Danur (2017)

N/A|Horror|30 Mar 2017
5.5Rating: 5.5 / 10 from 419 usersMetascore: N/A
The girl who get a friendship with 3 ghosts.

Satu lagi film horor fenomenal, Danur: I Can See Ghost, dipadati penonton bioskop selama berminggu-minggu. Film ini telah ditonton hampir mencapai 2 juta penonton pada 3 minggu rilisnya, dan hingga kini mencatatkan diri sebagai film horor terlaris di negeri ini dengan lebih dari 2,7 juta penonton. Danur diadaptasi dari novel laris berjudul Gerbang Dialog Danur karya Risa Saraswati, yang konon terinspirasi dari kisah hidup sang penulis sendiri. Film ini disutradarai oleh Awi Suryadi dengan dibintangi oleh aktris remaja populer, Prilly Latuconsina. Tanpa ekspektasi besar saya menonton film ini. Semata karena ingin menonton film horor lokal terlaris sepanjang masa, serta pula karena terbawa sensasi pemberitaan media. Walau dari trailer-nya gelagat kualitas filmnya sudah terlihat jelas.

Mengisahkan Risa yang selalu ditinggal sendirian di rumah oleh kedua orang tuanya yang sibuk bekerja. Risa cilik ternyata memiliki kemampuan untuk melihat arwah, namun tanpa ia sadari. Teman-teman barunya menemaninya bermain sepanjang hari hingga suatu ketika Risa akhirnya bisa mengerti jika mereka ternyata adalah arwah gentayangan. Inti kisahnya sendiri bermula beberapa tahun kemudian, ketika Risa harus kembali ke rumah lamanya untuk menemani neneknya, bersama sang adik dan sepupunya. Sesosok arwah jahat mengincar adiknya untuk dibawa ke alam roh.

Dengan harapan kuat menemukan sesuatu yang berbeda, ternyata film ini tak ubahnya FTV belaka. Baik dari sisi penceritaan maupun teknik, film ini terlalu banyak memiliki kelemahan. Nyaris semua aspeknya terlalu memaksa. Kisahnya terbagi menjadi dua segmen besar, sebut saja segmen prolog dan segmen masa kini. Segmen pertama mengisahkan Risa sewaktu cilik, dan segmen dua adalah ketika ia sudah remaja. Mari satu-satu kita bahas film ini per segmen.

Segmen Prolog

Kisah pada segmen pertama ini jauh lebih menarik daripada segmen kedua, walau inti kisahnya rada mirip dengan The Sixth Sense. Tak banyak masalah sebenarnya di segmen ini, kecuali logika cerita yang menganggu, serta sedikit aspek teknis. Keluarga Risa jelas adalah kalangan atas yang rasanya mampu untuk mengupah belasan pembantu sekaligus, namun rumah Risa yang begitu besar terlihat amat sepi. Sepanjang film hanya terlihat dua orang, pembantu laki-laki dan perempuan. Mang Ujang mendapat satu adegan kecil, namun si pembantu perempuan hanya muncul beberapa detik saja. Oke, situasi ini bisa saja terjadi, namun tetap saja terlihat memaksa agar Risa terlihat sendirian di rumah. Semua bisa saja dikondisikan dengan logis tanpa harus mengabaikan logika. Juga sedikit mengganjal adalah gaya arsitektur bangunan rumah. Jika Peter dan kawan-kawan sudah puluhan tahun disana (anak orang Belanda), bangunan rumah tersebut tidak tampak seperti rumah Belanda (kuno), baik dari sisi eksterior maupun interior. Ada sentuhan modern di banyak elemen bangunan tersebut, mengapa begitu tanggung dan tidak menggunakan bangunan Belanda lawas sekalian.

Dari sisi teknis, segmen ini tampak sangat memaksa dari sisi pencahayaan. Rumah semewah itu dengan kondisi yang sepi seperti sudah tampak di-“setting” untuk film horor melalui pencahayaan low key yang temaram. Beberapa pergerakan kamera dan shot-nya juga sering kali mubazir. Seolah shot-nya akan membawa kita ke suatu adegan/momen penting, namun ternyata tidak. Satu-satunya poin baik pada segmen ini, adalah akting aktris cilik yang bermain sebagai Risa kecil. Ia tampil baik sebagai Risa yang kesepian dengan gesturnya yang natural. Bintang cilik ini mampu menampilkan akting terbaik dari para pemain lainnya dalam film ini.

