Eye in the Sky (2015)

102 min|Action, Drama, Thriller|01 Apr 2016
7.3Rating: 7.3 / 10 from 94,986 usersMetascore: 73
Col. Katherine Powell, a military officer in command of an operation to capture terrorists in Kenya, sees her mission escalate when a girl enters the kill zone, triggering an international dispute over the implications of modern w…

Film aksi thriller politik memang bukan hal yang baru namun baru kali ini rasanya satu film mampu menggambarkan sangat baik bagaimana dilema serta panjangnya tali birokrasi untuk mengambil satu keputusan sulit dalam medan perang, perang melawan teroris lebih tepatnya. Gavid Hood, sang sineas sendiri pernah memproduksi film bertema terorisme berkualitas yakni, Rendition sebelum menggarap film-film bertema lebih mainstream macam X-Men Origins: Wolverine dan Ender’s Game. Eye in The Sky adalah satu pencapaian istimewa dari sang sineas yang rasanya bisa membawanya ke level yang lebih tinggi lagi.

Eye In the Sky mengawali kisahnya ketika buron teroris kelas kakap berhasil dikonfirmasi lokasinya di areal padat pemukiman di Nairobi, Kenya. Militer Inggris yang dipimpin Kolonel Powell (Helen Mirren) bekerjasama dengan Militer AS dan militer lokal (Kenya). Misi awal sederhana yakni menangkap di tempat buron tersebut namun dalam perkembangan situasi menjadi tak terkendali yang mengharuskan Powell mendapat izin dari para atasannya sebelum mengambil keputusan besar.

Kisah yang awalnya berjalan lambat mulai berubah drastis ketika semua rencana awal berjalan tidak sesuai rencana. Powell dipaksa mengambil keputusan baru setiap saat yang memiliki konsekuensi besar terhadap rantai birokrasi di atasnya. Sejak momen ini hingga akhir adalah aksi yang amat sangat menegangkan hingga penonton nyaris tidak diberi kesempatan untuk mengambil nafas panjang. Nyaris tanpa aksi di lapangan hanya bermodal perdebatan para pembuat keputusan sudah cukup untuk membuat penonton tidak bergeming menatap layar. Aksi kecil di lapangan oleh agen Jama Farah yang diperankan nomine Oscar Barkhad Abdi, dengan gayanya yang khas sedikit memberi sentuhan humor sekalipun situasinya amat serius.

Baca Juga  Talk to Me

Eye in the Sky menawarkan sebuah aksi thriller politik istimewa yang amat menegangkan dari balik layar dengan didukung para kasting yang bermain sangat baik. Akting khas almarhum Alan Rickman dalam peran terakhirnya sebagai jendral atasan Kolonel Powell dapat kita nikmati sekalipun ini bukan pencapaian akting terbaiknya. Eye in The Sky menggambarkan betapa peliknya penanganan aksi terorisme melalui pendekatan yang berbeda dari masing-masing negara serta upaya mereka untuk mengantisipasi aksi tanpa jatuh banyak korban dengan implikasi politik yang kecil. Dilema moral terbesar, yakni perlukah mengorbankan satu nyawa untuk menyelamatkan ribuan yang lain? Film ini belum bisa menjawabnya atau mungkin memang tidak akan pernah ada jawaban yang pasti. Semua pilihan pasti ada resikonya.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaGet Up Stand Up
Artikel BerikutnyaSurat Cinta Untuk Kartini
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses