expend4bles
The Expendables 4 (2023)
103 min|Action, Adventure, Thriller|22 Sep 2023
4.8Rating: 4.8 / 10 from 53,603 usersMetascore: 30
Armed with every weapon they can get their hands on, the Expendables are the world's last line of defense and the team that gets called when all other options are off the table.

Aksi para bintang laga kawakan secara mengejutkan rupanya masih diproduksi sekalipun seri terakhirnya tidak menuai sukses yang diharapkan. Expend4bles adalah seri keempat film laga bertabur bintang yang kini diarahkan Scott Waugh. Film ini masih dibintangi aktor-aktor regulernya, Jason Statham, Sylvester Stallone, Dolph Lundgren, Randy Couture serta kini didukung Curtis “50 Cent” Jackson, Megan Fox, Tony Jaa, Iko Uwais, Jacob Scipio, Levy Tran, hingga Andy García. Dengan bermodal USD 100 juta, mampukah film ini menuai sukses komersial seperti seri awalnya?

Barney (Stallone), Christmas (Statham), dan rekan-rekannya kini mendapat misi rahasia untuk meladeni satu kelompok teroris pimpinan Rahmat (Uwais) yang mengincar hulu ledak nuklir di Libya. Dalam satu pertempuran sengit, satu rekan mereka gugur hingga agen CIA kepala misi ini, Marsh (Garcia), mendepak Christmas karena mengabaikan perintah. Rahmat pun kini memiliki bom nuklir dan rupanya ia berniat memulai Perang Dunia III dengan meledakkannya di perbatasan Rusia. Sementara tim Expendables ditugaskan kembali mengejar Rahmat, Christmas pun dengan caranya sendiri memiliki agenda yang sama.

Sekuel ketiganya masih menggunakan formula cerita yang sama dengan seri sebelumnya. Sekelompok tim protagonis tangguh melakukan sebuah misi besar rahasia untuk menyelamatkan dunia dengan hadangan para antagonis yang sulit ditaklukkan. Para penikmat seri pendahulunya tahu persis ke mana arah kisahnya melalui dominasi aksi aktor-aktor laga jagoan kita plus selipan humornya. Penampilan para bintangnya adalah menu utama dan memang bukan plotnya. Kisahnya terlalu mudah diantisipasi (dengan secuil twist) tanpa ada ancaman yang berarti. Aksi-aksinya berjalan generik tanpa ada sesuatu yang baru, baik itu aksi perkelahian, tembak menembak, aksi kejar mengejar, hingga ledakan bom. Tipikal dan sungguh sangat melelahkan.

Baca Juga  Kang Mak from Pee Mak | REVIEW

Bukankah aksi yang kita cari di sini? Betul, namun pada seri sebelumnya, setidaknya para bintang laganya menikmati betul peran mereka. Mereka enjoy, maka kita pun enjoy. Bintang-bintang kawakan ini sudah kita kenal betul gaya dan ekspresinya melalui film-film ikonik mereka, dan ini yang sesungguhnya kita cari dan tunggu. Sebut saja aksi khas Arnold, Bruce Willis, Jet Li, Van Damme, Harrison Ford, hingga Robert Davy dalam seri-seri sebelumnya. Ini yang sudah tidak kita temui dalam sekuel terbarunya. Bintang-bintang laga Asia pendatang baru, Tony Jaa dan Iko Uwais pun tak mampu memberi kesan membekas, sekalipun di luar dugaan, Iko mendapat peran dominan. Si jelita, Megan Fox secara literal hanya sebagai pemanis belaka tanpa peran berarti.

Seperti titelnya, Expend4bles adalah sekuel sia-sia yang tak lagi menyenangkan bagi para pemain maupun penonton. Tak ada cerita yang berarti, tak ada ancaman, lubang plot yang tak terhitung, dan aksi bintang-bintangnya yang tak menggigit dan melelahkan. Sebagai penghormatan besar atas karir panjang mereka, mengapa tidak merekonstruksi cerita yang lebih manusiawi dan menyentuh, alih-alih aksi nihil seperti ini. Ini adalah sebuah kesia-sia-an besar yang tak bisa ditolerir para fans sejati bintang-bintangnya.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
20 %
Artikel SebelumnyaLove at First Sight
Artikel BerikutnyaKisah Tanah Jawa: Pocong Gundul
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses