Sukses Extraction dengan segala pesona aksinya, rupanya berlanjut pada sekuelnya Extraction 2. Masih digarap oleh sineas yang sama Sam Hargraves dengan diproduseri Joe & Anthony Russo. Naskahnya masih pula bersumber pada novel bergambar bertitel Ciudad karya Andre Parks dan Russo Brothers. Film yang baru saja dirilis oleh Netflix ini kembali dibintangi oleh Chris Hemsworth dan Golshifteh Maharani, serta didukung pula Idris Elba, Olga Kurylenko, dan Adam Bessa. Akankah sekuelnya ini bakal seheboh film pertamanya?

Belum pulih benar dari cedera sebelumnya, Tyler Rake (Hemsworth) mendapatkan misi untuk menolong adik mantan istrinya yang kini dipaksa tinggal di penjara di Georgia bersama dua anaknya. Sang suami adalah adik dari gembong kriminal paling berpengaruh di negaranya, Keluarga Nagazi. Dengan dibantu timnya, Nik (Faharani) dan Yaz (Bessa), Tyler membobol penjara dan menyelamatkan ketiganya di antara ratusan penghuni penjara yang beringas. Rencana yang telah dibuat sedemikian matang rupanya tidak semudah yang mereka perkirakan.

Seperti Extraction, plotnya ringkas dan sederhana yang bertujuan satu hal. Mengambil sandera dan bertahan hidup untuk mengeksploitasi aksi secara maksimal. Non-stop. Background sang sineas yang merupakan koordinator stunt dalam film-film superhero Marvel yang digarap Russo Brother memang menunjukkan seluruh potensi skill-nya. Dari pertarungan satu lawan satu, keroyokan, aksi tembak menembak di lorong penjara, pabrik, kereta api, helikopter, gedung bertingkat, hingga pangkalan udara, semuanya disajikan gila-gilaan. Seperti sebelumnya, aksi long take (shot tak terputus) seringkali digunakan dengan cara yang ekstrem melalui pergerakan kamera yang dinamis. Tak jarang, kepala pun ikut pening dan mual karena kamera yang bergoyang-goyang begitu cepat dan kasar.

Seperti sebelumnya, Extraction 2 menyajikan naskah simpel dengan tujuan maksimal mengeksplorasi aksi dengan segala pencapaian estetiknya. Aksi-aksinya yang heboh memang kerap memancing rasa ketegangan, seperti ketika bertarung di atap kaca bangunan gedung tingkat tinggi. Bicara soal logika harus kita buang jauh-jauh karena daya tahan fisik manusia dengan luka tubuh sedemikian hebat seperti tak bisa diukur. Di antara gegap gempita aksinya, masih ada secuil sisi manusiawi, seperti loyalitas Tyler dengan timnya, hubungan ayah dan anak, serta putra dan ibunya. Untuk penikmat aksi dan fans Hemsworth, Extraction 2 adalah sebuah tontonan wajib.

Baca Juga  Qala

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaLatahnya Patriotisme dalam Jagat Sinema Indonesia
Artikel BerikutnyaElemental
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.