Baca Juga  Aphicatpong Weerasethakul : Dalam Perbincangan

Segmen Masa Kini

Unsur pemaksaan cerita semakin menjadi pada segmen kedua, bahkan keberadaan karakternya pun memaksa. Kisahnya masih di lokasi yang sama, namun tak jelas mengapa harus mengambil cerita di sana? Kedua pembantu pada segmen pertama sudah tak tampak lagi, dan tidak terlihat gantinya walau sekilas pun. Lantas mana sosok sang ayah? Kali ini karakter bertambah sang nenek yang kondisinya sakit parah (kemungkinan stroke hingga lumpuh), dan anehnya tidak ada satu pun perawat yang mendampingi. Tak jelas pula mengapa sang nenek harus ada disana, dan mengapa Risa dan adiknya harus menemani sang nenek? Dan satu lagi yang sangat menggangu, mengapa sang nenek harus di-make up sedemikian artifisial hingga tampak lebih menyeramkan dari hantu yang ada di film ini? Lalu satu tokoh baru lagi  muncul, yakni Mbak Asih. Siapa pun pasti sudah tahu jika ia adalah sosok yang tak wajar, dari sikap dan gesturnya, dan ternyata benar, tak ada kejutan dari karakter ini.

Dari sisi teknis, segmen kedua kurang lebih masih sama dengan pertama. Banyak adegan atau shot yang mubazir dan tak jelas fungsinya, seolah sineas kebingungan untuk menambah durasi filmnya, seperti beberapa shot sang nenek di kala sendiri tidak bermotif apapun (sempat terpikir sang nenek bakal kerasukan atau semacamnya). Untuk genrenya, film ini terbilang tidak mampu menampilkan kengerian sama sekali. Trik horornya sudah terlalu umum, baik permainan shot atau ilustrasi musik, bahkan segmen klimaks pun sangat mirip dengan seri Insidious, namun dengan motif lebih tak jelas. Tak ada yang baru sama sekali untuk genrenya. Bahkan teknik crosscutting a la sinetron, yang membuat frustrasi pun digunakan dalam segmen klimaksnya, yakni ketika Risa menarik adiknya dari bathtub, dipotong dengan sang ibu yang menancapkan sisir sang demit di bawah pohon beringin angker. Oh my God! Untuk mendramatisir adegan dan menambah durasi bisa dilakukan dengan cara yang lebih estetik dari ini, seperti insert shot interior atau eksterior rumah.

 

Saya hanya bisa menggeleng-geleng kepala melihat film ini. Danur adalah satu contoh film horor lokal yang sukses karena mengandalkan sensasi ketimbang pencapaian cerita dan estetik yang memadai.  Sukses fenomenal Danur rupanya berimbas secara komersial pada film-film horor kita setelahnya, seperti Jailangkung dan The Doll 2, yang tercatat pula sebagai film horor yang pencapaiannya kurang baik. Sejak film kita mulai bangkit sejak dua dekade lalu hingga kini, ternyata tidak mengalami perkembangan berarti, terlepas beberapa film horor kita seperti Kuntilanak dan Rumah Dara memiliki pencapaian baik untuk genrenya. Kita masih memiliki banyak potensi “demit” lokal yang belum dieksploitasi secara maksimal baik secara cerita maupun estetik. Bujet jelas bukan alasan, di luar sana, film horor berbujet mikro seringkali diproduksi dengan pencapaian cerita serta teknik yang sederhana, namun hasilnya maksimal baik secara kritik maupun komersial. Kita bisa belajar banyak dari mereka, bukannya lantas mengadopsinya mentah-mentah. Masih kita tunggu, film horor Indonesia yang berkualitas baik.

WATCH TRAILER

Artikel SebelumnyaOverdrive
Artikel BerikutnyaBanda: The Dark Forgotten Trail
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini