Lebaran selalu identik dengan liburan panjang dan momen kebersamaan. Tak heran jika bioskop-bioskop di Indonesia selalu bersiap diri untuk menampilkan film-film lokal unggulan selama masa ini. Lebaran kali ini, bisa dikatakan Summer Holiday-nya orang Indonesia karena bertepatan pula dengan libur sekolah. Menonton film tentu menjadi satu aktivitas pilihan, khususnya yang tinggal di kota besar dan tersedia fasilitas bioskop, yang biasanya berlokasi di mall. Selain jalan-jalan ke mall, menonton film seperti telah menjadi menu wajib bagi sebagian kalangan yang ingin mengisi waktu liburannya bersama teman atau keluarga.

Pada lebaran tahun ini, setidaknya terdapat lima film lokal yang dirilis serentak pada hari pertama Idul Fitri. Lima film tersebut adalah Kuntilanak, Target, Jailangkung 2, Insya Allah Sah 2, serta Dimsum Martabak. Genre horor dan komedi mendominasi kali ini. Terdapat pula dua film sekuel dari Jailangkung (2017) dan Insya Allah Sah (2017) yang uniknya juga dirilis pada lebaran tahun lalu.

Walaupun harga tiket relatif tinggi selama liburan (berkisar Rp. 40.000 – Rp. 50.000,-), serta bersaing pula dengan film barat populer (Jurassic World 2 dan Incredibles 2), namun animo untuk menonton film lokal ternyata masih tinggi. Hal ini terlihat dari jumlah penonton yang terhitung hingga saat ini. Di puncak, Jailangkung 2 meraih 1.322.414 penonton, diikuti Kuntilanak sebesar 1.095.376 penonton, Target  sebanyak 766.350 penonton, Insya Allah Sah 2 sebanyak 415.734 penonton, dan Dimsum Martabak meraih 354.558 penonton, dengan total angka mendekati 4 juta penonton. Angka ini terus bertambah karena sebagian masih diputar di bioskop.

Oke kita anggap saja film-film di atas terbukti sukses komersial. Sukses ini tentu menjadi tujuan utama produser untuk mengembalikan modal mereka dengan meraup banyak penonton. Hal ini sah-sah saja dalam indutri film. Namun, film juga tidak serta merta menjadi barang komoditas semata. Satu hal penting pula adalah persoalan kualitas, baik secara cerita, estetika, atau pun nilai atau pesan. Rasanya kualitas film kita, khususnya yang diputar pada lebaran kali ini, masih mengabaikan kualitas cerita.

Hal ini rupanya dirasakan pula oleh sutradara kondang, Joko Anwar usai menonton dua film lebaran yang tak ia sebutkan judulnya. “Nonton film baru di bioskop. Nggak kuat. Jelek banget huhuhu. Pindah nonton film satu lagi. Sama aja. Kepala jadi pening. Entah karena nonton dua film ini atau kolesterol naik. Kolesterol kayaknya ya,“, tulis Joko Anwar dalam akun twitter-nya. Ia juga berkomentar, “Kadang orang bikin film dengan sungguh-sungguh, tapi hasilnya tetap bisa gagal. Tapi ini, bahkan nggak mencoba supaya bikin film dengan baik. Asal banget, asal dapat fee. Penonton film Indonesia udah mulai percaya sama kualitas film lokal. Janganlah dirusak“.

Pernyataan ini tentu menarik untuk dikaji karena statement tersebut diucapkan oleh seseorang pembuat film yang paham betul film Indonesia. Artikel ini mencoba menganalisa kelemahan film-film yang tayang sewaktu lebaran. Bukankah momen liburan, idealnya diisi film yang menghibur? Apakah bisa menghibur kalau filmnya tak berkualitas? Pertanyaan selanjutnya, yang lebih penting lagi, apakah film-film lebaran 2018 ini bisa dikatakan sebagai cerminan film Indonesia terkini?

Rasanya memang ada benarnya Joko Anwar menyebut film-film lebaran kali ini, “jelek banget”. Walaupun Joko tidak menyebutkan film yang ia tonton, namun setidaknya ia menonton dua film. Ini bukan persoalan dua atau lima film jelek, namun setidaknya pernyataan ini bisa menjadi bahan refleksi bagi sinema kita  ke depan. Faktanya, pernyataan ini juga didukung oleh beberapa kritikus film lokal yang menilai filmnya tak bagus atau memiliki skor rendah.

Baca Juga  Stephen King dan Kesuksesan Adaptasi Novelnya

Aspek apa yang sebenarnya paling dinilai lemah dalam film-film kita? Aspek yang paling krusial sebenarnya adalah aspek cerita. Untuk menikmati film, syarat utama paling tidak ceritanya harus menarik, unik, fresh, masuk akal (sesuai genrenya), bermotif kuat, serta memiliki alur cerita yang mampu membuat penonton merasakan ketegangan atau kejutan. Pada film-film lebaran kali ini, nampaknya syarat-syarat aspek cerita yang baik tersebut masih jauh.

