam aspek suara. Suara mampu membawa kita masuk ke dalam badai dan merasakan betapa dinginnya gunung Everest. Sepertinya kandidat nominasi Oscar untuk sound mixing sudah bisa kita prediksi. Belasan kasting papan atas, satu pun tidak ada yang bermain jelek namun tidak juga mampu mengangkat filmnya.

Everest  adalah sebuah drama biografi yang menyajikan aspek visual dan khususnya audio (sound) yang mengagumkan namun aroma dokumenter dari sisi cerita membuat kisahnya kurang menggigit walau didukung para pemain kelas atas yang bermain baik. Setidaknya film ini mampu menggambarkan secara rinci proses pendakian ke Gunung Everest yang memang sulit. Untuk bisa memuncaki gunung tertinggi di bumi ini tidak hanya butuh pengalaman mendaki namun juga keberuntungan dan faktor alam yang tidak bisa diprediksi. Gunung Everest memang bukan hal mudah untuk ditaklukkan namun sayangnya film ini tidak sebesar gunungnya.

MOVIE TRAILER

PENILAIAN KAMI
Total
50 %
Artikel SebelumnyaRebecca Ferguson Kandidat Captain Marvel
Artikel BerikutnyaBlack Mass
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.