Film Stars Don’t Die in Liverpool merupakan film drama biografi arahan sineas asal Skotlandia, Paul McGuigan. Film ini diadaptasi dari memoir yang ditulis oleh Peter Turner yang mengisahkan kisah cintanya di masa mudanya dengan Gloria Grahame, seorang aktris tua Hollywod yang terserang kanker payudara di akhir hayatnya. Film ini diperankan secara menawan oleh aktor Inggris Jamie Bells dan aktris Hollywood kawakan, Annete Benning. Tulisan artikel ini tak mengulas soal cerita, pencapaian akting, setting, atau sisi romannya. Kisahnya yang menyentuh disuguhkan demikian dramatik melalui pemainan kilas-balik yang sangat menawan dengan gaya editingnya yang khas.

      Secara umum, kisahnya dibagi menjadi dua segmen besar, yakni masa kini (1981) dan masa lalu (1979). Dua segmen ini secara bergantian disuguhkan kepada penonton. Hal ini tentu sudah jamak dalam sebuah film, lantas apa yang istimewa? Dua segmen besar ini, memungkinkan sang editor untuk bereksplorasi dengan beragam teknik editing yang unik dan segar. Penonton awam, bisa jadi bakal dibuat bingung membedakan masa lalu dan masa depan karena kemasan teknik pada banyak adegannya. Film ini jelas memiliki struktur cerita linier, namun kadang disisipi segmen ”nonlinier” tak lazim yang membuat film ini terasa berbeda. Apa istimewanya?

     Pertama adalah transisi yang amat halus antara masa lalu dan kini dengan menggunakan teknik editing berupa graphic match. Nyaris sepanjang film, teknik ini digunakan dalam banyak variasi, baik menggunakan transisi cut maupun dissolves. Satu contoh sederhana adalah kontinuiti aksi antara adegan masa lalu dan masa depan, yakni shot A dari luar rumah terlihat Peter membuka pintu (masa lalu) dan shot B dari dalam rumah memperlihatkan ia masuk dan menutup pintu (masa kini). Contoh transisi lainnya adalah menggunakan teknik dissolves yang amat halus dengan kombinasi pergerakan kamera (panning) di ruangan yang berbeda lokasi dan waktu. Ketika Peter dan Gloria memadu cinta di ranjang (masa lalu) tampak kamera bergerak pan ke kiri ke arah pintu, dan tampak Peter masuk ke dalam kamar dan kamera kembali bergerak ke kanan memperlihatkan Gloria yang terbaring lemah di ranjang (masa kini). Teknik ini memang tak sepenuhnya baru dan beberapa kali digunakan juga dalam film lain, namun penggunaan teknik yang beragam serta intensif di setiap pergantian adegan membuat film ini terasa begitu sinematik. Sementara dari sisi naratif, seolah masa lalu dan masa kini menjadi tak berjarak.

     Kedua adalah satu segmen adegan menjelang akhir babak kedua yang berlokasi di New York, yakni ketika Peter dan Gloria bertengkar hebat hingga sang aktris mengusirnya dari apartemennya. Segmen ini disajikan amat brilian dengan teknik “loop” (berulang di ruang dan waktu yang sama) untuk memberikan efek dramatik yang luar biasa pada adegan ini. Segmen ini dibagi menjadi dua bagian, yakni sudut pandang Peter lalu berlanjut dengan sudut pandang Gloria. Dari sisi Peter, kita diperlihatkan bagaimana sosok Gloria tampak dingin dan begitu egois hingga mengusir kekasihnya. Penuturan dari sisi Gloria setelahnya, melalui penggunaan sudut kamera yang berbeda mampu memberikan efek dramatik demikian hebat. Kita tahu apa yang bakal terjadi (Peter diusir), namun ternyata di luar dugaan mampu memberikan kejutan yang membuat penonton berempati penuh dengan sosok Gloria. Teknik ini juga pernah dipakai dalam film lain, sebuah teknik sederhana yang bekerja sangat efektif dalam menyajikan adegannya.

Baca Juga  The Vanishing

     Ketiga adalah penggunaan teknik editing yang rasanya baru kali ini saya temui dalam film fiksi. Beberapa teknik editing diskontinuiti adalah jump cut, pelanggaran aksis aksi, nondiegetic insert, dan kali ini saya mengistilahkannya dengan editing nonlinier. Berbeda dengan struktur cerita nonlinier, teknik editing ini menggunakan sisipan shot berupa adegan yang dipotong dari adegannya sendiri melalui cara nonlinier. Beberapa kali teknik ini dipakai dalam film ini, namun yang paling mengesankan adalah segman kilas-balik menjelang Peter dan Gloria memadu kasih untuk kali pertama. Misalkan saja, satu segmen kecil ini dibagi menjadi A-B-C-D-E-F sementara adegannya dituturkan dengan urutan A-C-B-D-F-E. Contoh saja, transisi A ke C yang dipotong begitu kasar bahkan hingga suara musiknya pun ikut terpotong. Ini merupakan satu teknik editing brilian yang menggambarkan pula bahwa momen berkesan bagi mereka berdua ini, kini seolah hanya menjadi pecahan fragmen kecil yang terpotong-potong. Di ending, ketika Peter akan berpisah dengan Gloria pun menggunakan teknik yang sama, seolah menggambarkan jiwa dan hati sang pemuda yang teriris.

     Film Stars Don’t Die in Liverpool adalah merupakan sebuah biografi unik yang mampu menuturkan kisah sederhana yang dikemas dengan gaya sinematik yang segar melalui teknik editing. Pencapaian sinematik macam ini adalah terbilang langka untuk film di masa kini yang lebih memberatkan pada gemerlap efek visual. Film Stars Don’t Die in Liverpool adalah satu contoh sederhana bagaimana kemasan struktur film melalui teknik editing yang sederhana mampu memberi efek dramatik yang luar biasa bagi penonton sekaligus menyumbangkan sesuatu yang baru bagi seni film itu sendiri.

WATCH THE TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaSolo Bakal Flop
Artikel BerikutnyaGonjiam: Haunted Asylum
Himawan Pratista
Hobi menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari Jurusan Arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan ulasan film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar sebuah Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengampu mata kuliah Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga kini. Buku karya debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film secara naratif dan sinematik. Buku keduanya, Memahami Film - Edisi Kedua (2017) kini sudah terbit.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.