Motif cerita sering kali menjadi persoalan yang menjadi kelemahan film kita. Tanpa motif cerita yang kuat, aksi dan konflik cerita yang mengalir pasti lemah pula. Dalam film, biasanya terlihat pada latar belakang konflik cerita yang lemah. Motif cerita juga berhubungan dengan sebab akibat atau hubungan kausalitas dalam sebuah cerita. Tanpa kausalitas yang kuat juga akan berimbas pada logika cerita yang kurang masuk akal. Persoalan logika atau nalar cerita, terkadang disebabkan pula oleh lubang plot yang kadang tidak diantisipasi oleh sang sineas. Maka terkadang penonton sering bertanya-tanya tentang satu adegan yang janggal atau tak wajar. Beberapa contoh kasus bisa dibaca dalam ulasan di website kami di kolom Review Film Indonesia yang mengulas film-film lebaran.

Sekuel memang menjadi formula ampuh untuk menggaet penonton, namun hal ini semestinya menjadi tantangan bagi sang sineas untuk membuat filmnya lebih baik. Pada film lebaran kali ini, ada dua film yakni  Jailangkung 2 dan Insya Allah Sah 2. Pembuat film cenderung menggunakan winning formula yang sama yang cenderung memaksakan cerita. Film Target misalnya, walau bukan sekuel, formulanya mirip dengan Hangout, hanya saja setting filmnya berbeda. Kebaruan formula cerita memang terkadang menjadi poin lebih dari para kritikus film. Cerita yang fresh ataupun baru, biasanya mendapat apresiasi lebih. Dari film-film lebaran yang rilis, tidak semuanya memiliki kualitas yang lemah. Seperti Kuntilanak, cerita filmnya tergolong fresh dengan menampilkan para pemainnya yang masih belia dan menghibur.

Sebagai kesimpulan, apakah film-film lebaran yang tayang kali ini, apa bisa dikatakan cerminan film lokal kita yang rata-rata masih jauh dari kualitas yang baik? Bisa ya, bisa pula tidak. Mengutip Joko Anwar yang mengatakan, “Penonton Indonesia sudah mulai percaya sama kualitas film lokal. Jangan dirusak”, hal ini menandakan bahwa beberapa film kita sudah mulai dipercaya penonton dan bisa membawa harapan baru bagi sinema kita.

Beberapa film kita, seperti Pengabdi Setan (2017) garapan Joko Anwar sendiri, memiliki kualitas yang sangat baik. Sejak rilis Ada Apa dengan Cinta? (2002), apa ada film roman remaja kita yang lebih baik dari ini? Faktanya, masih banyak film kita yang tidak mempertimbangkan kualitas dan hanya mengejar keuntungan semata. Ini sebenarnya yang dikritik Joko Anwar. Para pembuat film kita harus selalu melakukan refleksi. Sebenarnya, kualitas teknis filmkita sudah mapan dan matang, namun tanpa digarap aspek cerita yang kuat, sebuah film tetap saja tidak akan memiliki kualitas yang baik. Keduanya haruslah saling mendukung dan seimbang. Semoga film-film lebaran untuk ke depannya semakin berkualitas.

Artikel SebelumnyaUpdate Spin-off Spider-Man: Morbius
Artikel BerikutnyaAnt-Man and the Wasp
Agustinus Dwi Nugroho lahir di Temanggung pada 27 Agustus 1990. Ia menempuh pendidikan Program Studi Film sejak tahun 2008 di sebuah akademi komunikasi di Yogyakarta. Di sinilah, ia mulai mengenal lebih dalam soal film, baik dari sisi kajian maupun produksi. Semasa kuliah aktif dalam produksi film pendek baik dokumenter maupun fiksi. Ia juga lulus dengan predikat cum laude serta menjadi lulusan terbaik. Ia mulai masuk Komunitas Film Montase pada tahun 2008, yang kala itu masih fokus pada bidang apresiasi film melalui Buletin Montase, yang saat ini telah berganti menjadi website montasefilm.com. Sejak saat itu, ia mulai aktif menulis ulasan dan artikel film hingga kini. Setelah lulus, ia melanjutkan program sarjana di Jurusan Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jogja. Penelitian tugas akhirnya mengambil tema tentang Sinema Neorealisme dan membandingkan film produksi lokal yang bertema sejenis. Tahun 2017, Ia menyelesaikan studi magisternya di Program Pascasarjana Jurusan Pengkajian Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan minat utama film. Penelitian tesisnya terkait dengan kajian narasi dan plot sebuah film. Saat ini, ia tercatat sebagai salah satu staf pengajar di Program Studi Film dan Televisi, ISI Yogyakarta mengampu mata kuliah teori, sejarah, serta kajian film. Ia juga aktif memberikan pelatihan, kuliah umum, seminar di beberapa kampus, serta menjadi pemakalah dalam konferensi Internasional. Biodata lengkap bisa dilihat dalam situs montase.org. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Miftachul Arifin.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.