Movie Poster
Movie Poster

Sutradara: Josh Trank
Produser: Simon Kinberg/Matthew Vaughn/Hucth Parker/Robert Kulzar/Gregory Goodman
Penulis Naskah: Jeremi Slater/Simon Kinberg/Josh Trank
Pemain: Milles Teller/Kate Mara/Jamie Bell/Michael B. Jordan
Sinematografi: Mathew Jensen
Editing: Elliot Greenberg/Sthephen E. Rivkin
Ilustrasi Musik: Marco Beltrami/Phillip Glass
Studio: 20th Century Fox/Marvel Entertaintment/Constantin Film/Marv Films/Robert Kulzar Productions/TSG Entertaintment
Distributor: 20th Century Fox
Durasi: 100 menit
Bujet: US$ 120 juta

Dua seri Fantastic Four (F4) sebelumnya dianggap tidak berhasil secara kritik sekalipun dua film ini membawa warna berbeda pada genre superhero. Dalam film untuk pertama kalinya superhero tidak menggunakan penutup wajah dan identitas mereka diketahui publik, mereka bekerja secara team work serta tentu sentuhan humornya, semuanya membawa sensasi berbeda bagi penonton. Alur kisahnya yang dibawah standar genre superhero serta penekanan berlebihan pada efek visual menjadi titik lemah dua film ini. Reebot-nya kali ini digawangi oleh Josh Trank yang sukses melalui sub-genre superhero yang unik, Chronicle. Namun sayangnya, film reboot-nya ini tidak lebih baik dari sebelumnya.

Alkisah empat ilmuwan muda, Reed, Johny, dan Sue, Victor, terlibat dalam sebuah eksperimen pembuatan mesin teleport ke dimensi lain. Ketika project mereka berhasil dalam ujicoba, mereka mencoba alat tersebut sendiri, sebelum diambil-alih oleh pemerintah. Kisah selanjutnya sudah bisa ditebak. Alur kisahnya kali ini adalah sebuah eksposisi panjang untuk film keduanya kelak yang dirilis dua tahun lagi. Latar belakang tiap tokoh cerita hanya diperlihatkan secara sekilas. Sejak awal kisahnya berjalan amat lambat dan membosankan ditambah lagi penggambaran visual dengan warna yang gelap dan suram semakin membuat penonton mudah terlelap.

Kisahnya yang sudah tidak menarik diperburuk lagi oleh sekuen aksinya yang jauh dibawah standart genre-nya. Penggunaan CGI sama sekali tak ada yang istimewa bahkan masih dibawah dua seri sebelumnya. Segmen klimaks yang jadi unggulan juga tidak ada yang mengesankan sama sekali dan menawarkan sesuatu yang baru. Semua sudah kita lihat di-trailernya. Sepertinya Trank berusaha menggunakan pendekatan realistik seperti yang dilakukannya dalam Chronicle namun jelas sulit karena tokoh-tokohnya kali ini jelas memiliki kemampuan super yang lebih tidak real dan hasilnya malah tampak artifisial.

Baca Juga  Sonic the Hedgehog 3

Pilihan kasting lebih muda, seperti Teller, Mara, Bell, dan Jordan sepertinya sudah tepat untuk me-reebot versi F4 milik Chris Evans dan Jessica Alba untuk penonton era kini. Namun sayangnya bakat mereka tersia-sia karena peran mereka kurang tereksplor lebih dalam. Trank ternyata juga tidak mampu membawa pendekatan psikologis tiap tokohnya seperti yang begitu brilyan dilakukannya dalam Chronicle. Hubungan antar tokoh kali ini juga tidak terjalin dengan kuat seperti dalam dua seri sebelumnya.

Fantastic Four sebenarnya adalah sebuah reboot yang tidak jelek hanya kisah dan aksinya tidak menawarkan sesuatu yang baru. Problem utamanya adalah sudah terlalu banyak film superhero yang lebih baik dari film ini bahkan dua seri Fantastic Four versi sebelumnya. Film ini tidak lebih adalah sebuah prolog panjang dan membosankan bagi sekuelnya kelak. Dua tahun lagi sekuelnya akan diproduksi tapi melihat gelagatnya bisa jadi tidak akan diproduksi jika film ini gagal secara komersil.

MOVIE TRAILER

PENILAIAN KAMI
Total
40 %
Artikel SebelumnyaAksi Tom Cruise Tanpa Stunt dalam M:I 5
Artikel BerikutnyaAphicatpong Weerasethakul : Dalam Perbincangan
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

1 TANGGAPAN

  1. Yup min, bener banget. fantastic 4 yang kali ini emang ngebosenin banget. Kalo menurut mimin, film maze runner 2 yang bakal tayang bulan sept nanti ngebosenin juga atau lebih seru? Aku baca postingannya facebook.com/BankMegaID, kalau film yang mau tayang di bulan Sept itu salah satunya Maze Runner 2. Aku gamau kecewa lagi nih kaya nonton fantastic 4, hehe :p

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses